Telegram Akhirnya Gabung dengan Skema Perlindungan Anak

AKURAT.CO Setelah bertahun-tahun menolak untuk bergabung dengan program perlindungan anak, Telegram kini bekerja sama dengan Internet Watch Foundation (IWF). Hal ini bertujuan untuk menghentikan penyebaran materi pelecehan seksual anak (CSAM) di platform tersebut.
IWF, organisasi internasional yang membantu layanan online mendeteksi dan menghapus CSAM, menyebut keputusan ini sebagai langkah 'transformasional' bagi Telegram. Meski begitu, IWF memperingatkan bahwa ini baru awal dari perjalanan panjang.
"Dengan bergabung dengan IWF, Telegram dapat mulai menyebarkan alat-alat terkemuka dunia kami untuk membantu memastikan materi ini tidak dapat dibagikan di layanan," kata Derek Ray-Hill selaku CEO Interim di IWF, dikutip dari Bbc.com, Jumat (6/12/2024).
Keputusan Telegram ini diumumkan empat bulan setelah pendiri mereka, Pavel Durov, ditangkap di Paris atas tuduhan gagal memoderasi konten ilegal. Telegram sebelumnya dikenal sebagai aplikasi yang mengutamakan privasi pengguna, sering kali mengabaikan norma yang diikuti platform media sosial lainnya.
Namun, Telegram kerap disalahgunakan untuk perdagangan narkoba, kejahatan dunia maya, hingga penyebaran CSAM. Kondisi ini membuat Telegram dijuluki sebagai 'dark web in your pocket'.
Sejak penangkapan Durov, Telegram mengumumkan beberapa langkah untuk memperbaiki citranya, termasuk:
- Menyerahkan data IP dan nomor telepon pelanggar ke polisi sesuai permintaan hukum.
- Menonaktifkan fitur 'orang terdekat' yang rawan penyalahgunaan oleh bot dan penipu.
- Merilis laporan transparansi reguler terkait konten yang dihapus, mengikuti praktik standar industri.
Pavel Durov juga berjanji meningkatkan sistem moderasi di Telegram agar lebih baik.
Peran IWF dalam Keamanan Online
IWF merupakan organisasi yang secara legal dapat melacak dan menghapus konten CSAM. Telegram menyebut bahwa sebelum bergabung dengan IWF, mereka sudah menghapus ratusan ribu materi pelecehan tiap bulan.
Keanggotaan ini akan memperkuat mekanisme mereka dalam mencegah penyebaran konten berbahaya.
Meski Telegram dikenal dengan enkripsi ujung-ke-ujung, sebagian besar komunikasi di platform ini sebenarnya menggunakan enkripsi standar, menimbulkan pertanyaan terkait keamanannya.
Dengan kehadiran hampir 950 juta pengguna di seluruh dunia, Telegram kini mencoba memperbaiki reputasinya, terutama di pasar-pasar utama seperti Rusia, Ukraina, Iran, dan negara-negara bekas Uni Soviet.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Unggah Video Veda Ega Pratama Salip David Munoz, Akun Resmi MotoGP 'Diserbu' Netizen
- 2Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 3Komposisi Pemain Asing Persija Belum Penuh, Manajer Minta Soal Skuad Percayakan ke Shin Tae-yong
- 4Kalender Jawa 21 September 2026: Watak Weton Senin Legi, Sopan dan Mudah Bergaul
- 5Diduga Singgung Status Pendatang Shin Tae-yong, Direktur Teknik Java United Lakukan Rasisme?
- 6Asian Games: Pebulutangkis Juara Dunia Junior Thailand Dinyatakan Positif Doping
- 7Jose Mourinho Tunjukkan Gambar Pelanggaran, Babak Baru Perang Real Madrid dan Wasit?
- 8BPJPH Apresiasi PT Anindya Wiraputra Siap Verifikasi Produk Halal di Luar Negeri
- 9Prabowo Perkuat Industri Tekstil, Lindungi Jutaan Pekerja dan Produk Nasional
- 10Utang BLBI Warisan 98 Lunas, Menkeu: Presiden Prabowo Sambut Baik Penyelesaian Ini








