Ekonomi Syariah Dinilai Jadi Pilar Pertumbuhan Inklusif Indonesia

AKURAT.CO Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan bahwa ekonomi syariah memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan, terutama di tengah tantangan krisis global yang melanda banyak negara.
Dalam peluncuran The State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2024/2025, Rachmat menjelaskan bahwa ekonomi syariah bukan hanya sekadar sistem keuangan alternatif, melainkan pendekatan menyeluruh yang menggabungkan nilai-nilai etika, tanggung jawab sosial, dan keberlanjutan lingkungan.
“Ekonomi syariah adalah sistem alternatif yang menggabungkan nilai etika, tanggung jawab sosial, dan keberlanjutan. Di tengah krisis global, ini menjadi peluang untuk membangun tata kelola ekonomi yang lebih inklusif,” ujar Rachmat dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (10/7/2025).
Baca Juga: Reindustrialisasi Jadi Strategi Utama Bappenas Lepas dari Middle Income Trap
Rachmat menekankan bahwa sistem ekonomi Islam berakar pada prinsip-prinsip spiritual dan universal, seperti keadilan, kesetaraan, dan keseimbangan. Konsep muamalah dalam Islam mendorong praktik perdagangan yang adil dan etis, menolak eksploitasi, serta menekankan keseimbangan dalam distribusi kekayaan.
Lebih jauh, ia menyebutkan bahwa nilai-nilai ekonomi syariah sangat sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam pandangan ini, keuntungan ekonomi harus selaras dengan pelestarian lingkungan, pemerataan sosial, dan kesejahteraan jangka panjang.
“Ekonomi Islam memberikan model menarik untuk pertumbuhan inklusif karena dapat melindungi kelompok rentan, memberdayakan usaha kecil, dan menghargai inovasi yang etis,” imbuhnya.
Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dan masyarakat yang majemuk, Indonesia memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi pemimpin dalam ekonomi syariah global.
Nilai-nilai persaudaraan seperti Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim) dan Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) menjadi dasar dalam membangun ekosistem halal yang tangguh.
Baca Juga: Bappenas Gandeng IBC Tarik Investasi Swasta
Rachmat menilai bahwa kearifan lokal Indonesia harus tetap dijaga dalam pengembangan ekonomi syariah, sembari merangkul standar global agar daya saing nasional meningkat.
“Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi ekonomi syariah di Indonesia. Kalau kita bersinergi, saling memperkuat, dan menyatukan potensi yang tersebar di berbagai sektor, ekonomi syariah Indonesia bukan hanya akan tumbuh, tetapi bisa menjadi kekuatan utama di tingkat global,” tegasnya.
Dalam SGIE Report 2024/2025, Indonesia kembali menempati posisi ketiga sebagai negara dengan ekosistem ekonomi Islam terbaik di dunia, hanya kalah dari Malaysia dan Arab Saudi.
Capaian ini memperlihatkan konsistensi dan komitmen Indonesia dalam membangun sektor ekonomi halal, termasuk keuangan syariah, makanan halal, modest fashion, hingga pariwisata halal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 4Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 7Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 8Kalender Jawa 23 September 2026: Watak Weton Rabu Pon Dikenal Cerdas dan Mudah Bergaul
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK







