Paylater Kredivo Sumbang Rp33 Triliun ke PDB, Begini Cara Kredit Digital Memberikan Dampak ke Ekonomi

AKURAT.CO Ketika seseorang menggunakan kredit digital untuk membeli barang, transaksi tersebut sebenarnya tidak selalu berhenti di kasir atau merchant. Uang yang dibelanjakan dapat kembali berputar melalui distributor, pemasok, produsen, pekerja, hingga berbagai sektor jasa pendukung.
Rantai aktivitas ekonomi tersebut menjadi salah satu alasan kredit digital tidak hanya dapat dilihat dari sisi pembiayaan rumah tangga. Dalam studi Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) bersama Kredivo Group, aktivitas ekonomi yang terkait dengan pembiayaan Kredivo pada 2025 diperkirakan menghasilkan dampak ekonomi sekitar Rp33 triliun.
Nilai tersebut disebut meningkat hampir 10 kali lipat dibandingkan 2019. Perhitungannya menggunakan model input-output, yang melihat keterkaitan aktivitas ekonomi dari satu sektor dengan sektor lainnya.
Dengan kata lain, angka Rp33 triliun tersebut bukan berarti Kredivo secara langsung memasukkan uang Rp33 triliun ke kas negara atau memberikan pembiayaan sebesar angka tersebut. Nilai itu merupakan estimasi dampak ekonomi dari aktivitas yang muncul setelah kredit disalurkan dan digunakan masyarakat.
Dari Kredit Digital ke Rp33 Triliun, Apa Hubungannya?
Untuk memahami angka Rp33 triliun, hal pertama yang perlu dilihat adalah apa yang terjadi setelah kredit diterima pengguna.
Kredit dapat digunakan untuk membeli barang dan jasa, memenuhi kebutuhan kesehatan dan pendidikan, merenovasi rumah, hingga membiayai modal usaha. Ketika pembiayaan tersebut digunakan, muncul transaksi ekonomi yang melibatkan pihak lain.
Misalnya, seorang pengguna menggunakan kredit untuk membeli peralatan usaha. Transaksi tersebut memberikan pendapatan kepada merchant. Merchant kemudian membutuhkan stok dari distributor, distributor membeli barang dari pemasok, sementara proses distribusi membutuhkan transportasi dan jasa pendukung.
Rangkaian tersebut membuat satu transaksi memiliki hubungan dengan lebih dari satu pelaku ekonomi.
Paksi Walandouw, Deputy Head Research and Training LD FEB UI, menjelaskan bahwa penghitungan dampak tersebut dilakukan dengan memasukkan penyaluran kredit ke dalam model input-output sesuai dengan perannya dalam perekonomian.
“Jadi dari kredit yang disalurkan oleh Kredivo kita masukkan ke dalam model perekonomian input-output sesuai dengan perannya untuk mendapatkan dampak ekonomi yang ditimbulkan," ujar Paksi dalam acara peluncuran Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo di Jakarta, Kamis, 10 September 2026.
Model tersebut memungkinkan peneliti melihat hubungan antarsektor yang muncul dari aktivitas ekonomi yang dipicu oleh pembiayaan.
Konsep ini penting karena perekonomian tidak bekerja dalam ruang yang terpisah. Aktivitas di sektor perdagangan, misalnya, dapat menciptakan kebutuhan terhadap transportasi, pergudangan, manufaktur, listrik, komunikasi, hingga jasa lainnya.
Baca Juga: Klaim Asuransi Kredit Tembus Rp9,28 Triliun, Hampir Setara Premi
Apa Itu Model Input-Output?
Secara sederhana, model input-output digunakan untuk melihat bagaimana sektor-sektor ekonomi saling membutuhkan.
Sebuah toko tidak hanya berhubungan dengan pembelinya. Toko membutuhkan barang dari pemasok. Pemasok membutuhkan produsen. Produsen membutuhkan bahan baku, energi, transportasi, pekerja, serta berbagai jasa pendukung.
Ketika permintaan terhadap suatu produk meningkat, sektor-sektor yang berada di belakangnya juga dapat mengalami peningkatan aktivitas.
Inilah yang menjadi dasar penghitungan dampak ekonomi menggunakan pendekatan input-output.
Sebagai ilustrasi, seseorang menggunakan kredit untuk membeli perangkat elektronik. Transaksi tersebut menciptakan pendapatan bagi penjual. Penjual kemudian perlu mengisi kembali persediaan. Distributor memperoleh permintaan, perusahaan logistik mengirimkan barang, sementara produsen dan pemasok menjalankan aktivitas produksi.
Tidak berarti seluruh nilai transaksi tersebut otomatis menjadi tambahan PDB. Yang perlu dilihat adalah aktivitas ekonomi dan nilai tambah yang muncul di sepanjang rantai tersebut.
Perbedaan ini penting agar angka Rp33 triliun tidak disalahartikan sebagai jumlah uang yang secara langsung “ditambahkan” Kredivo ke PDB Indonesia.
Sektor Perdagangan Jadi Salah Satu Penggerak Utama
Dalam paparan Paksi, sektor yang memperoleh dampak ekonomi antara lain perdagangan atau ritel, perdagangan mobil dan sepeda motor, listrik, barang elektronik, komunikasi, serta berbagai perlengkapan.
Perdagangan menjadi penting karena sebagian aktivitas kredit pada akhirnya bermuara pada transaksi barang dan jasa.
Ketika konsumen menggunakan pembiayaan untuk membeli produk, merchant memperoleh pendapatan. Aktivitas merchant tersebut kemudian terhubung dengan rantai pasok yang lebih panjang.
Misalnya, transaksi di sebuah toko elektronik tidak hanya menghasilkan pendapatan bagi toko. Ada distributor, produsen, jasa pengiriman, penyedia listrik, layanan komunikasi, hingga tenaga kerja yang dapat terlibat dalam ekosistem aktivitas tersebut.
Semakin luas rantai keterkaitannya, semakin banyak sektor yang dapat terkena dampak dari perubahan aktivitas ekonomi.
Lebih dari Separuh Kredit Digunakan untuk Kebutuhan Produktif
Dampak ekonomi tersebut juga berkaitan dengan bagaimana kredit digunakan.
Studi LD FEB UI bersama Kredivo mencatat sekitar 54,3% kredit pada 2025 digunakan untuk kebutuhan produktif, antara lain modal usaha, pendidikan, kesehatan, dan renovasi rumah. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan kredit tidak seluruhnya berorientasi pada konsumsi barang.
Porsi produktif menjadi relevan ketika membahas dampak ekonomi karena kredit yang digunakan untuk aktivitas usaha dapat menciptakan transaksi lanjutan.
Pelaku usaha dapat menggunakan pembiayaan untuk membeli bahan baku, menambah persediaan, membiayai operasional, atau menjaga arus kas ketika penerimaan belum masuk.
Dalam konteks tersebut, kredit berfungsi sebagai salah satu input yang membantu aktivitas usaha tetap berjalan.
UMKM Mikro Ikut Masuk dalam Rantai Dampak
Bagian lain dari studi tersebut menunjukkan besarnya peran usaha mikro.
Sekitar 96,9% penerima pembiayaan modal usaha merupakan usaha mikro. Jumlah pengguna kredit sebagai modal usaha juga disebut meningkat 15 kali lipat.
Data tersebut memberikan konteks mengapa dampak kredit digital tidak hanya perlu dilihat dari sisi konsumen akhir.
Ketika pembiayaan masuk ke usaha mikro, uang yang diterima dapat digunakan untuk membeli bahan baku, menambah stok, membayar kebutuhan operasional, atau meningkatkan kapasitas usaha.
Dari sana, muncul transaksi dengan pihak lain.
Studi tersebut juga mencatat sekitar 34% peminjam modal usaha mengalami peningkatan omzet 10–40%. Temuan ini tidak berarti setiap pelaku usaha mengalami kenaikan omzet atau bahwa seluruh kenaikan tersebut semata-mata disebabkan kredit. Namun, data tersebut menunjukkan adanya hubungan antara akses pembiayaan dan aktivitas usaha yang dapat menjadi bagian dari dampak ekonomi lebih luas.
Kredit Digital Juga Menciptakan Digital Footprint
Dampak kredit digital tidak berhenti pada transaksi yang terjadi saat pembiayaan digunakan.
Menurut Paksi, ketika pelaku usaha yang sebelumnya tidak memiliki rekam jejak kredit mulai menggunakan pembiayaan digital, muncul rekam jejak yang dapat menjadi bagian dari reputasi finansial.
“Ketika dia masuk kredit, berarti dia punya namanya digital footprint. Nah ini berarti dia mulai masuk pelan-pelan membangun reputasinya di financial.”
Temuan studi juga menunjukkan bahwa akses terhadap kredit pertama semakin terbuka. Pada 2025, satu dari enam pengguna aktif Kredivo merupakan pengakses kredit pertama. Dari kelompok tersebut, 48% merupakan perempuan dan 57% berusia di bawah 30 tahun. Sekitar 23% pengguna juga menyatakan akses terhadap kredit formal lainnya menjadi lebih mudah setelah menggunakan Kredivo.
Artinya, terdapat dampak yang bersifat lebih panjang daripada satu transaksi.
Seseorang yang sebelumnya berada di luar sistem kredit formal dapat mulai memiliki pengalaman menggunakan pembiayaan, mencatatkan riwayat pembayaran, dan membangun rekam jejak finansial.
