Akurat Logo

Dua Kunci Kebahagiaan Menurut Islam yang Jarang Diketahui Banyak Umat Islam

Lufaefi | 26 Oktober 2026, 05:23 WIB
Dua Kunci Kebahagiaan Menurut Islam yang Jarang Diketahui Banyak Umat Islam
Ilustrasi Kebahagiaan Seorang Muslim- Istimewa

AKURAT.CO Kebahagiaan sering kali dipahami sebagai sesuatu yang datang dari luar diri. Memiliki pekerjaan yang mapan, penghasilan besar, rumah yang nyaman, atau kehidupan sosial yang menyenangkan kerap dianggap sebagai ukuran seseorang telah mencapai kebahagiaan.

Namun, Islam menawarkan perspektif yang berbeda. Kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh banyaknya sesuatu yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan seseorang mengelola dirinya, terutama ketika menghadapi situasi yang memancing emosi.

Di antara ajaran yang sering dianggap sederhana, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap kualitas hidup seorang Muslim adalah menahan amarah dan menjaga lisan.

Keduanya tampak sederhana. Namun dalam kehidupan sehari-hari, dua hal tersebut justru menjadi ujian yang tidak mudah. Seseorang dapat kehilangan hubungan baik hanya karena satu kalimat yang diucapkan ketika marah. Perselisihan keluarga, konflik pertemanan, hingga pertengkaran di media sosial sering kali bermula dari ketidakmampuan mengendalikan emosi dan ucapan.

Al-Qur'an secara tegas memberikan perhatian terhadap kemampuan mengendalikan amarah. Allah SWT berfirman:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Yaitu orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali 'Imran: 134).

Ayat tersebut menarik karena menempatkan kemampuan menahan amarah dalam rangkaian karakter orang bertakwa. Menahan amarah bukan berarti seseorang tidak boleh merasa marah. Marah merupakan bagian dari emosi manusia. Persoalannya adalah bagaimana emosi tersebut dikendalikan agar tidak berubah menjadi tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Baca Juga: Etika Lingkungan dalam Al-Qur'an: Solusi Islami Terhadap Kerusakan Alam Akibat Ulah Manusia

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bahkan memberikan penekanan khusus terhadap kemampuan mengendalikan kemarahan.

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan dalam Islam tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan fisik. Kekuatan yang lebih mendasar justru terletak pada kemampuan menguasai diri.

Dalam kehidupan modern, prinsip tersebut menjadi semakin relevan. Ketika komunikasi berlangsung cepat melalui media sosial, seseorang dapat dengan mudah menanggapi komentar dalam keadaan emosi. Satu unggahan atau komentar dapat ditulis dalam beberapa detik, tetapi dampaknya bisa berlangsung jauh lebih lama.

Karena itu, menahan diri sebelum merespons dapat menjadi bentuk kecerdasan emosional sekaligus praktik akhlak Islam.

Kunci kedua adalah menjaga lisan. Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap ucapan karena kata-kata dapat menjadi sumber kebaikan, tetapi juga dapat menjadi sumber kerusakan.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini tidak berarti Islam mengajarkan seseorang untuk selalu diam. Justru yang ditekankan adalah kualitas ucapan. Ketika sebuah perkataan membawa manfaat, menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, atau memberikan penguatan kepada orang lain, maka berbicara dapat menjadi amal kebaikan.

Sebaliknya, ketika ucapan berpotensi menyakiti, memfitnah, merendahkan, atau memperbesar konflik, diam dapat menjadi pilihan yang lebih bijaksana.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi