Akurat Logo

Rupiah Berpotensi Melemah, Pasar Waspadai Konflik dan Harga Energi

Esha Tri Wahyuni | 9 Oktober 2026, 07:50 WIB
Rupiah Berpotensi Melemah, Pasar Waspadai Konflik dan Harga Energi
Ilustrasi rupiah melemah atas dolar AS

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan berikutnya.

Tekanan terhadap rupiah datang dari penguatan indeks dolar AS serta meningkatnya risiko geopolitik yang berpotensi mengerek harga energi global.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen eksternal masih menjadi perhatian utama pasar. Konflik di Timur Tengah, khususnya risiko gangguan terhadap pasokan dan pelayaran minyak, berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global.

"Konflik yang terus berlanjut antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran juga membuat pasar waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan lebih lanjut," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Kamis (8/10/2026) malam.

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Bergerak Rp17.750-Rp18.050 per Dolar AS

Menurut Ibrahim, ancaman terhadap pelayaran minyak di kawasan Teluk dan Selat Hormuz kembali meningkat. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting bagi perdagangan energi global sehingga gangguan berkepanjangan dapat berdampak terhadap harga minyak dan ekspektasi inflasi.

"Ancaman terhadap pelayaran minyak di Teluk dan Selat Hormuz telah meningkat pada bulan Oktober seiring dengan konflik antara AS-Israel dan Iran yang memasuki bulan kedelapan," ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi pasar karena kenaikan harga energi dapat kembali memicu tekanan inflasi di sejumlah negara. Jika inflasi bertahan tinggi, ruang pelonggaran kebijakan moneter bank sentral utama, khususnya Federal Reserve (The Fed), menjadi semakin terbatas.

Pasar saat ini secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober setelah memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada September.

Namun, risiko inflasi yang kembali meningkat akibat tingginya harga energi membuat peluang perubahan kebijakan pada pertemuan berikutnya masih menjadi perhatian investor.

Baca Juga: Rupiah Akhirnya Menguat ke Rp17.882 di Penghujung Pekan

Ibrahim menilai kondisi tersebut dapat menjaga permintaan terhadap dolar AS dan pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Risiko inflasi yang terus berlanjut, yang sebagian didorong oleh tingginya harga energi, membuat kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan pada bulan Desember tetap terbuka," jelasnya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.