Rupiah Melemah 7,44 Persen, BI Andalkan Intervensi dan LCT

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) tidak hanya mengandalkan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas rupiah yang tengah tertekan oleh gejolak global.
Di tengah pelemahan nilai tukar dan meningkatnya ketidakpastian akibat konflik Timur Tengah, bank sentral juga mempercepat penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi lintas negara sebagai strategi jangka panjang mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan, pelemahan rupiah saat ini masih dipengaruhi eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang menghambat prospek perdamaian global.
Baca Juga: Bank Indonesia Siapkan Tujuh Langkah untuk Perkuat Rupiah
Kondisi tersebut membuat harga minyak dunia bertahan di level tinggi, meningkatkan risiko inflasi global, sekaligus memicu keluarnya aliran modal dari negara-negara berkembang.
"Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya," kata Destry dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kebutuhan domestik yang meningkat, terutama terkait pola repatriasi dividen perusahaan dan pembayaran utang luar negeri (ULN) korporasi.
Hingga saat ini, BI mencatat nilai tukar rupiah secara year-to-date (YTD) melemah sekitar 7,44%. Namun demikian, pelemahan tersebut dinilai masih sejalan dengan mata uang negara-negara emerging market lainnya yang turut terdampak penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global.
Untuk meredam volatilitas, BI terus menjalankan strategi triple intervention melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Bank sentral juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang lebih pro-pasar guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik di mata investor global.
Baca Juga: Usut Tuntas Korupsi CSR, KPK Periksa Dua Pejabat Bank Indonesia
Namun di luar langkah stabilisasi jangka pendek tersebut, terdapat perkembangan yang menarik. BI mencatat peningkatan signifikan penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT), yakni mekanisme perdagangan dan investasi bilateral menggunakan mata uang masing-masing negara tanpa melalui dolar AS.
Destry mengungkapkan nilai transaksi LCT pada April 2026 telah mencapai sekitar USD22,7 miliar. Angka tersebut hampir menyamai total transaksi sepanjang tahun 2025 yang tercatat sekitar USD25,7 miliar.
"Kami terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar," ujarnya.
Saat ini Indonesia telah memiliki kerja sama LCT dengan sejumlah mitra dagang utama, yakni Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Peningkatan transaksi LCT menjadi sinyal bahwa pelaku usaha mulai memanfaatkan alternatif pembayaran lintas negara yang lebih efisien dan relatif terlindungi dari gejolak dolar AS.
Di tengah ketidakpastian global yang semakin tinggi, tren ini dinilai dapat membantu mengurangi tekanan permintaan valas di pasar domestik.
Penguatan kerja sama mata uang lokal menjadi salah satu agenda strategis BI sejak beberapa tahun terakhir. Kebijakan ini semakin relevan setelah pandemi COVID-19, ketika volatilitas pasar keuangan global meningkat dan negara-negara berkembang menghadapi risiko arus modal keluar yang lebih besar.
Di sisi lain, fundamental eksternal Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Cadangan devisa nasional tercatat sebesar USD146,2 miliar pada akhir April 2026.
Posisi tersebut dinilai cukup kuat untuk mendukung stabilitas sektor eksternal, menjaga kepercayaan pasar, serta memenuhi kebutuhan pembiayaan impor dan pembayaran kewajiban luar negeri pemerintah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 8Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini








