El Nino Menguat, Suahasil Ungkap Jurus APBN Hadapi Kekeringan

AKURAT.CO Pemerintah menyiapkan fleksibilitas anggaran untuk menghadapi dampak El Nino yang diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027.
Risiko yang diantisipasi bukan hanya kekeringan, tetapi juga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dapat menimbulkan dampak ekonomi di sejumlah daerah.
Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengatakan APBN 2026 telah memiliki anggaran kebencanaan yang dapat digunakan untuk merespons kondisi yang berkembang, termasuk bencana alam dan kekeringan akibat fenomena El Nino.
Baca Juga: Kepala Bakom Yakin Suahasil Mampu Jaga Ekonomi RI Tetap Tumbuh dan Stabil
"Di dalam APBN 2026 telah ada anggaran yang memang disiapkan untuk bencana," ujar Suahasil usai menghadiri Sidang Paripurna Luar Biasa Ke-2 Tahun Sidang 2026-2027 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Menurut Suahasil, fleksibilitas anggaran diperlukan karena kebutuhan penanganan bencana tidak selalu dapat dipastikan sejak awal tahun. Pemerintah perlu memiliki ruang fiskal untuk merespons kejadian yang tidak terduga.
"Tentu fleksibilitas anggaran sangat diperlukan untuk memastikan bahwa anggarannya responsif terhadap situasi yang berkembang, situasi bencana alam, situasi kekeringan dan yang lainnya harus kita tangani," katanya.
El Nino Masih Sangat Kuat
Kesiapan tersebut berhadapan dengan kondisi iklim yang memang sedang membutuhkan perhatian.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam analisis Dasarian I September 2026 mencatat indeks ENSO tiga bulanan periode Juli-Agustus-September berada di angka 2,6. Angka tersebut menunjukkan El Nino dengan intensitas sangat kuat.
Baca Juga: Kemenkeu Berganti Nahkoda, Purbaya Titip Pesan ke Suahasil
Sementara itu, anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 tercatat sebesar plus 2,76 derajat Celsius pada Dasarian I September. BMKG memperkirakan El Nino masih bertahan hingga awal 2027.
Dampaknya sudah terlihat pada kondisi atmosfer Indonesia. BMKG mencatat sekitar 81% Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau. Bahkan, sebanyak 1.637 titik mengalami hari tanpa hujan kategori ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan 100 Kampung Nelayan, Target Beroperasi Akhir Tahun
- 10Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara








