Startup AI India Bikin Heboh karena Ternyata Bukan Pakai AI, Tapi Tenaga Manusia

AKURAT.CO Sebuah startup mengklaim mampu mengembangkan aplikasi dengan bantuan AI. Namun, kenyataannya mereka justru mengandalkan tenaga manusia di balik layar.
Builder.ai, yang didukung Microsoft, mempekerjakan ratusan insinyur di India untuk menyamar sebagai chatbot AI bernama Natasha. Padahal, perusahaan mengaku sebagai platform pengembang aplikasi otomatis berbasis AI.
Alih-alih mengandalkan AI untuk membuat aplikasi, Builder.ai justru menggunakan Natasha sebagai 'topeng'. Chatbot ini sebenarnya dioperasikan oleh insinyur yang berinteraksi dengan klien dan menulis kode secara manual.
Praktik ini menjadi contoh nyata dari fenomena AI-washing. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika perusahaan mengklaim menggunakan teknologi AI secara luas, padahal kenyataannya tidak demikian.
Fenomena serupa sebelumnya terjadi di berbagai industri. Salah satunya Coca-Cola, yang mengklaim bahwa produk Y3000 Zero Sugar dibuat bersama AI, namun tidak memberikan penjelasan rinci soal peran AI dalam proses tersebut.
Sementara perusahaan-perusahaan berlomba memasukkan AI untuk menarik perhatian. Namun, survei Pew Research Center menunjukkan publik masih ragu, sebagaimana dikutip dari Sea Mashable, Sabtu (7/6/2025).
Hanya 24 persen responden yang percaya AI akan memberi manfaat, sedangkan 43 persen justru merasa teknologi ini berbahaya. Bahkan, sebagian besar lebih memilih berinteraksi dengan manusia ketimbang chatbot AI.
Tak hanya soal transparansi AI, Builder.ai juga tersandung masalah keuangan. Perusahaan dituduh melebih-lebihkan pendapatan hingga tiga kali lipat.
Klaim pendapatan sebesar \$220 juta (sekitar Rp3,5 triliun) ternyata hanya \$50 juta (sekitar Rp813 miliar). Hal ini memicu penyitaan dana sebesar \$37 juta (sekitar Rp602 miliar) oleh pemberi pinjaman.
Perusahaan dilaporkan berutang \$85 juta (sekitar Rp1,3 triliun) kepada Amazon dan \$30 juta (sekitar Rp488 miliar) kepada Microsoft. Utang ini terkait layanan cloud yang belum dibayar.
Builder.ai kini mengajukan kebangkrutan di Inggris, India dan Amerika Serikat. Perusahaan menyatakan di LinkedIn sedang menunjuk administrator untuk mengelola bisnis setelah gagal pulih dari masalah keuangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









