Mimpi Bertemu Allah dan Rasulullah, Apakah Bisa Dibenarkan Menurut Islam?

AKURAT.CO Klaim seorang warga berinisial AA di Sumberbaru, Jember, Jawa Timur, yang mengaku bertemu langsung dengan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW menjadi perbincangan di media sosial. Pengakuan tersebut menuai kecaman publik dan memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana Islam memandang pengalaman spiritual, khususnya mimpi bertemu Allah dan Rasulullah.
Dalam Islam, pengalaman mimpi memiliki kedudukan tersendiri. Namun, tidak semua mimpi dapat dijadikan dasar untuk menetapkan kebenaran agama. Karena itu, klaim pengalaman spiritual seseorang perlu dipahami secara hati-hati dengan merujuk pada Al-Qur'an, hadis, dan penjelasan para ulama.
Apakah Manusia Bisa Melihat Allah SWT?
Dalam akidah Islam, Allah SWT tidak dapat disamakan dengan makhluk dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Allah berfirman dalam QS. Asy-Syura ayat 11:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat."
Ayat tersebut menegaskan keunikan dan kemahasucian Allah dari segala keserupaan dengan makhluk. Oleh karena itu, seseorang tidak dapat menggambarkan Allah seperti manusia atau makhluk lain berdasarkan imajinasi maupun pengalaman pribadinya.
Baca Juga: Hukum Meminta Hujan saat Musim Kemarau dalam Islam
Adapun persoalan melihat Allah dalam mimpi dibahas oleh para ulama dengan sejumlah perincian. Sebagian ulama membolehkan kemungkinan seseorang mengalami mimpi tentang Allah, tetapi pengalaman tersebut tidak berarti orang itu melihat hakikat Zat Allah atau dapat memastikan bahwa gambaran yang dialaminya merupakan representasi Allah yang sebenarnya.
Dengan demikian, klaim seseorang mengenai pengalaman spiritual dalam mimpi tidak dapat langsung dijadikan bukti bahwa ia benar-benar melihat Allah SWT dalam hakikat-Nya.
Bagaimana Hukum Mimpi Bertemu Nabi Muhammad SAW?
Berbeda dengan persoalan melihat Allah, mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW memiliki dasar yang jelas dalam hadis sahih. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي
"Barang siapa melihatku dalam mimpi, sungguh ia telah melihatku, karena setan tidak dapat menyerupai diriku." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menjadi landasan pembahasan para ulama mengenai kemungkinan seseorang bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Namun, para ulama juga membahas pentingnya memastikan bahwa sosok yang terlihat sesuai dengan karakteristik Nabi yang dikenal melalui riwayat yang dapat dipercaya.
Pengalaman mimpi tersebut juga tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang memiliki kedudukan spiritual lebih tinggi daripada orang lain. Mimpi tidak menjadikan seseorang terbebas dari kewajiban agama dan tidak memberinya otoritas khusus untuk mengubah ajaran Islam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 2Pengurus PCNU Serahkan Bukti dan Kembalikan Uang Risywah Muktamar ke KPK
- 3Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 4Daftar 26 Produk Indonesia yang Disebut Diboikot di Malaysia Usai FIFA ASEAN Cup 2026
- 5Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 6Di Balik Sukses Emil Audero di Final, Ada Rasa Cemas yang Dirasakan Sang Ayah
- 7Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 8Sejarah Pekan Antariksa Dunia: Mengapa Diperingati 4–10 Oktober?
- 9Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara
- 10Peluang Gibran di Pilpres 2029 Tetap Terbuka Lebar Meski Lawan Politik Terus Bermanuver






