Akurat Logo

Apa Itu HSC dalam Saham? Kenali Pengertian, Risiko, dan Dampaknya bagi Investor

Redaksi Akurat | 21 Oktober 2026, 14:37 WIB
Apa Itu HSC dalam Saham? Kenali Pengertian, Risiko, dan Dampaknya bagi Investor
Apa Itu HSC dalam Saham? Kenali Pengertian, Risiko, dan Dampaknya bagi Investor

AKURAT.CO High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan saham tinggi merupakan istilah di pasar modal yang perlu dipahami investor sebelum mengambil keputusan investasi. Kategori ini berkaitan dengan kondisi ketika kepemilikan saham suatu perusahaan terkonsentrasi pada sejumlah kecil pemegang saham.

Bursa Efek Indonesia (BEI) menggunakan metodologi HSC untuk mengidentifikasi saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi sebagai bagian dari upaya memperkuat transparansi pasar modal. Informasi ini dapat membantu investor memahami struktur kepemilikan serta karakteristik perdagangan saham suatu emiten.

Pada Oktober 2026, daftar saham HSC kembali mengalami perubahan. BEI menambahkan sejumlah emiten baru setelah memperluas cakupan penilaian berdasarkan metodologi yang berlaku.

Lantas, apa itu HSC dalam saham, bagaimana cara penentuannya, dan apa dampaknya bagi investor? Berikut penjelasannya.

Baca Juga: Pemegang Saham Pengendali HRTA Akumulasi Saham di Tengah Ancaman Standalone Market dari MSCI

Apa Itu HSC dalam Saham?

HSC merupakan singkatan dari High Shareholding Concentration, yaitu kondisi ketika kepemilikan saham perusahaan terkonsentrasi pada sejumlah kecil pemegang saham atau kelompok tertentu.

Dalam kondisi ini, sebagian besar saham perusahaan dikuasai oleh pihak tertentu, sedangkan porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan oleh masyarakat relatif terbatas.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan memiliki total 1 miliar lembar saham. Sebanyak 900 juta lembar saham dikuasai oleh pemegang saham utama, sedangkan 100 juta lembar lainnya dimiliki investor publik.

Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa kepemilikan saham perusahaan terkonsentrasi pada sejumlah kecil pemegang saham. Namun, penetapan status HSC tetap mengikuti kriteria dan metodologi resmi yang ditentukan oleh BEI.

Konsentrasi kepemilikan dapat memengaruhi jumlah saham yang tersedia untuk transaksi di pasar sekunder. Kondisi ini juga menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan investor ketika menilai likuiditas dan pergerakan harga saham.

Bagaimana BEI Menentukan Saham HSC?

BEI menggunakan metodologi tertentu untuk mengidentifikasi saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi. Penilaian tersebut mempertimbangkan struktur kepemilikan saham dan mekanisme pengawasan pasar yang berlaku.

Pada 14 Juli 2026, BEI mengumumkan penyempurnaan metodologi HSC dengan menambahkan indikator Price Impact Ratio (PIR) untuk saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun.

PIR merupakan indikator yang mengukur besarnya perubahan harga saham dibandingkan dengan aktivitas perdagangan atau velocity. Dalam metodologi yang diumumkan tersebut, velocity dihitung berdasarkan perbandingan rata-rata volume transaksi dengan jumlah saham yang beredar di publik atau free float.

Secara sederhana, perubahan harga yang besar ketika aktivitas perdagangan relatif rendah dapat menghasilkan PIR yang tinggi. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu dasar untuk melakukan penyaringan lebih lanjut guna mengidentifikasi indikasi konsentrasi kepemilikan saham.

BEI menyatakan bahwa kriteria PIR ditinjau secara berkala setiap tiga bulan, sedangkan faktor pemicu pengawasan berdasarkan aktivitas pemantauan pasar tetap dapat dinilai secara insidental.

Setelah penyempurnaan metodologi pada Juli 2026, sebanyak 37 saham tambahan masuk kategori HSC sehingga jumlahnya menjadi 51 saham pada saat pengumuman.

Pada Oktober 2026, cakupan penilaian kembali diperluas dengan menggunakan PIR untuk saham berkapitalisasi pasar di atas Rp5 triliun. Perubahan tersebut diikuti pembaruan daftar HSC.

Apa Saja Risiko Saham HSC bagi Investor?

Status HSC tidak secara otomatis menunjukkan bahwa suatu saham merugikan atau perusahaan sedang mengalami masalah. Meski demikian, konsentrasi kepemilikan dapat menjadi salah satu faktor risiko yang perlu dipertimbangkan investor.

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1. Likuiditas Saham Bisa Terbatas

Likuiditas menggambarkan kemudahan suatu saham untuk dibeli atau dijual di pasar tanpa menyebabkan perubahan harga yang berarti.

Apabila sebagian besar saham dikuasai oleh pemegang saham tertentu dan hanya sedikit saham yang tersedia untuk diperdagangkan, investor berpotensi menghadapi keterbatasan likuiditas.

Dalam kondisi tersebut, investor mungkin perlu menunggu lebih lama untuk mendapatkan pembeli atau penjual pada harga yang diinginkan.

2. Harga Saham Bisa Lebih Sensitif terhadap Transaksi

Saham dengan jumlah beredar yang terbatas dapat menunjukkan perubahan harga yang relatif besar ketika terjadi transaksi tertentu.

Namun, hal ini tidak berarti seluruh saham HSC pasti mengalami volatilitas tinggi. Pergerakan harga tetap dipengaruhi berbagai faktor, seperti permintaan dan penawaran, kondisi fundamental perusahaan, sentimen pasar, serta aktivitas perdagangan.

3. Selisih Harga Beli dan Jual Perlu Diperhatikan

Investor juga perlu memeriksa bid-ask spread, yakni selisih antara harga penawaran beli dan harga penawaran jual.

Pada saham yang aktivitas perdagangannya terbatas, selisih tersebut berpotensi lebih lebar. Akibatnya, investor dapat menghadapi biaya transaksi implisit yang lebih besar ketika membeli atau menjual saham.

Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya melihat kenaikan harga, tetapi juga memeriksa volume dan nilai transaksi harian.

4. Struktur Kepemilikan Perlu Dicermati

Konsentrasi kepemilikan dapat membuat keputusan pemegang saham dominan memiliki pengaruh besar terhadap struktur kepemilikan dan jumlah saham yang tersedia di pasar.

Investor perlu memeriksa informasi pemegang saham utama, kepemilikan publik, serta keterbukaan informasi perusahaan untuk memahami kondisi tersebut.

Meski demikian, status HSC saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya manipulasi harga atau pelanggaran di pasar modal.

Baca Juga: Modal Asing Rp3,18 Triliun Kabur dari Pasar Saham RI dalam Sepekan

Apakah Saham HSC Berarti Emiten Bermasalah?

Tidak. Status HSC bukan sanksi dan tidak secara otomatis menunjukkan bahwa perusahaan melakukan pelanggaran, mengalami kerugian, atau mempunyai kinerja keuangan yang buruk.

HSC berkaitan dengan konsentrasi kepemilikan saham dan karakteristik perdagangan. Dengan demikian, status tersebut perlu dipahami sebagai informasi tambahan yang dapat digunakan investor dalam melakukan analisis.

Investor tetap perlu memeriksa fundamental perusahaan, termasuk pertumbuhan pendapatan, laba bersih, arus kas, utang, prospek usaha, serta kualitas tata kelola perusahaan.

Perusahaan dengan konsentrasi kepemilikan tinggi belum tentu memiliki fundamental buruk. Sebaliknya, perusahaan dengan kepemilikan yang lebih tersebar juga tidak otomatis memiliki kinerja keuangan yang baik.

Oleh sebab itu, keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada penilaian menyeluruh terhadap risiko dan prospek perusahaan, bukan hanya status HSC.

Daftar Saham HSC Terbaru Oktober 2026

Daftar saham HSC dapat berubah mengikuti hasil evaluasi dan metodologi yang diterapkan BEI.

Pada pembaruan 12–13 Oktober 2026, sejumlah media melaporkan penambahan 19 emiten ke dalam daftar HSC. Di antaranya adalah saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA), dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB).

Selain itu, emiten seperti PT Akasha Wira International Tbk (ADES), PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA), dan PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI) juga dilaporkan masuk dalam pembaruan tersebut.

Pada saat yang sama, saham PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (FILM) dan PT MD Entertainment Tbk (MGLV) dilaporkan keluar dari daftar HSC.

Jumlah total saham dalam daftar HSC yang diberitakan media pada Oktober 2026 tidak seragam. Karena itu, investor perlu merujuk pada pengumuman resmi BEI untuk memastikan jumlah dan daftar emiten yang berlaku pada tanggal tertentu.

Daftar tersebut juga tidak dapat dijadikan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham. Setiap emiten mempunyai karakteristik, risiko, dan kondisi fundamental yang berbeda.

Bagaimana Cara Menyikapi Saham HSC?

Investor dapat melakukan beberapa langkah berikut sebelum memutuskan untuk bertransaksi pada saham yang masuk kategori HSC.

Pertama, periksa struktur kepemilikan saham. Investor dapat meninjau informasi pemegang saham utama, persentase kepemilikan publik, dan perubahan kepemilikan yang diumumkan perusahaan.

Kedua, perhatikan likuiditas perdagangan. Periksa volume transaksi, nilai transaksi harian, serta selisih harga beli dan jual untuk menilai kemudahan saham diperdagangkan.

Ketiga, analisis fundamental perusahaan. Pelajari laporan keuangan, tingkat utang, arus kas, pertumbuhan laba, dan prospek bisnis sebelum mengambil keputusan.

Keempat, pahami risiko pergerakan harga. Investor perlu berhati-hati ketika harga saham berubah tajam tanpa disertai informasi yang memadai mengenai kondisi perusahaan.

Kelima, pantau informasi resmi BEI. Status HSC dan metodologi penentuannya dapat berubah. Oleh sebab itu, investor sebaiknya menggunakan informasi terbaru dan memeriksa tanggal publikasi setiap pengumuman.

Langkah tersebut dapat membantu investor menilai saham secara lebih objektif dan memahami risiko sebelum bertransaksi.

HSC atau High Shareholding Concentration adalah kategori yang berkaitan dengan konsentrasi kepemilikan saham pada sejumlah kecil pemegang saham. BEI menggunakan metodologi HSC sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi pasar modal dan memberikan informasi tambahan kepada investor.

Saham yang masuk kategori HSC berpotensi memiliki karakteristik perdagangan tertentu, seperti likuiditas yang terbatas atau harga yang lebih sensitif terhadap transaksi. Namun, status tersebut tidak secara otomatis menunjukkan bahwa emiten bermasalah atau melakukan pelanggaran.

Karena itu, investor perlu memeriksa struktur kepemilikan, likuiditas, fundamental perusahaan, dan keterbukaan informasi sebelum mengambil keputusan investasi. Status HSC sebaiknya menjadi salah satu bahan pertimbangan, bukan satu-satunya dasar dalam menentukan pilihan saham.

Taqiyuddin Abdurrahman Leboe (Magang)


Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R