AKURAT.CO Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai hantavirus, penyakit zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus. BRIN menjelaskan virus ini dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal tergantung jenis infeksinya.
Dalam keterangan resmi BRIN disebutkan bahwa penularan hantavirus paling sering terjadi melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Partikel virus dapat menyebar melalui udara ketika kotoran atau urine mengering lalu terhirup manusia.
BRIN menilai penting bagi masyarakat memahami pola penularan dan gejala awal penyakit agar risiko infeksi dapat ditekan. Virus ini termasuk penyakit zoonosis yang perlu diantisipasi karena dapat berkembang menjadi kondisi serius apabila tidak ditangani dengan cepat.
BRIN Jelaskan Cara Penularan Hantavirus
BRIN menjelaskan hantavirus umumnya ditularkan dari hewan pengerat ke manusia. Penularan dapat terjadi ketika seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Selain melalui udara, penularan juga dapat terjadi lewat kontak langsung dengan benda atau permukaan yang telah terkontaminasi. Risiko infeksi meningkat ketika seseorang menyentuh area wajah sebelum mencuci tangan.
BRIN juga menyebut gigitan tikus terinfeksi berpotensi menularkan virus, meski kasus tersebut tergolong jarang terjadi. Hingga saat ini, penularan antarmanusia disebut sangat terbatas dan hanya ditemukan pada jenis virus tertentu.
“Penularan hantavirus paling sering terjadi melalui inhalasi partikel virus dari urine, saliva, atau feses rodensia yang terinfeksi,” tulis BRIN.
Gejala dan Pencegahan Perlu Diwaspadai
Menurut BRIN, gejala awal hantavirus umumnya mirip flu seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, dan tubuh lemas. Pada kondisi lebih berat, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius atau masalah pada ginjal.
BRIN menjelaskan terdapat dua sindrom utama akibat hantavirus, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang berkaitan dengan gangguan ginjal dan pembuluh darah.
Untuk pencegahan, BRIN mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus di sekitar rumah. Penggunaan alat pelindung seperti masker dan sarung tangan juga dianjurkan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi.
Selain itu, BRIN meminta masyarakat menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya serta memastikan makanan dan area penyimpanan tetap bersih dari hewan pengerat.
BRIN menilai peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pola penularan dan gejala hantavirus menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit zoonosis tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 2KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 3Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 4Pindar UKU Salurkan Rp687,18 Miliar dengan Pinjaman Macet Hanya 2,48 Persen, Jaga Keseimbangan Pertumbuhan dan Risiko
- 5Prediksi Skor Porto vs Napoli 5 November 2026: Tuan Rumah Berpeluang Menang
- 6Prediksi Skor Dortmund vs Betis 5 November 2026: Mampukah Die Borussen Hentikan Rekor Sempurna Tim Tamu?
- 7Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 8Masuki Usia 8 Tahun, Pindar UKU Bidik Pertumbuhan Lewat Penguatan Kolaborasi dengan Lembaga Keuangan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar








