Akurat

Kesal Subsidi Energi Bengkak Imbas Impor BBM, Purbaya: Pertamina Malas-malasan Bangun Kilang

M. Rahman | 30 September 2025, 20:23 WIB
Kesal Subsidi Energi Bengkak Imbas Impor BBM, Purbaya: Pertamina Malas-malasan Bangun Kilang

AKURAT.CO Menkeu Purbaya menyebutkan penyebab subsidi energi terus naik dari tahun ke tahun adalah impor BBM termasuk solar dan diesel senilai puluhan miliar dolar AS per tahun. Impor ini terus berjalan puluhan tahun.

"Kita pernah bangun kilang baru enggak? Enggak pernah. Sejak krisis sampai sekarang enggak pernah bangun kilang baru," ujarnya di sela RDP dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Selasa (30/9/2025).

Purbaya kemudian menceritakan pengalamannya menekan Pertamina saat masih menjabat deputi di Kemenko Marves pada periode 2018-2020 sembari meminta anggota Komisi XI DPR meminta Danantara memerintahkan Pertamina untuk membangun kilang baru.

"Waktu saya di Maritim (Kemenko Marves), saya pernah tekan mereka tahun 2018 untuk bangun kilang. Mereka janji mereka akan bangun 7 kilang baru dalam waktu 5 tahun. Sampai sekarang kan enggak ada satu pun. Jadi bapak-bapak tolong kontrol mereka juga. Saya kontrol, bapak-bapak juga kontrol. Karena kita rugi besar, kita impor dari mana? Dari Singapura produk-produk minyaknya," papar Purbaya.

Baca Juga: Genjot Ketahanan Energi Nasional, Kilang Pertamina Operasikan 4 Tanki Baru di Balongan

Purbaya pun mewanti-wanti, perannya tak akan sebatas juru bayar atau bendahara negara saja, namun juga turut mengawasi pelaksanaan proyek yang diusulkan BUMN di nawah operator Danantarasaja. "Saya akan masuk (mengawasi). Kalau enggak jalam, kita potong uangnya pak. Saya kan pengawas. Ganti aja dirutnya. Artinya timbal balik," timpalnya.

Ditambahkan, Indonesia tak kunjung membangun kilang lagi bukan karena tak mampu, tapi karena Pertamina saja yang bermalas-malasan. Asal tahu, terakhir Indonesia membangun kilang yakni Kilang Balongan di Jawa Timur pada 1994.

"Saya pernah kasih tawaran ke mereka, kalau enggak bisa bikin, yaudahada investor dari Cina mau bangun kilang. Anda perlu beli selama 30 tahun. Setelah 30 tahun, Anda dapat kilangnya gratis. Pertamina bilang, 'kami keberatan dengan usaha tersebut, karena kami sudah over capacity'," cerita Purbaya.

Mendapati respons over capacity tersebut, Purbaya mengaku kaget. "Dari rencana 7 kilang baru, satu pun enggak jadi kan. Mereka bilang, iya, tapi ke depan akan jadi. Sampai sekarang enggak jadi. Yang ada malah beberapa dibakar kan," ketus Purbaya.

"Jadi, tolong dari parlemen juga mengontrol Pertamina untuk hal tersebut. Jadi kita kerja sama. Tujuan kita sama, mengurangi subsidi dan membuat subsidi yang ada pun lebih murah dan tepat sasaran," pinta Purbaya.

Di tahun 2017 an, sejumlah investor China dikabarkan tertarik membangun kilang di Indonesia. Honghua Group misalnya, dikabarkan berminat membangun kilang pengolahan minyak mentah mini di Kalimantan Utara berkapasitas 20 ribu barel per hari.

Sejatinya sejumlah investor swasta memang berminat menggarap proyek kilang, terutama setelah ada Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 35 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Pembangunan Kilang Minyak di Dalam Negeri Oleh Badan Usaha Swasta. "Ada beberapa pihak swasta yang ingin membangun kilang," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM kala itu, IGN Wiratmaja Puja.

 

Di era Presiden Prabowo saat ini, pemerintah sebetulnya telah merencanakan pembangunan kilang dan tangki penyimpanan minyak (oil storage) di berbagai wilayah. Tercatat, ada sebanyak 18 proyek kilang dan tangki minyak yang akan berdiri dari Aceh hingga Papua yang masuk dalam daftar prioritas hilirisasi dan ketahanan energi nasional dengan investasi mencapai Rp232 triliun.

Terdiri dari proyek kilang senilai Rp 160 triliun dengan serapan tenaga kerja sebanyak 44.000 tenaga kerja, dan proyek tangki minyak senilai Rp 72 triliun dengan serapan tenaga kerja 6.960.

Proyek ini akan tersebar di 18 wilayah. Seperti Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung (Bali), Bima, Ende, Makassar, Dongala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara, Fakfak. Adapun, proyek ini akan diserahkan kepada Danantara.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa