Akurat

Prediksi Market 2026: Rekomendasi Saham dan Prospek Emas

Idham Nur Indrajaya | 27 Februari 2026, 08:00 WIB
Prediksi Market 2026: Rekomendasi Saham dan Prospek Emas
Acara Golden Hours – Iftar & Market Prediction yang diselenggarakan Nanovest di Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026

AKURAT.CO Volatilitas IHSG, tensi geopolitik global, hingga arah suku bunga membuat banyak investor muda bertanya: ke mana arah pasar tahun depan? Prediksi market 2026 menjadi pembahasan krusial karena 2025 ditutup dengan dinamika yang tidak biasa—likuiditas ketat, rotasi sektor, serta perubahan perilaku investor dari spekulatif menuju lebih disiplin.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah pelaku industri mulai mengarahkan fokus pada fundamental, money flow institusi, serta kombinasi aset growth dan defensive. Tahun 2026 dipandang bukan lagi era “cepat kaya”, melainkan fase kedewasaan pasar.

Lalu bagaimana outlook IHSG 2026? Sektor apa yang potensial? Dan strategi portofolio seperti apa yang relevan untuk Gen Z dan milenial?


Prediksi Market 2026

Berdasarkan diskusi pada acara Golden Hours – Iftar & Market Prediction yang diselenggarakan Nanovest di Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026, outlook 2026 mengarah pada:

  • IHSG yang lebih selektif, ditopang money flow institusi

  • Saham fundamental kembali dilirik

  • Sektor finansial dan teknologi/AI tetap menjadi motor pertumbuhan

  • Emas bertahan sebagai safe haven (higher for longer)

  • Strategi investasi bergeser dari spekulatif ke disiplin jangka panjang

Chief Marketing Officer Nanovest, Jovita Widjaja, menilai 2026 bukan sekadar soal memilih aset yang sedang naik, tetapi tentang membangun mentalitas investor yang lebih matang.

Menurutnya, fokus utama ke depan adalah edukasi pasar dan kemampuan investor memahami risiko di tengah volatilitas global.


Outlook IHSG 2026: Peran Money Flow Institusi

Dalam membaca outlook IHSG 2026, faktor utama yang disorot adalah aliran dana institusi.

Tjoe Ay, CMO Jarvis Asset Management, menyatakan bahwa arah IHSG sangat bergantung pada peningkatan money flow dari institusi seperti dana pensiun, asuransi, dan BPJS. Jika aliran dana institusi meningkat, maka:

  • Likuiditas pasar bertambah

  • Volatilitas lebih terkendali

  • Saham berfundamental kuat berpotensi outperform

Artinya, pendekatan berbasis fundamental kembali dominan dibanding sekadar mengikuti tren jangka pendek.

"Kalau institution flow meningkat maka saham fundamental akan mendapatkan more money flow. Jadi 2026, saham fundamental boleh di lirik," kata Tjoe Ay.

Sejalan dengan itu, Jovita menekankan bahwa di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya stabil, investor perlu tetap rasional.

Ia melihat banyak investor, khususnya Gen Z dan milenial, mudah terombang-ambing oleh sentimen geopolitik dan isu global. Karena itu, edukasi menjadi kunci untuk membantu investor tetap tenang saat market berfluktuasi.


Rekomendasi Saham 2026: Finansial dan AI Jadi Motor Pertumbuhan

Untuk pasar global, terutama saham AS, sektor finansial dan teknologi masih diproyeksikan kuat.

Beberapa nama yang tetap menjadi sorotan antara lain:

  • JPMorgan Chase

  • Visa

  • Mastercard

  • NVIDIA

  • Microsoft

1️⃣ Sektor Finansial

Normalisasi aktivitas ekonomi dan stabilisasi suku bunga mendorong kinerja bank serta perusahaan pembayaran digital. Model bisnis dengan arus kas kuat dan basis pelanggan luas menjadikan sektor ini relatif defensif saat volatilitas meningkat.

2️⃣ Prediksi Saham AI 2026

Monetisasi AI mulai masuk fase nyata, bukan sekadar narasi. Perusahaan teknologi besar telah mengintegrasikan kecerdasan buatan ke produk komersial, sehingga pertumbuhan lebih berbasis revenue riil.

Namun, selektivitas menjadi kunci. Valuasi tetap perlu diperhatikan agar investor tidak terjebak di harga puncak hanya karena euforia teknologi.


Prediksi Emas 2026: Safe Haven Masih Relevan

Di tengah ketidakpastian global, investasi emas 2026 tetap menarik. Beberapa faktor pendukungnya:

  • Potensi pelonggaran kebijakan bank sentral

  • Risiko geopolitik

  • Volatilitas pasar saham

Jovita mengakui bahwa minat terhadap emas meningkat signifikan. Meski kripto masih mendominasi dari sisi volume transaksi, tren pembelian emas menunjukkan penguatan.

