Tekanan Kebutuhan Likuiidtas Energi Ubah Pola Safe Haven Emas di Tengah Konflik Global

AKURAT.CO Harga emas global tidak selalu menguat saat konflik geopolitik meningkat. PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) mengungkap, tekanan kebutuhan likuiditas sektor energi justru dapat mendorong aksi jual emas oleh negara-negara produsen, sehingga harga berpotensi melemah.
Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX), Yazid Kanca Surya, menjelaskan bahwa dalam kondisi ketidakpastian global, kebutuhan pembiayaan energi menjadi faktor dominan yang memengaruhi harga emas.
“Energi bagi beberapa negara yang mempunyai pasokan emas tinggi, dia harus mempunyai likuiditas yang tinggi. Banyak emas dijual di market. Untuk apa? Untuk membeli energi,” ujar Yazid di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Baca Juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini 15 April 2026 Kembali Meroket, Cek Rinciannya!
Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan harga emas tidak selalu bergerak sesuai teori klasik sebagai aset safe haven. Dalam situasi tertentu, tekanan likuiditas justru memicu pelemahan harga.
“Harusnya emas naik dong, itu safe haven commodity. Tapi enggak (naik), itu turun. Kenapa? Karena yang diganggu energi,” katanya.
Data JFX menunjukkan kontribusi signifikan dari berbagai instrumen perdagangan. Pada 2025, nilai transaksi ekspor timah melalui JFX mencapai sekitar USD1,7 miliar dengan penguasaan lebih dari 95% pangsa pasar nasional. Sementara itu, kontrak olein (OLE01) menyumbang 38,7% atau setara 615.028 lot dari total volume Exchange Traded Derivatives (ETD).
Di sisi lain, kontrak Loco Gold mendominasi transaksi over-the-counter (OTC) dengan porsi 85,2 persen dari total volume perdagangan.
Secara historis, emas dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) yang cenderung menguat saat terjadi krisis, seperti pada periode krisis keuangan global 2008 maupun awal pandemi COVID-19 pada 2020. Namun, dinamika terbaru menunjukkan adanya pergeseran struktur pasar komoditas global.
Yazid menilai orientasi pelaku pasar kini tidak lagi semata pada harga termurah, melainkan pada kepastian pasokan, terutama di sektor energi. Ketergantungan tinggi terhadap energi di tengah konflik membuat negara harus menjaga likuiditas jangka pendek, termasuk dengan melepas cadangan emas.
Sejalan dengan itu, laporan World Gold Council (WGC) mencatat harga emas sempat terkoreksi sekitar 12 persen pada Maret 2026 sebelum kembali menunjukkan tren pemulihan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 4Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9Polemik Ijazah Gibran, Prabowo Disarankan Ambil Langkah Taktis Ini Demi Cegah Indonesia Rusuh Seperti Eropa
- 10MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri










