Akurat

Kebijakan Trump Adalah Bom Waktu Inflasi AS

Demi Ermansyah | 20 Februari 2025, 19:03 WIB
Kebijakan Trump Adalah Bom Waktu Inflasi AS

AKURAT.CO Kebijakan awal Presiden Donald Trump membuat bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), mulai waspada. Dimana mereka khawatir kebijakan perdagangan dan tarif impor yang diterapkan Trump bakal memicu lonjakan inflasi.  

Dalam hasil rapat The Fed yang digelar pada 28-29 Januari dan dirilis Rabu (19/2.2025) lalu, para otoritas bank sentral tersebut menyoroti risiko kenaikan inflasi yang lebih besar dibandingkan dengan dampaknya terhadap pasar tenaga kerja.  

Alasan utamanya? Perusahaan-perusahaan di AS sudah mulai bersiap menaikkan harga produk mereka. Biaya produksi yang naik akibat tarif impor menjadi alasan utama dibalik rencana ini. Jika harga-harga naik, daya beli masyarakat bisa tertekan, dan inflasi pun bisa meroket.  

Dikutip dari Reuters, Kamis (20/2/2025), bukan hanya tarif impor yang jadi perhatian. Para pejabat The Fed juga mencermati kebijakan imigrasi Trump yang bisa berdampak pada pasar tenaga kerja dan rantai pasokan. Jika akses tenaga kerja semakin ketat, biaya produksi pun bisa meningkat.
 
Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Tunggu Kepastian Kebijakan Trump  

Selain itu, belanja rumah tangga yang lebih tinggi dari perkiraan juga bisa mempercepat laju inflasi. Dengan banyaknya faktor ini, The Fed melihat adanya risiko yang tidak bisa dianggap remeh.  

Meski begitu, mereka masih berharap tekanan harga bisa mereda dalam beberapa bulan ke depan. Tapi, ada faktor lain yang bisa menghambat penurunan inflasi. Salah satunya, perusahaan-perusahaan yang mulai meneruskan kenaikan biaya produksi kepada konsumen.  
 
Menurut Presiden The Fed Bank of Atlanta, Raphael Bostic, dunia usaha memang ingin menaikkan harga, tapi mereka masih ragu bagaimana reaksi konsumen. Tarif impor jelas menambah beban biaya, meskipun deregulasi di beberapa sektor mungkin bisa membantu menekan harga.  

"Saya sebelumnya memperkirakan 2025 akan menjadi tahun yang stabil, dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat, inflasi menuju target 2 persen, dan pasar tenaga kerja tetap solid," kata Bostic.  

Namun, lanjut Bostic, dengan semua kebijakan baru ini, tingkat kepastian kami menurun. Pihaknya harus menunggu dan melihat bagaimana semuanya berkembang.

Dengan kondisi ini, The Fed kemungkinan akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan ke depan. Jika inflasi terus naik, mereka mungkin harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari yang diperkirakan.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.