Menurutnya, kondisi pasar yang “ingin kuat tapi masih takut” membuat sebagian investor beralih ke aset yang lebih stabil. Emas berperan sebagai penyeimbang portofolio saat saham mengalami koreksi.


Fokus ke Profil Risiko, Bukan FOMO

Dalam konteks strategi portofolio 2026, Jovita mengingatkan pentingnya memahami profil risiko sebelum masuk ke instrumen tertentu.

Banyak investor pemula tergoda mengikuti tren—baik kripto, saham teknologi, maupun aset lain—tanpa mempertimbangkan kemampuan menahan volatilitas.

"Yang pasti, pertimbangkan risk profile. Kalau misalkan risk profile tidak bisa yang high risk, tapi gara-gara orang investasi kripto lagi naik dan kamu ikut, itu salah," katanya.

Pendekatan yang lebih sehat adalah bertanya:

  • Apakah saya siap menghadapi drawdown besar?

  • Apakah saya mampu menambah posisi saat harga turun tanpa panik?

Jika tidak, maka komposisi portofolio perlu disesuaikan.

Pesan ini relevan dalam outlook IHSG 2026 yang diperkirakan masih fluktuatif akibat ketidakpastian kebijakan dan faktor eksternal.


Strategi Portofolio 2026 untuk Gen Z & Milenial

Investment expert Jason Nathanael menjelaskan bahwa portofolio ideal ke depan bukan lagi soal memilih satu aset terbaik, melainkan mengombinasikan beberapa peran aset.

“Portofolio ideal ke depan bukan lagi soal memilih satu aset terbaik, melainkan mengkombinasikan beberapa peran aset. Aset pertumbuhan menangkap peluang ekonomi baru, sementara aset defensif menjaga daya beli. Investor muda justru punya keunggulan waktu, sehingga strategi seimbang sejak awal akan jauh lebih berdampak dalam jangka panjang," ujar Jason dalam kesempatan yang sama.

Strategi yang dinilai relevan:

  • 60–70% saham growth & fundamental

  • 20–30% emas atau aset defensif

  • 10% likuiditas untuk peluang koreksi

Jovita menambahkan bahwa diversifikasi lintas instrumen menjadi semakin penting. Platform investasi kini menyediakan berbagai pilihan—mulai dari kripto, saham AS, hingga emas—agar investor dapat menyesuaikan dengan profil risikonya.

Data internal menunjukkan hingga 2025 terdapat lebih dari 1,1 juta pengguna terverifikasi (KYC), dengan pertumbuhan trading volume sekitar 70% secara tahunan (YoY). Namun peningkatan aktivitas ini juga diiringi perubahan pola pikir: investor mulai membangun kombinasi aset, bukan sekadar all-in pada satu instrumen.


Simulasi Investor Usia 25 Tahun

Misal, investor berusia 25 tahun memiliki dana Rp5 juta per bulan.

Opsi A: 100% Saham Growth
Potensi return tinggi, tetapi risiko drawdown besar saat koreksi.

Opsi B: 70% Saham Fundamental + 30% Emas
Return lebih stabil, volatilitas lebih terkendali, dan psikologis lebih kuat saat market turun.

Dalam horizon 10–15 tahun, strategi kombinasi cenderung lebih sustain dibanding pendekatan satu sektor saja.


2026 Bukan Era “Cepat Kaya”

Jika periode 2021–2023 didominasi euforia dan FOMO, maka 2026 berpotensi menjadi fase seleksi alami:

  • Saham tanpa fundamental kuat akan tertinggal

  • Investor impulsif lebih rentan rugi

  • Likuiditas hanya mengalir ke emiten berkualitas

Baik dari sisi institusi maupun investor ritel, pasar menunjukkan tanda-tanda kedewasaan. Edukasi, disiplin, dan diversifikasi menjadi pembeda utama.


Kenapa Outlook Market 2026 Penting?

Karena:

  • Suku bunga global belum sepenuhnya stabil

  • Ketegangan geopolitik bisa memicu volatilitas

  • Likuiditas domestik bergantung pada institusi

Outlook market membantu investor:

  • Menghindari keputusan emosional

  • Menyusun strategi portofolio 2026

  • Mengatur ekspektasi return secara realistis


Penutup: Momentum Refleksi Finansial

Tahun 2026 diproyeksikan menjadi fase kedewasaan investor. Bukan lagi soal siapa paling cepat untung, tetapi siapa paling disiplin menjaga strategi.

Seperti ditekankan Jovita, edukasi dan pemahaman profil risiko menjadi fondasi utama menghadapi pasar yang dinamis. Diversifikasi bukan sekadar teori, melainkan kebutuhan nyata di tengah volatilitas.

Karena waktu terbaik memulai investasi bukan saat pasar sempurna—melainkan saat kita memahami tujuan dan toleransi risiko kita sendiri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.