Bagi pelaku usaha mikro, rekam jejak tersebut berpotensi menjadi bagian dari perjalanan menuju akses pembiayaan yang lebih luas.
Apakah Kredit Digital Berarti Utang Semakin Besar?
Angka dampak ekonomi Rp33 triliun tidak boleh dibaca sebagai argumen bahwa semakin banyak utang selalu semakin baik bagi perekonomian.
Kredit tetap memiliki risiko apabila digunakan tanpa memperhitungkan kemampuan membayar.
Dalam studi tersebut, rata-rata Debt-to-Income Ratio (DTI) pengguna berada pada kisaran 10–19%. Studi juga mencatat sekitar 58,7% pengguna yang aktif bertransaksi pada 2023 memperoleh kenaikan limit berdasarkan riwayat pembayaran yang disiplin.
Temuan tersebut memberikan konteks bahwa dampak kredit perlu dilihat bersamaan dengan perilaku pembayaran dan kemampuan pengguna mengelola utang.
Dengan demikian, pertanyaan ekonominya bukan sekadar berapa besar kredit disalurkan, tetapi juga untuk apa kredit digunakan dan bagaimana pembiayaan tersebut dikelola.
Rp33 Triliun Bukan Berarti Kredivo Menyetor Rp33 Triliun ke PDB
Bagian ini penting untuk memahami headline mengenai Rp33 triliun.
Istilah “dampak ekonomi” tidak sama dengan mengatakan bahwa perusahaan memberikan Rp33 triliun langsung kepada perekonomian atau pemerintah.
Angka tersebut merupakan hasil estimasi berdasarkan aktivitas ekonomi yang dikaitkan dengan penyaluran kredit dan kemudian dianalisis melalui model input-output.
Perbedaan antara nilai pembiayaan, nilai transaksi, output ekonomi, nilai tambah, dan PDB perlu dipahami.
Sebuah transaksi senilai Rp1 juta, misalnya, tidak berarti PDB otomatis bertambah Rp1 juta. Aktivitas tersebut harus dilihat berdasarkan nilai tambah yang dihasilkan dalam proses produksi barang dan jasa. Model input-output kemudian digunakan untuk melihat hubungan aktivitas tersebut dengan sektor ekonomi lainnya.
Karena itu, formulasi yang lebih tepat adalah bahwa studi LD FEB UI bersama Kredivo memperkirakan aktivitas ekonomi yang terkait dengan pembiayaan Kredivo menghasilkan dampak sekitar Rp33 triliun pada 2025.
Bukan berarti Kredivo secara langsung “menambahkan” Rp33 triliun ke PDB.
Ketika Kredit Menjadi Bagian dari Mesin Ekonomi
Dari sudut pandang ekonomi, cerita Rp33 triliun sebenarnya bukan hanya mengenai sebuah aplikasi kredit digital.
Cerita utamanya adalah mengenai bagaimana pembiayaan dapat menjadi pemicu aktivitas ekonomi yang lebih panjang.
Rantai sederhananya dapat digambarkan sebagai:
kredit → transaksi → pendapatan merchant → pembelian dari pemasok → produksi dan distribusi → pendapatan pekerja/usaha → aktivitas ekonomi berikutnya.
Jika kredit digunakan untuk modal usaha, rantainya dapat menjadi lebih panjang lagi:
kredit → modal usaha → pembelian bahan baku → produksi → penjualan → omzet → pembelian kembali → aktivitas ekonomi lanjutan.
Dalam konteks itulah angka Rp33 triliun menjadi menarik. Nilainya tidak semata-mata berasal dari uang yang dipinjamkan, tetapi dari aktivitas ekonomi yang muncul setelah pembiayaan digunakan.
Paksi juga menekankan bahwa peran pembiayaan dapat berbeda ketika kondisi ekonomi berubah.
“Yang kita inginkan adalah pembiayaan, baik Kredivo itu ketika ekonomi baik biar bisa membantu UMKM dan ekonomi, tapi ketika ekonomi buruk dia juga bisa menjadi buffer yang baik untuk masyarakat.”
Pandangan tersebut menempatkan kredit sebagai salah satu instrumen yang dapat berfungsi dalam dua kondisi. Ketika ekonomi tumbuh, pembiayaan dapat mendukung konsumsi dan kegiatan usaha. Ketika terjadi tekanan ekonomi, pembiayaan dapat membantu sebagian masyarakat memenuhi kebutuhan yang mendesak.
Studi tersebut mencatat 92% responden menggunakan Kredivo selama masa Covid-19. Sebanyak 85% menyatakan pembiayaan tersebut berguna untuk pengeluaran di tengah krisis.
Jadi, Bagaimana Rp33 Triliun Itu Bisa Terbentuk?
