Akurat Logo

Pembiayaan BRI Finance Tumbuh 99,2 Persen, Perusahaan Perluas Kontribusi Sosial dan Lingkungan

Idham Nur Indrajaya | 28 Oktober 2026, 19:57 WIB
Pembiayaan BRI Finance Tumbuh 99,2 Persen, Perusahaan Perluas Kontribusi Sosial dan Lingkungan
Pembiayaan BRI Finance tumbuh 99,2% per September 2026. Perusahaan memperluas kontribusi sosial lewat program pengelolaan sampah. - dok. BRI Finance

AKURAT.CO Pertumbuhan pembiayaan BRI Finance mencapai 99,2% secara tahunan atau year-on-year (YoY) per September 2026. Di tengah perkembangan bisnis tersebut, PT BRI Multifinance Indonesia atau BRI Finance juga memperluas kontribusi sosial dan lingkungannya melalui program pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Jakarta.

Program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) tersebut dijalankan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta di RW 06, Kelurahan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Dukungan yang diberikan meliputi sarana pengolahan sampah, edukasi pemilahan sampah, serta pelatihan bagi anak-anak dan pemuda setempat.

Langkah ini memperlihatkan dua aspek yang berjalan beriringan dalam aktivitas perusahaan, yakni perkembangan penyaluran pembiayaan dan kontribusi kepada masyarakat. Meski demikian, pertumbuhan pembiayaan dan pelaksanaan program TJSL merupakan dua indikator berbeda yang perlu dilihat berdasarkan capaian masing-masing.

Pembiayaan BRI Finance Tumbuh 99,2% per September 2026

Pertumbuhan pembiayaan sebesar 99,2% YoY menjadi salah satu indikator perkembangan bisnis BRI Finance hingga September 2026. Angka tersebut menunjukkan peningkatan penyaluran pembiayaan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Namun, persentase pertumbuhan tersebut belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan kondisi keuangan perusahaan. Informasi mengenai nilai nominal pembiayaan, laba, kualitas aset, maupun tingkat pembiayaan bermasalah diperlukan untuk menilai kinerja perusahaan secara lebih menyeluruh.

Di sisi lain, BRI Finance juga menunjukkan perhatian terhadap aspek lingkungan melalui program yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung. Perusahaan menggandeng DLH DKI Jakarta untuk mendukung pengelolaan sampah dari sumbernya, terutama di lingkungan permukiman.

Baca Juga: BRI Finance Perkuat Akses Pendanaan Berbiaya Murah lewat Joint Financing dengan Induk Perusahaan, Ini Manfaatnya

Baca Juga: Kurangi Beban TPST Bantargebang, Pramono Perlu Cari Alternatif Pengolahan Sampah

Direktur Utama BRI Finance, Ignatius Susatyo Wijoyo atau Satyo, menyebut tanggung jawab sosial sebagai bagian penting dari aktivitas perusahaan. Ia menilai kontribusi kepada masyarakat tidak harus selalu dimulai melalui program berskala besar, tetapi dapat dilakukan lewat langkah konkret yang manfaatnya dirasakan langsung.

“Bagi kami di BRI Finance, CSR adalah tanggung jawab moral dan investasi masa depan. Kami memahami tantangan di lapangan, termasuk kebutuhan petugas akan alat kerja yang lebih baik agar proses pengangkutan sampah bisa lebih cepat dan aman. Oleh karena itu, bantuan ini kami hadirkan sebagai solusi konkret untuk mendukung langsung kebutuhan di lapangan,” ujar Satyo dalam seremoni di Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.

Pernyataan tersebut menempatkan program pengelolaan sampah sebagai salah satu bentuk kontribusi perusahaan terhadap persoalan lingkungan. Keberhasilan pelaksanaannya tetap bergantung pada pemanfaatan bantuan, partisipasi warga, dan keberlanjutan kegiatan setelah penyerahan sarana.

BRI Finance Dukung Pengelolaan Sampah dari Sumber

Program TJSL BRI Finance bersama DLH DKI Jakarta menyasar warga di empat RT di RW 06, Srengseng Sawah, yakni RT 02, RT 03, RT 06, dan RT 11. Kegiatan tersebut mencakup edukasi pemilahan sampah serta pelatihan pengelolaan sampah bagi anak-anak dan pemuda dengan target sekitar 50 peserta.

Edukasi pemilahan menjadi bagian penting karena pengelolaan sampah tidak cukup dilakukan hanya ketika sampah sudah terkumpul. Pemisahan sejak rumah tangga dapat membantu mengarahkan sampah organik dan anorganik ke proses pengolahan yang sesuai.

Untuk mendukung kegiatan di lapangan, BRI Finance memberikan sejumlah sarana pengelolaan sampah. Bantuan tersebut terdiri atas tujuh tong kompos berkapasitas 200 liter, 11 tong biru berkapasitas 60 liter, dan lima tong sampah berkapasitas 120 liter.

Perusahaan juga memberikan satu mesin pengayak kompos rotary dengan kapasitas 100–150 kilogram per jam serta satu paket pelatihan bagi anak-anak dan pemuda. Mesin tersebut dapat mendukung proses pengayakan kompos, tetapi kapasitas alat tidak serta-merta menunjukkan jumlah sampah yang benar-benar telah diolah.

Satyo berharap sarana yang diberikan dapat membantu petugas sekaligus membangun kebiasaan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga.

“Kami berharap sarana ini dapat mempermudah dan mempercepat kerja petugas, sekaligus mendorong kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah,” lanjutnya.

Harapan tersebut menunjukkan bahwa bantuan fisik bukan satu-satunya sasaran program. Perubahan kebiasaan warga juga diperlukan agar sampah yang sudah dipilah tidak kembali tercampur saat dikumpulkan dan diangkut.

Mengapa Pengelolaan Sampah Jakarta Perlu Dimulai dari Hulu?

Persoalan sampah perkotaan tidak hanya berkaitan dengan kapasitas tempat pemrosesan akhir, tetapi juga dengan cara masyarakat menghasilkan, memilah, dan membuang sampah. Semakin banyak sampah yang dapat dimanfaatkan atau diolah sejak dari sumbernya, semakin besar peluang untuk mengurangi bagian yang harus dibawa ke tempat pemrosesan akhir.

Wakil Kepala DLH DKI Jakarta, Purwanti Suryandari, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan tanggung jawab dari setiap wilayah. Pendekatan tersebut mendorong warga untuk ikut menangani sampah yang dihasilkan di lingkungan mereka sendiri.

“Harapannya, setiap wilayah memiliki tanggung jawab terhadap lingkungannya sendiri,” kata Purwanti.

Ia juga menekankan pentingnya pengolahan sampah di tingkat sumber sebelum residu dikirim ke fasilitas berikutnya.

“Sampah yang dihasilkan di wilayah tersebut sebisa mungkin diolah di tempat, sehingga yang dikirim keluar wilayah hanya sampah residu,” ujarnya.

Dalam praktiknya, sampah organik seperti sisa makanan dapat diarahkan untuk diolah menjadi kompos apabila tersedia sarana dan pengelolaan yang memadai. Sementara itu, sampah anorganik yang masih memiliki nilai guna dapat dipilah untuk didaur ulang melalui jalur pengumpulan yang sesuai.

Pendekatan ini relevan dengan upaya Jakarta mengurangi beban pengangkutan sampah menuju Bantargebang. Meski demikian, program di RW 06 Srengseng Sawah belum dapat dinyatakan telah menurunkan volume sampah yang dikirim ke Bantargebang tanpa data hasil pengukuran sebelum dan sesudah pelaksanaannya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.