Harga Minyak Tembus USD115 per Barel, IHSG dan Rupiah Kian Tertekan

AKURAT.CO Tekanan di pasar keuangan Indonesia kian terasa menjelang akhir Oktober 2026. Lonjakan harga minyak dunia, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta minimnya katalis positif dari dalam negeri membuat investor cenderung mengurangi risiko di tengah ketidakpastian pasar global.
Harga minyak mentah Brent yang bertahan di atas USD110 per barel, bahkan menyentuh kisaran USD115 per barel dalam perkembangan pasar terbaru, kembali memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi dan ketahanan pertumbuhan ekonomi dunia. Situasi ini turut membayangi pergerakan pasar saham, nilai tukar rupiah, hingga pasar obligasi pemerintah.
Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan koreksi setelah sebelumnya sempat mencatatkan penguatan selama empat hari perdagangan. Dalam sesi penutupan perdagangan Senin (26/10/2026), IHSG turun 1,22% atau 66,164 poin ke level 5.373,09.
Baca Juga: IHSG Tanpa Saham HSC Mulai Meluncur pada 2 November 2026
Tekanan jual meluas ke berbagai sektor seiring meningkatnya sentimen risk-off, yakni kondisi ketika investor cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut membebani indeks. Saham BBCA melemah 1,69%, BYAN turun 3,49%, MORA terkoreksi 6,79%, MDKA merosot 5,94%, dan DSSA turun 4,52%.
Tekanan tersebut mencerminkan sikap investor yang semakin berhati-hati menghadapi kombinasi risiko eksternal dan domestik. Selain dinamika geopolitik, pelaku pasar juga mencermati perkembangan reformasi pasar modal Indonesia serta implikasinya terhadap kepercayaan investor.
Konflik Geopolitik dan Harga Minyak jadi Perhatian
Ketidakpastian pasar semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran. Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa konflik geopolitik belum akan mereda dalam waktu dekat.
Di sisi lain, laporan serangan terhadap depot minyak Iran, penurunan produksi di sejumlah negara penghasil minyak, serta kendala transportasi dan kapasitas penyimpanan turut menambah ketidakpastian pasokan energi global.
Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan sejumlah negara produsen lainnya menjadi bagian dari dinamika pasokan yang dicermati pasar.
Apabila harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, tekanan tidak hanya berpotensi dirasakan pasar komoditas. Kenaikan harga energi juga dapat memperbesar tekanan inflasi dan meningkatkan biaya ekonomi, sekaligus memengaruhi ruang fiskal pemerintah negara pengimpor minyak.
Bagi Indonesia, risiko tersebut menjadi perhatian karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan anggaran untuk meredam dampaknya terhadap perekonomian domestik.
Kementerian Keuangan memperkirakan, dalam skenario terburuk ketika rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) mencapai USD92 per barel, defisit fiskal berpotensi melebar hingga sekitar 3,6% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Sebagai pembanding, defisit fiskal pada Januari–Februari 2026 tercatat sebesar Rp135,7 triliun atau sekitar 0,5% PDB. Angka tersebut menjadi yang tertinggi untuk periode Januari–Februari sejak 2016, terutama dipengaruhi pola belanja pemerintah yang lebih terkonsentrasi pada awal tahun.
Pemerintah disebut tetap berupaya menjaga defisit fiskal di bawah batas legal 3% PDB melalui langkah efisiensi dan penghematan di berbagai pos belanja negara.
Rupiah Melemah, Imbal Hasil Obligasi Meningkat
Tekanan di pasar keuangan tidak berhenti di bursa saham. Pasar valuta asing dan obligasi pemerintah juga menunjukkan kecenderungan melemah.
Dalam data pasar yang tercantum pada laporan, rupiah sempat terdepresiasi 0,36% ke level Rp16.986 per dolar AS pada salah satu sesi perdagangan. Pada penutupan perdagangan Senin , rupiah tercatat melemah hingga Rp18.135 per dolar AS, turun 55 poin (0,30%).
Penguatan dolar AS di tengah meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven turut membebani mata uang negara berkembang.
Di pasar surat berharga negara (SBN), imbal hasil juga meningkat. Dalam salah satu catatan perdagangan, imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik menjadi 7,49%. Sementara itu, laporan perkembangan pasar lainnya mencatat imbal hasil tenor 10 tahun meningkat menjadi 6,79% dari 6,72%.
