Akurat Logo

Begini Adab Mengingatkan Pemimpin Menurut Syariat Islam

Lufaefi | 24 Oktober 2026, 06:40 WIB
Begini Adab Mengingatkan Pemimpin Menurut Syariat Islam
Pemimpin dalam Islam - Istimewa

AKURAT.CO Dalam kehidupan bernegara, kritik terhadap pemimpin merupakan bagian dari kontrol sosial. Ketika sebuah kebijakan dinilai keliru, masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan keberatan. Namun, Islam tidak hanya berbicara tentang keberanian menyampaikan kritik. Islam juga mengajarkan bagaimana kritik itu disampaikan agar tidak berubah menjadi fitnah, penghinaan, atau permusuhan.

Seorang pemimpin pada dasarnya memegang amanah yang besar. Al-Qur’an menegaskan bahwa amanah harus disampaikan kepada yang berhak dan setiap persoalan harus diputuskan dengan adil.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kekuasaan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Karena itu, ketika terjadi penyimpangan, masyarakat tidak seharusnya bersikap masa bodoh.

Rasulullah SAW bahkan memberikan perhatian besar terhadap keberanian menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa. Dalam sebuah hadis disebutkan:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan perkataan yang adil di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Baca Juga: Keutamaan Wafat dalam Perjalanan Menolong Anak Menurut Islam

Pesannya jelas: mengingatkan pemimpin dapat menjadi amal yang mulia apabila dilakukan untuk menegakkan keadilan, bukan sekadar melampiaskan kebencian.

Namun, ada persoalan penting: bagaimana cara mengingatkannya?

Islam mengajarkan qaulan sadida, yakni perkataan yang benar dan tepat. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70).

Artinya, kritik harus dibangun berdasarkan fakta. Jangan menyebarkan tuduhan yang belum terverifikasi, memotong pernyataan, atau mengubah informasi demi membangun kemarahan publik.

Adab berikutnya adalah menjaga bahasa. Kritik boleh tegas, tetapi tidak harus kasar. Rasulullah SAW dikenal mengutamakan kelembutan dalam menyampaikan nasihat. Bahkan ketika Nabi Musa dan Nabi Harun diperintahkan menghadapi Fir'aun, Allah berfirman:

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut.” (QS. Taha: 44).

Jika terhadap Fir'aun saja terdapat perintah untuk menggunakan perkataan yang lembut, tentu kritik terhadap pemimpin dalam konteks kehidupan bermasyarakat juga semestinya mempertimbangkan etika.

Di era media sosial, tantangannya menjadi lebih kompleks. Satu unggahan dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam hitungan menit. Kritik yang awalnya ditujukan kepada sebuah kebijakan dapat berubah menjadi serangan personal.

Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara mengkritik kebijakan dan merendahkan pribadi. Jika terdapat dugaan penyalahgunaan kekuasaan, sampaikan melalui mekanisme hukum dan institusi yang tersedia. Jika sebuah kebijakan dianggap merugikan masyarakat, jelaskan persoalan, data, dan alternatif solusinya.

Pada saat yang sama, pemimpin juga perlu membuka ruang kritik. Pemimpin yang hanya ingin mendengar pujian akan sulit mengetahui kelemahan pemerintahannya. Kritik yang objektif justru dapat menjadi mekanisme koreksi agar kekuasaan tetap berada di jalur amanah.

Baca Juga: Hukum dan Batasan Mengurus Anggota Keluarga ODGJ Menurut Islam

Pada akhirnya, Islam tidak mengajarkan masyarakat untuk menjadi penguasa yang selalu dipuji, tetapi juga tidak mengajarkan kritik tanpa batas. Hubungan antara rakyat dan pemimpin idealnya dibangun di atas prinsip amar makruf, keadilan, nasihat, dan tanggung jawab bersama.

Mengingatkan pemimpin adalah hak sekaligus tanggung jawab. Tetapi cara menyampaikannya menentukan apakah kritik tersebut menjadi jalan perbaikan atau justru menambah kerusakan. Dalam perspektif Islam, keberanian berkata benar harus berjalan bersama kejujuran, adab, tabayyun, dan niat menjaga kemaslahatan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi