Akurat

Inflasi Tokyo dan Dampaknya ke Perekonomian Jepang

Demi Ermansyah | 29 November 2024, 14:35 WIB
Inflasi Tokyo dan Dampaknya ke Perekonomian Jepang

AKURAT.CO Inflasi di Tokyo kembali mencatatkan kenaikan pada November, mencapai 2,2% dibandingkan tahun lalu, setelah sebelumnya berada di angka 1,8%. Lonjakan ini terutama disebabkan oleh kebijakan pemerintah Jepang yang memangkas subsidi energi mulai bulan ini.

Pengurangan subsidi tersebut secara langsung meningkatkan harga listrik dan bahan bakar, sementara harga pangan juga mencatat kenaikan, menjadikan inflasi keseluruhan berada di angka 2,6%.

Dampaknya sangat terasa bagi masyarakat Tokyo, terutama kalangan rumah tangga dengan pendapatan menengah ke bawah.

Menanggapi hal tersebut seorang ibu rumah tangga, Haruko Tanaka menyatakan bahwa dirinya sudah mencoba menghemat energi sejak subsidi dikurangi. "Namun sayangnya tagihan tetap melonjak. Ditambah lagi, harga bahan makanan juga ikut naik," ucapnya melalui lansiran Bloomberg, Jumat (29/11/2024).

Situasi ini memaksa banyak keluarga untuk menyesuaikan gaya hidup mereka, termasuk memotong pengeluaran untuk kebutuhan non-pokok.

Baca Juga: Ingin Gelontorkan Stimulus, PM Jepang Hadapi Tantangan Politik

Bagi Bank of Japan (BoJ), data ini menjadi salah satu indikator penting menjelang pertemuan kebijakan suku bunga pada 19 Desember mendatang. BOJ selama ini menargetkan inflasi di angka 2%, tetapi kenaikan yang terjadi menambah tekanan pada bank sentral untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga guna mengendalikan momentum inflasi.

Menurut Gubernur BoJ, Kazuo Ueda, mengatakan bahwa keputusan tersebut akan sangat bergantung pada kinerja ekonomi secara keseluruhan. Menariknya, Perdana Menteri baru Jepang, Shigeru Ishiba, mengumumkan bahwa subsidi energi akan diperkenalkan kembali mulai Januari.

Keputusan ini bertujuan untuk meredakan tekanan inflasi dan membantu masyarakat menghadapi biaya hidup yang meningkat. Meski demikian, para ekonom mengingatkan bahwa dampak kebijakan ini baru akan terasa beberapa bulan setelah implementasi.

Di sisi lain, inflasi yang terus naik selama lebih dari 30 bulan juga menimbulkan tantangan besar bagi daya beli masyarakat Jepang. Meskipun ada tanda-tanda pemulihan ekonomi dari data PDB dan produksi industri, kondisi konsumsi masyarakat masih menjadi kunci keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Jepang.

Untuk itu, pemerintah dihadapkan pada dilema antara menjaga momentum inflasi agar tetap terkendali atau melonggarkan kebijakan fiskal demi membantu masyarakat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.