Jika disederhanakan, angka Rp33 triliun dapat dipahami melalui beberapa lapisan.
Pertama, kredit menyediakan daya beli atau modal bagi pengguna.
Kedua, pembiayaan tersebut digunakan untuk transaksi konsumsi maupun kebutuhan produktif.
Ketiga, transaksi menghasilkan pendapatan bagi merchant dan pelaku usaha.
Keempat, merchant dan pelaku usaha membutuhkan barang, bahan baku, jasa, tenaga kerja, transportasi, energi, serta berbagai input lainnya.
Kelima, hubungan antarsektor tersebut menciptakan aktivitas ekonomi lanjutan yang kemudian dihitung menggunakan model input-output.
Jadi, angka Rp33 triliun bukan cerita tentang berapa banyak uang yang “keluar” dari Kredivo. Angka tersebut lebih tepat dipahami sebagai estimasi mengenai seberapa luas aktivitas ekonomi yang dapat dikaitkan dengan pembiayaan setelah uang tersebut berputar dalam perekonomian.
Pada akhirnya, temuan ini juga menunjukkan bahwa perdebatan mengenai kredit digital tidak cukup jika hanya dilihat dari pertanyaan apakah masyarakat menggunakan PayLater untuk belanja.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi setelah kredit digunakan?
Jika pembiayaan masuk ke transaksi perdagangan, modal usaha, rantai pasok, pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan rumah tangga, dampaknya dapat menjalar ke banyak sektor.
Meski demikian, perlu tetap dibedakan antara dampak ekonomi yang diestimasi melalui suatu model dengan pertumbuhan PDB yang secara keseluruhan dipengaruhi oleh banyak faktor.
Dengan perspektif tersebut, Rp33 triliun menjadi bukan sekadar angka besar dalam studi kredit digital. Angka itu menggambarkan bagaimana satu keputusan pembiayaan di tingkat individu dapat terhubung dengan aktivitas ekonomi yang jauh lebih luas.
Baca Juga: Bukan Cuma Belanja, 54 Persen Kredit Kredivo Ternyata Dipakai untuk Kebutuhan Produktif
FAQ
Berapa dampak ekonomi kredit digital Kredivo pada 2025?
Studi LD FEB UI bersama Kredivo Group memperkirakan aktivitas ekonomi yang terkait dengan pembiayaan Kredivo menghasilkan dampak sekitar Rp33 triliun pada 2025, meningkat hampir 10 kali dibandingkan 2019.
Apakah Rp33 triliun berarti Kredivo menyumbang uang Rp33 triliun langsung ke PDB?
Tidak sesederhana itu. Angka tersebut merupakan estimasi dampak ekonomi yang dihitung menggunakan model input-output berdasarkan aktivitas ekonomi yang terkait dengan pembiayaan.
Apa itu model input-output?
Model input-output merupakan metode untuk melihat hubungan dan ketergantungan antarsektor dalam perekonomian. Metode ini dapat digunakan untuk memperkirakan bagaimana suatu aktivitas ekonomi berdampak pada sektor lainnya.
Untuk apa kredit Kredivo digunakan?
Studi mencatat sekitar 54,3% kredit pada 2025 digunakan untuk kebutuhan produktif, seperti modal usaha, pendidikan, kesehatan, dan renovasi rumah.
Apakah kredit digital hanya digunakan untuk konsumsi?
Tidak. Selain kebutuhan konsumsi, kredit juga digunakan untuk kebutuhan produktif, termasuk modal usaha. Jumlah penggunaan kredit sebagai modal usaha dalam studi disebut meningkat 15 kali lipat.
Bagaimana kredit digital dapat membantu UMKM?
Kredit dapat digunakan sebagai modal untuk membeli bahan baku, menambah persediaan, memenuhi kebutuhan operasional, atau menjaga arus kas. Studi tersebut mencatat 96,9% penerima pembiayaan modal usaha merupakan usaha mikro.
Apakah kredit digital otomatis meningkatkan ekonomi?
Tidak otomatis. Dampaknya bergantung pada bagaimana pembiayaan digunakan, kemampuan pengguna membayar, kondisi ekonomi, serta aktivitas ekonomi yang ditimbulkan. Angka Rp33 triliun sendiri merupakan hasil estimasi model, bukan bukti bahwa seluruh pertumbuhan ekonomi Indonesia berasal dari kredit digital.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 3Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 4ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 5Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 6Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 7Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 8Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 9Prabowo Pimpin Sidang DEN di Istana, Instruksikan Persiapan E50 untuk Perkuat Kemandirian Energi
- 10Terungkap di Sidang Korupsi Kuota Haji: Anak Buah Bos Maktour Setor USD10 Ribu ke Pejabat Kemenag





