Rupiah Melemah ke Rp17.800 per-Dolar AS, BI Ungkap Penyebabnya

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah kembali berada di level yang perlu diperhatikan setelah dolar Amerika Serikat (AS) menyentuh sekitar Rp17.800. Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) mengungkap sejumlah faktor yang membuat mata uang Garuda masih menghadapi tekanan, mulai dari situasi geopolitik Timur Tengah hingga meningkatnya kebutuhan dolar dari importir.
Menurut BI, rupiah melemah dipengaruhi kekhawatiran terhadap tensi geopolitik di Timur Tengah, tingginya harga minyak yang berada di atas US$100 per barel, meningkatnya kebutuhan valas importir, serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan risiko inflasi global dan tekanan terhadap outlook fiskal.
Mengapa Rupiah Melemah ke Sekitar Rp17.800 per US$?
Berdasarkan narasi yang disampaikan Bank Indonesia, nilai tukar dolar AS berada di level Rp17.847 terhadap rupiah pada Senin, 21 September 2026. Level tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih berlangsung di tengah dinamika pasar global dan domestik.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS, tetapi juga kondisi eksternal dan permintaan valuta asing di dalam negeri.
Faktor eksternal yang menjadi perhatian adalah meningkatnya kekhawatiran akibat tensi geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian tersebut turut mendorong harga minyak tetap tinggi, bahkan berada di atas US$100 per barel.
Harga energi kemudian menjadi bagian penting dari persoalan karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi secara global. Bagi negara seperti Indonesia, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi persepsi terhadap kondisi fiskal dan ekonomi secara lebih luas.
Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari kebutuhan valas importir. Ketika perusahaan membutuhkan dolar untuk membayar transaksi atau kewajiban kepada pihak luar negeri, permintaan terhadap mata uang AS di pasar domestik ikut meningkat.
Baca Juga: Bukan Lagi The Fed dan Dolar AS, Ini Risiko Baru yang Harus Dicermati Investor
Baca Juga: Bunga The Fed Sudah Diantisipasi, Rupiah Jadi Penentu Pasar Saham Indonesia
Erwin juga menyoroti arus keluar dana dari portofolio aset domestik sebagai salah satu faktor yang menekan nilai tukar.
"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik," ujar Erwin melalui keterangan tertulis Bank Indonesia, Senin, 21 September 2026.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK







