Akurat Logo

Panduan Singkat Etika Berdakwah di Ruang Publik

Lufaefi | 24 Oktober 2026, 06:00 WIB
Panduan Singkat Etika Berdakwah di Ruang Publik
Dakwah di Sosial Media - Istimewa

AKURAT.CO Dakwah hari ini tidak lagi hanya berlangsung di masjid, pesantren, majelis taklim, atau ruang-ruang pengajian. Satu unggahan di media sosial, video berdurasi satu menit, komentar di kolom berita, bahkan percakapan di ruang publik dapat menjadi bagian dari aktivitas dakwah.

Namun, luasnya ruang dakwah juga menghadirkan tantangan. Pesan agama yang sebenarnya baik dapat kehilangan maknanya ketika disampaikan dengan cara yang kasar, merendahkan, atau gemar menyalahkan orang lain. Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan apa yang disampaikan dalam dakwah, tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya.

Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat jelas dalam berdakwah. Allah berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Nahl: 125).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa dakwah memiliki dimensi etis. Hikmah berarti kemampuan menempatkan pesan pada situasi, orang, dan kondisi yang tepat. Sementara mau‘izhah hasanah menuntut agar nasihat diberikan dengan cara yang baik, bukan dengan penghinaan.

Baca Juga: Keutamaan Wafat dalam Perjalanan Menolong Anak Menurut Islam

Rasulullah SAW juga memberikan teladan penting tentang kelembutan. Beliau bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim).

Dalam konteks ruang publik, prinsip ini menjadi semakin penting. Seorang pendakwah perlu membedakan antara mengkritik gagasan dan menyerang pribadi. Perbedaan pemahaman keagamaan tidak otomatis menjadi alasan untuk memberikan label buruk kepada orang lain.

Etika dakwah juga menuntut ketelitian informasi. Jangan sampai sebuah potongan video, kutipan ayat, hadis, atau pernyataan tokoh disebarkan tanpa memeriksa sumber dan konteksnya. Dakwah yang dibangun di atas informasi yang keliru justru dapat menimbulkan fitnah.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah memahami siapa audiensnya. Bahasa dakwah kepada anak-anak tentu berbeda dengan bahasa kepada akademisi. Demikian pula cara menyampaikan nasihat kepada masyarakat umum tidak selalu sama dengan forum kajian ilmiah.

Di media sosial, seorang pendakwah juga perlu menyadari bahwa setiap unggahan memiliki jejak digital. Kalimat yang ditulis dalam hitungan detik dapat dibaca ribuan orang dan bertahan jauh lebih lama daripada yang dibayangkan.

Karena itu, sebelum mengunggah sebuah nasihat, ada baiknya bertanya: apakah informasi ini benar? Apakah cara penyampaiannya baik? Apakah tulisan ini memberikan manfaat? Apakah ada pihak yang direndahkan? Dan apakah pesan tersebut benar-benar mendekatkan manusia kepada kebaikan?

Baca Juga: Cara Cerdas Mengatur Keuangan Rumah Tangga Secara Islami Agar Bebas Riba dan Berkah

Dakwah bukan perlombaan untuk menjadi yang paling keras. Dakwah adalah upaya mengajak manusia menuju kebaikan dengan cara yang memungkinkan pesan tersebut diterima dan direnungkan.

Di tengah ruang publik yang semakin ramai oleh perbedaan pendapat, dakwah yang santun justru memiliki nilai strategis. Ia tidak kehilangan ketegasan, tetapi mampu menjaga martabat manusia.

Sebab, tujuan dakwah bukan sekadar memenangkan perdebatan. Lebih jauh dari itu, dakwah adalah menghadirkan pesan Islam sebagai rahmat, petunjuk, dan jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi