Tarif Mobil Ancam Industri Jepang, Negosiator Dorong Solusi Komprehensif dengan AS

AKURAT.CO Ancaman tarif tinggi dari Amerika Serikat terhadap produk mobil, baja, dan aluminium Jepang membuat Tokyo semakin tegas dalam menyuarakan perlunya solusi komprehensif dalam negosiasi dagang bilateral.
Negosiator utama Jepang, Ryosei Akazawa menekankan pentingnya kesepakatan yang tidak hanya fokus pada tarif, tetapi juga menyentuh isu non-tarif dan kolaborasi ekonomi strategis.
“Kami menekankan perlunya pembahasan menyeluruh, bukan hanya soal tarif mobil. Ini tentang keseimbangan perdagangan dan kepentingan jangka panjang kedua negara,” kata Akazawa setelah pertemuan dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan perwakilan dagang lainnya di Washington dikutip dari laman reuters.
Baca Juga: Tarif Trump Buka Peluang Ekspor RI ke BRICS dan TPP
Dalam laporan yang dirilis media Jepang, AS mengusulkan tetap mempertahankan tarif 25% atas ekspor mobil Jepang. Jepang menolaknya, dan sebagai gantinya menawarkan peningkatan impor produk pertanian AS serta reformasi hambatan non-tarif.
Sektor otomotif menjadi titik tekan utama karena melibatkan sekitar 8% dari total tenaga kerja di Jepang. Data ekspor tahun lalu mencatat bahwa mobil dan suku cadangnya menyumbang lebih dari 33% ekspor Jepang ke AS menjadikannya sektor paling rentan terkena dampak langsung kebijakan dagang Trump.
“Industri otomotif adalah tulang punggung ekonomi kami. Jika tarif diterapkan secara luas, maka dampaknya bisa sangat serius bagi tenaga kerja dan ekspor nasional,” tegas Akazawa.
Ia juga menyatakan bahwa Jepang akan terus mencari solusi damai, namun tidak akan mengorbankan kepentingan nasional hanya demi percepatan kesepakatan.
Baca Juga: Tarif Trump Jadi Momen Pengusaha Untuk Berinovasi
Jepang dan AS dijadwalkan melanjutkan perundingan pada pertengahan Mei. Akazawa berharap bahwa Presiden Trump dan PM Shigeru Ishiba dapat mencapai kesepakatan pada pertemuan KTT G7 mendatang di Kanada.
Kesepakatan ini tidak hanya penting bagi hubungan bilateral, tetapi juga akan menjadi contoh bagaimana negara mitra AS menghadapi strategi dagang agresif Washington dalam upaya mengurangi defisit perdagangannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 2KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 3Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 4Pindar UKU Salurkan Rp687,18 Miliar dengan Pinjaman Macet Hanya 2,48 Persen, Jaga Keseimbangan Pertumbuhan dan Risiko
- 5Prediksi Skor Porto vs Napoli 5 November 2026: Tuan Rumah Berpeluang Menang
- 6Prediksi Skor Dortmund vs Betis 5 November 2026: Mampukah Die Borussen Hentikan Rekor Sempurna Tim Tamu?
- 7Masuki Usia 8 Tahun, Pindar UKU Bidik Pertumbuhan Lewat Penguatan Kolaborasi dengan Lembaga Keuangan
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar









