Akurat Logo

Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp18.230 per USD, Ini Pemicunya

Esha Tri Wahyuni | 29 Oktober 2026, 07:30 WIB
Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp18.230 per USD, Ini Pemicunya
Ilustrasi Mata Uang Rupiah

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan berikutnya.

Tekanan terhadap mata uang Garuda datang dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, kekhawatiran terhadap pasokan minyak global, serta sentimen investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi memperkirakan, rupiah bergerak di kisaran Rp18.180 hingga Rp18.230 per USD pada perdagangan berikutnya. Sementara itu, untuk perdagangan dalam sepekan, rupiah diproyeksikan bergerak pada rentang Rp17.900 hingga Rp18.250 per USD.

Baca Juga: Rupiah Tertekan Dolar AS, Risiko Kenaikan Harga BBM Mengintai

Pada perdagangan Rabu (28/10/2026), rupiah ditutup melemah 28 poin ke level Rp18.184 per USD. Sebelumnya, rupiah ditutup pada posisi Rp18.156 per USD. Dalam perdagangan tersebut, rupiah sempat melemah hingga 30 poin.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif, tetapi ditutup melemah di rentang Rp18.180 hingga Rp18.230. Sedangkan dalam perdagangan minggu ini, rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp17.900 hingga Rp18.250,” ujar Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (28/10/2026).

Dari eksternal, perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati pasar. Ketegangan meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman, yang bersekutu dengan Iran, mengklaim telah menyerang fasilitas pengolahan minyak di Arab Saudi.

Sebelumnya, serangan juga dilaporkan menyasar stasiun pemompaan pada jalur pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi. Jalur tersebut menjadi salah satu alternatif untuk mengalirkan minyak mentah tanpa melewati Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia.

Gangguan terhadap infrastruktur energi dan jalur distribusi minyak berpotensi meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan global. Jika harga minyak bertahan tinggi, tekanan inflasi di berbagai negara dapat meningkat dan memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral.

Baca Juga: Rupiah Tertekan Harga Minyak, Defisit APBN Diprediksi Melebar

Pelaku pasar juga mencermati keputusan kebijakan Federal Reserve (The Fed) AS. Arah suku bunga bank sentral tersebut menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan arus modal global, termasuk ke negara berkembang.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.