Akurat Logo

Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Pembiayaan Produktif Tumbuh 17,2 Persen

Idham Nur Indrajaya | 27 Oktober 2026, 18:28 WIB
Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Pembiayaan Produktif Tumbuh 17,2 Persen
Kredit BCA September 2026 mencapai Rp1.063 triliun. Kredit produktif tumbuh 17,2%, ditopang korporasi, komersial, dan UKM. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Di tengah kebutuhan dunia usaha untuk memperluas bisnis dan menjaga arus kas, pertumbuhan kredit perbankan menjadi salah satu indikator yang layak diperhatikan. Namun, besarnya pinjaman yang disalurkan belum cukup untuk menggambarkan arah pembiayaan ekonomi. Sektor penerima kredit, kemampuan bank menghimpun dana, dan kualitas pembayaran debitur juga perlu dicermati.

Kinerja kredit BCA September 2026 menunjukkan ekspansi yang cukup kuat. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan entitas anak mencatat total kredit Rp1.063 triliun, tumbuh 12,6% secara tahunan atau year-on-year (YoY). Kredit produktif bahkan meningkat lebih cepat, yakni 17,2% menjadi Rp831 triliun.

Pertumbuhan tersebut terutama terlihat pada pembiayaan korporasi dan UKM. Pada saat yang sama, BCA melaporkan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp1.301 triliun, sedangkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada di level 1,8%.

Angka-angka ini memberikan gambaran mengenai ekspansi pembiayaan BCA sekaligus membuka pertanyaan tentang komposisi pertumbuhan kredit, dukungan pendanaan, dan kemampuan bank menjaga risiko di tengah peningkatan penyaluran pinjaman.

Baca Juga: Cara Top Up E-Wallet Lewat myBCA, Cepat dan Praktis Tanpa Ribet

Baca Juga: Akses Kredit Produktif Bisa Memperkuat Posisi Tawar Perempuan dalam Rumah Tangga

Berapa Kredit BCA per September 2026?

Kredit BCA dan entitas anak mencapai Rp1.063 triliun per September 2026, meningkat 12,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari total tersebut, kredit produktif mencapai Rp831 triliun dengan pertumbuhan tahunan 17,2%.

Berdasarkan data yang disampaikan BCA, kredit produktif mencakup pembiayaan korporasi, komersial, dan usaha kecil menengah (UKM). Ketiga segmen ini menjadi bagian penting dari penyaluran dana bank kepada dunia usaha.

Ada dua angka yang perlu dibaca secara bersamaan:

  • Total kredit: Rp1.063 triliun, tumbuh 12,6% YoY.

  • Kredit produktif: Rp831 triliun, tumbuh 17,2% YoY.

Perhitungan sederhana menunjukkan bahwa kredit produktif setara sekitar 78,2% dari total kredit BCA. Angka ini diperoleh dengan membagi Rp831 triliun dengan Rp1.063 triliun.

Artinya, sebagian besar portofolio kredit yang dilaporkan BCA berada dalam kategori produktif. Namun, persentase tersebut merupakan hasil perhitungan berdasarkan angka yang tersedia, bukan rasio resmi yang dikutip langsung dari perseroan.

Perbedaan laju pertumbuhan juga menarik. Kredit produktif tumbuh 4,6 poin persentase lebih cepat daripada total kredit. Kondisi ini menunjukkan bahwa ekspansi pembiayaan produktif berlangsung lebih kencang dibandingkan pertumbuhan keseluruhan portofolio kredit BCA.

Mengapa Kredit Produktif BCA Tumbuh Lebih Cepat?

Pertumbuhan kredit produktif menjadi salah satu sorotan karena pembiayaan tersebut berkaitan dengan kebutuhan usaha, mulai dari modal kerja hingga pengembangan kapasitas bisnis.

Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan perseroan tetap menyalurkan kredit ke berbagai sektor dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas.

“BCA berkomitmen menyalurkan kredit ke beragam sektor untuk mendukung perekonomian nasional, dengan senantiasa mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perseroan,” kata Hendra dalam konferensi pers paparan kinerja BCA kuartal III-2026 yang diselenggarakan secara virtual, Selasa, 27 Oktober 2026.

Ia menjelaskan bahwa pembiayaan produktif BCA mencapai Rp831 triliun pada September 2026, dengan pertumbuhan 17,2% secara tahunan.

Pernyataan tersebut menegaskan dua aspek dalam strategi penyaluran kredit BCA, yakni mendukung kebutuhan pembiayaan berbagai sektor dan tetap memperhatikan risiko serta ketersediaan pendanaan.

Meski demikian, pertumbuhan kredit produktif tidak otomatis membuktikan peningkatan produktivitas seluruh sektor usaha. Dampaknya bergantung pada penggunaan dana, kondisi pasar, kemampuan debitur mengembangkan bisnis, dan keberhasilan usaha menghasilkan arus kas untuk membayar pinjaman.

Karena itu, angka pertumbuhan kredit perlu dipahami sebagai indikator aktivitas pembiayaan, bukan sebagai bukti tunggal keberhasilan ekonomi.

Kredit Korporasi BCA Tumbuh 20,9%, Bagaimana dengan UKM?

Pembiayaan produktif BCA tersebar pada tiga segmen utama dengan nominal dan laju pertumbuhan yang berbeda.

Segmen kredit

Nilai September 2026

Pertumbuhan YoY

Korporasi

Rp528,1 triliun

20,9%

Komersial

Rp154,1 triliun

7,8%

UKM

Rp149,2 triliun

15,4%

Kredit korporasi menjadi segmen dengan nilai pembiayaan terbesar sekaligus mencatat pertumbuhan persentase tertinggi di antara ketiga segmen tersebut. Nilainya mencapai Rp528,1 triliun atau tumbuh 20,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, kredit UKM mencapai Rp149,2 triliun dengan pertumbuhan 15,4% YoY. Laju ini lebih tinggi daripada pertumbuhan kredit komersial yang mencapai 7,8%.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa ekspansi kredit BCA tidak berlangsung merata pada seluruh segmen. Pembiayaan korporasi tumbuh paling cepat, tetapi kredit UKM juga menunjukkan pertumbuhan dua digit.

Dari sudut pandang ekonomi, pembiayaan korporasi dan UKM memiliki karakteristik berbeda. Perusahaan besar dapat membutuhkan dana untuk investasi, ekspansi fasilitas produksi, atau kebutuhan modal kerja berskala besar. Sementara itu, UKM bisa menggunakan pinjaman untuk menambah persediaan, membeli peralatan, memperluas tempat usaha, atau memenuhi pesanan pelanggan.

Namun, penggunaan dana tersebut merupakan contoh kebutuhan yang lazim ditemui dalam kegiatan bisnis, bukan rincian aktual penggunaan kredit BCA pada periode tersebut.

Perbedaan skala pinjaman juga perlu diperhatikan. Nominal kredit korporasi yang jauh lebih besar tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa dampak ekonominya selalu lebih tinggi daripada pembiayaan UKM. Penilaian tersebut membutuhkan informasi tambahan mengenai jumlah debitur, sektor penerima kredit, penyerapan tenaga kerja, dan hasil penggunaan dana.

Dengan demikian, pertumbuhan kredit UKM sebesar 15,4% tetap layak dicermati karena menunjukkan peningkatan pembiayaan pada segmen usaha yang berbeda karakteristiknya dari korporasi besar.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.