Akurat Logo

Rayakan Hari Kebesaran Dua Dewa-Dewi, Kelenteng Tian Fu Gong PIK Tanamkan Nilai Kebijaksanaan dan Kebenaran

Saeful Anwar | 18 Oktober 2026, 07:50 WIB
Rayakan Hari Kebesaran Dua Dewa-Dewi, Kelenteng Tian Fu Gong PIK Tanamkan Nilai Kebijaksanaan dan Kebenaran
Kelenteng Tian Fu Gong di kawasan Riverwalk Island, PIK, menggelar perayaan hari kebesaran Dewa Er Lang Shen dan Dewi Jiu Tian Xuan Nu, Sabtu (17/10/2026).

AKURAT.CO Kelenteng Tian Fu Gong di kawasan Riverwalk Island, Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta, menggelar perayaan hari kebesaran Dewa Er Lang Shen dan Dewi Jiu Tian Xuan Nu pada Sabtu (17/10/2026).

Perayaan tersebut tidak hanya menjadi momentum bagi umat Tridharma untuk menjalankan ibadah, tetapi juga sarana memperkenalkan nilai-nilai luhur dalam tradisi dan kebudayaan Tionghoa kepada masyarakat.

Ketua Umum Yayasan Sanggar Sinar Suci, Soegiandi, menjelaskan, kedua dewa-dewi tersebut memiliki keteladanan yang berbeda, tetapi saling melengkapi dalam kehidupan manusia.

Dewa Er Lang Shen dikenal sebagai sosok yang melambangkan penegakan kebenaran, sedangkan Dewi Jiu Tian Xuan Nu merupakan simbol kebijaksanaan dalam tradisi spiritual Tionghoa.

“Kita mempunyai acara perayaan untuk dua dewa-dewi. Satu adalah Dewa Er Lang Shen, yang dikenal umat Tridharma sebagai penegak kebenaran. Kemudian ada Dewi Jiu Tian Xuan Nu yang dikenal sebagai Dewi Kebijaksanaan,” ujar Soegiandi.

Menurut dia, sosok Dewi Jiu Tian Xuan Nu memiliki kedudukan penting dalam kisah peradaban Tiongkok kuno.

Dewi tersebut dipercaya menjadi guru Kaisar Huang Di yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan peradaban Tiongkok.

Kisah tersebut menjadi bagian dari pembelajaran moral yang ingin diperkenalkan kepada umat, khususnya mengenai pentingnya kebijaksanaan dalam mengambil keputusan dan menjalani kehidupan.

Soegiandi mengatakan, Kelenteng Tian Fu Gong secara rutin menyelenggarakan perayaan untuk menghormati 12 dewa-dewi yang masing-masing memiliki nilai keteladanan.

“Dua belas dewa-dewi ini sebenarnya melambangkan simbol keteladanan bagi manusia. Apa yang harus dilakukan dan apa yang patut diteladani dari sikap serta karakter luhur para leluhur kita,” jelasnya.

Dalam perayaan kali ini, pengelola kelenteng juga menghadirkan kegiatan pengenalan ajaran Tao, hiburan, serta makan bersama yang melibatkan umat dan masyarakat sekitar.

Makanan yang disediakan dipastikan halal agar dapat dinikmati oleh pengunjung dari berbagai latar belakang agama dan budaya.

Menurut Soegiandi, langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen pengelola menjadikan kelenteng sebagai ruang yang terbuka sekaligus memperkuat hubungan harmonis dengan lingkungan sekitar.

“Kita ingin menunjukkan kebersamaan dan keberagaman dalam hidup bermasyarakat di Indonesia. Makanannya pun halal supaya bisa dinikmati oleh semua kalangan,” katanya.

Baca Juga: Wacana Pemakzulan Gibran Menguat, Putusan MK Kembali Jadi Sorotan

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.