Allianz: ISPA hingga Batuk Pilek Picu Pengeluaran Obat Terbesar

AKURAT.CO Kenaikan harga obat tidak hanya menjadi ancaman bagi pasien penyakit kronis. Di balik tren meningkatnya biaya kesehatan, penyakit yang selama ini kerap dianggap ringan justru menjadi penyumbang terbesar tagihan obat masyarakat.
Temuan tersebut muncul di tengah kebijakan Kementerian Kesehatan yang mulai membatasi penyesuaian harga obat komersial swasta maksimal 20% sejak 11 Juni 2026.
Kebijakan ini diterapkan untuk menekan lonjakan harga obat sekaligus menjaga daya beli masyarakat terhadap kebutuhan kesehatan.
Data klaim Allianz Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi penyakit dengan penggunaan obat rawat jalan terbanyak, yakni mencapai 32.519 kasus. Angka tersebut jauh melampaui penyakit lain seperti radang tenggorokan sebanyak 8.581 kasus dan demam serta batuk pilek yang mencapai 7.728 kasus.
Temuan itu menunjukkan beban biaya obat tidak selalu berasal dari penyakit berat. Sebaliknya, penyakit ringan yang kerap menyerang secara berulang justru menjadi penyebab utama masyarakat membeli obat dan mengakses layanan kesehatan.
Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia, dr. Tubagus Argie, mengatakan persepsi masyarakat mengenai biaya kesehatan masih banyak berfokus pada penyakit kronis atau kondisi yang membutuhkan perawatan intensif.
Baca Juga: Kenapa Premi Asuransi Bisa Naik? Ini Penjelasan Berdasarkan Riset Allianz yang Perlu Dipahami
Padahal, menurut dia, penyakit sehari-hari seperti ISPA, radang tenggorokan maupun batuk pilek tetap membutuhkan pengobatan dan dapat menguras pengeluaran apabila terjadi berulang, terlebih jika dialami beberapa anggota keluarga dalam waktu yang bersamaan.
"Masyarakat sering kali hanya mengantisipasi biaya ketika menghadapi penyakit berat. Padahal, penyakit yang umum terjadi seperti ISPA, radang tenggorokan, maupun demam dan pilek juga tetap membutuhkan pengobatan. Ketika penyakit tersebut terjadi berulang, terutama dalam satu keluarga, akumulasi biayanya dapat menjadi cukup signifikan," ujar dr. Argie dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Tren Berlanjut pada 2026
Fenomena tersebut belum menunjukkan tanda-tanda mereda pada tahun ini.
Sepanjang kuartal I-2026, ISPA kembali menjadi penyakit yang paling banyak diklaim nasabah Allianz dengan total 10.026 kasus. Posisi berikutnya ditempati diare sebanyak 3.741 kasus, radang tenggorokan 2.795 kasus, demam 2.394 kasus, serta batuk pilek sebanyak 2.369 kasus.
Dominasi penyakit-penyakit umum itu memperlihatkan bahwa layanan kesehatan masyarakat masih didorong oleh penyakit yang sebenarnya dapat menyerang siapa saja dan terjadi berulang sepanjang tahun.
Kondisi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa biaya kesehatan sehari-hari dapat terus meningkat meski seseorang tidak menderita penyakit kronis.
Harga Obat Terus Naik
Di sisi lain, Allianz mencatat biaya obat terus mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data klaim perusahaan, lonjakan terbesar terjadi pada 2023 ketika biaya obat meningkat sekitar 11% dibandingkan tahun sebelumnya. Setelah itu, tren kenaikan masih berlanjut dengan pertumbuhan sekitar 6-15% setiap tahun.
Chief Technical Officer Allianz Life Indonesia Brandon Heng mengatakan kenaikan harga obat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan harga bahan baku obat impor hingga inflasi medis yang secara konsisten berada di atas inflasi umum.
Bahkan, berdasarkan proyeksi MMB Asia Health Trends, inflasi medis Indonesia diperkirakan mencapai 17,6% pada 2026.
Menurut Brandon, harga obat memang bukan komponen terbesar pembentuk inflasi medis. Namun kenaikan yang berlangsung setiap tahun tetap memberi tekanan terhadap biaya kesehatan masyarakat.
Karena itu, Allianz menilai kebijakan pemerintah yang membatasi penyesuaian harga obat maksimal 20% dapat membantu mengurangi tekanan inflasi medis sekaligus menjaga keterjangkauan obat bagi masyarakat.
"Harga obat memang bukan komponen tertinggi dalam inflasi medis. Namun berdasarkan data kami, harga obat terus meningkat sekitar 6-15 persen setiap tahunnya. Karena itu, kami mengapresiasi upaya Kementerian Kesehatan dalam menetapkan batas maksimal penyesuaian harga obat, karena penetapan ini turut membantu mengendalikan tekanan inflasi medis," ujar Brandon.
Penyakit Kronis Tetap Rentan
Meski penyakit ringan mendominasi jumlah penggunaan obat, Allianz mengingatkan kelompok pasien penyakit kronis tetap menjadi kelompok yang paling rentan terhadap kenaikan harga obat.
Pasien diabetes, hipertensi, penyakit jantung, hingga penyakit kronis lainnya membutuhkan terapi jangka panjang sehingga setiap kenaikan harga obat akan langsung memengaruhi pengeluaran rumah tangga.
Pada 2025, Allianz mencatat harga obat untuk terapi diabetes meningkat sekitar 10%, sedangkan obat hipertensi naik hingga 15% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat beban biaya kesehatan tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya harga obat, tetapi juga frekuensi konsumsi obat yang harus dilakukan secara rutin.
Di sisi lain, tingginya angka penyakit ringan menunjukkan bahwa pengeluaran kesehatan rumah tangga juga dapat membengkak akibat pembelian obat yang dilakukan berulang kali sepanjang tahun.
Karena itu, masyarakat dinilai perlu mulai menghitung biaya kesehatan secara lebih menyeluruh, tidak hanya ketika menghadapi penyakit berat, tetapi juga terhadap penyakit sehari-hari yang sering dianggap sepele.
Dr. Argie mengatakan ketika seseorang jatuh sakit, biaya yang harus disiapkan tidak hanya berasal dari konsultasi dokter maupun tindakan medis, melainkan juga kebutuhan obat yang sering kali luput dari perencanaan keuangan keluarga.
Menurutnya, di tengah tren kenaikan biaya kesehatan, masyarakat perlu memiliki strategi perlindungan kesehatan agar risiko finansial akibat kebutuhan pengobatan yang tidak terduga dapat diminimalkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 3Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 4Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 5Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 6FIFA ASEAN Cup: PSSI Rilis 23 Pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes dan Beckham Putra Absen
- 7Kenapa Thailand Ingin Berantas Ikan Nila Hitam? Ini 5 Alasannya
- 8Prediksi Skor Juventus vs NEC Nijmegen 18 September 2026: Siapa yang Akan Menang?
- 9Dana Reses dari Fee Percepatan Haji, BAP Gus Alex Ungkap Permintaan Pimpinan Komisi VIII
- 10PAN Potong Gaji Anggota Dewan, Rp8 Miliar Terkumpul untuk Bantu Korban Bencana