Kenaikan imbal hasil menunjukkan bahwa investor meminta tingkat pengembalian lebih tinggi untuk memegang obligasi. Kondisi ini dapat mencerminkan meningkatnya persepsi risiko serta tekanan jual di pasar surat utang.
Arus keluar modal asing dan kenaikan harga minyak global menjadi faktor yang perlu dicermati karena dapat memperbesar tekanan terhadap aset keuangan domestik.
Reformasi Pasar Modal Masih jadi Perhatian Investor
Dari sisi domestik, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada implementasi reformasi pasar modal, terutama menyangkut transparansi kepemilikan saham dan pengawasan transaksi.
Kekhawatiran terkait kebijakan pengungkapan kepemilikan saham di atas 1% masih menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan investor. Pelaku pasar menilai dampak aturan tersebut perlu dievaluasi secara menyeluruh, termasuk implikasinya terhadap aktivitas perdagangan dan likuiditas saham.
Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana mengganti mekanisme peringatan Unusual Market Activity (UMA) dengan pengawasan yang lebih terarah berbasis investigasi.
Melalui mekanisme tersebut, BEI akan mengungkapkan sebagian hasil investigasi awal atas dugaan manipulasi saham. Informasi yang dapat disampaikan mencakup saham yang diperiksa, periode transaksi, jumlah pihak yang terlibat, serta perusahaan sekuritas terkait.
BEI juga dapat membatasi atau membekukan rekening efek tertentu selama proses investigasi berlangsung.
Selain itu, keanggotaan komite yang sebelumnya hanya melibatkan organisasi regulator mandiri (Self-Regulatory Organizations/SRO) direncanakan diperluas dengan melibatkan pihak independen, termasuk perwakilan investor.
Efektivitas implementasi dan konsistensi penegakan aturan akan menjadi faktor penting dalam memulihkan kepercayaan investor, termasuk investor asing dan penyedia indeks global MSCI.
Di tengah isu tersebut, Fitch mengikuti Moody's dalam merevisi prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif. Perkembangan ini menambah daftar perhatian investor terhadap risiko domestik ketika tekanan eksternal juga meningkat.
Investor Perlu Jaga Disiplin Investasi
Tekanan di pasar keuangan diperkirakan masih berlanjut selama konflik geopolitik belum menunjukkan tanda-tanda mereda dan harga minyak tetap berada pada level tinggi.
Pasar saham Asia turut mengalami koreksi tajam. Indeks Kospi Korea Selatan tercatat turun sekitar 7,68%, sedangkan Nikkei Jepang melemah 7,03%. Pasar saham berjangka Amerika Serikat dan Eropa juga menunjukkan tekanan.
Investor global turut mencermati keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada 29 Oktober 2026. Bank sentral AS diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00%, sementara perkembangan inflasi dan harga energi tetap menjadi perhatian pasar.
Dengan terbatasnya katalis positif dari dalam negeri, investor Indonesia diperkirakan cenderung mengambil sikap wait and see, terlebih menjelang periode libur panjang Idulfitri yang dapat memengaruhi aktivitas perdagangan dan keputusan pengelolaan portofolio.
Dalam kondisi pasar yang bergejolak, investor perlu tetap berpegang pada fundamental investasi, menjaga diversifikasi portofolio, dan memastikan ketersediaan likuiditas sesuai kebutuhan.
Fluktuasi harga dalam jangka pendek tidak selalu mencerminkan perubahan fundamental suatu aset. Karena itu, keputusan investasi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada pergerakan harga harian atau respons spontan terhadap sentimen negatif.
Perkembangan konflik geopolitik, dinamika harga minyak, arah kebijakan moneter global, serta efektivitas reformasi pasar modal domestik akan menjadi sejumlah faktor yang menentukan arah pasar ke depan.
Selama ketidakpastian global belum mereda, tekanan terhadap saham, rupiah, dan obligasi berpotensi bertahan. Pemulihan kepercayaan investor akan sangat bergantung pada perkembangan eksternal sekaligus konsistensi kebijakan dan penguatan integritas pasar di dalam negeri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prancis Terbuka: Ganda Putra Indonesia Menggila, Leo/Daniel dan Raymond/Joaquin Melesat ke Perempat Final
- 2Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 3Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 6Pemecatan Michael Carrick Mulai Disuarakan, Ada 'Monster' Sulit Dijinakkan di Tubuh MU?
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon
- 10Hakim Tolak Batalkan Dakwaan Febrie Adriansyah, Perkara Emas 74 Kilogram dan Valas Dilanjutkan ke Pembuktian







