Akurat Logo

7 Tips Islami untuk Anda yang Ingin Menikah tapi Belum Cukup Harta

Lufaefi | 24 September 2026, 07:40 WIB
7 Tips Islami untuk Anda yang Ingin Menikah tapi Belum Cukup Harta
Ilustrasi Menikah - Istimewa

AKURAT.CO Keinginan untuk menikah sering kali berhadapan dengan satu persoalan yang membuat banyak orang ragu: belum memiliki harta yang cukup. Ada yang sudah memiliki pasangan, tetapi masih menunda pernikahan karena penghasilan belum besar, belum punya rumah, atau merasa belum mampu memenuhi standar kehidupan yang dianggap ideal.

Dalam Islam, persoalan harta memang tidak boleh diabaikan dalam pernikahan. Namun, kemampuan menikah tidak selalu berarti harus memiliki kekayaan atau kehidupan serba lengkap terlebih dahulu. Islam mengajarkan tanggung jawab, kesungguhan, dan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar sesuai kondisi masing-masing.

Allah SWT berfirman dalam QS An-Nur ayat 32:

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu, baik laki-laki maupun perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”

Ayat tersebut sering dipahami sebagai dorongan agar persoalan kemiskinan tidak menjadi satu-satunya alasan untuk menutup pintu pernikahan. Namun, ayat ini juga tidak berarti seseorang boleh mengabaikan tanggung jawab ekonomi setelah menikah.

Baca Juga: Logo Hari Santri 2026, Ini Link Download dan Filosofinya

Lantas, apa yang dapat dilakukan seseorang yang ingin menikah tetapi kondisi ekonominya belum mapan?

  1. Bedakan antara belum kaya dan belum mampu

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membedakan antara “belum kaya” dengan “belum mampu”. Pernikahan tidak mensyaratkan seseorang harus mempunyai rumah mewah, kendaraan baru, tabungan besar, atau penghasilan yang tinggi.

Yang lebih penting adalah kemampuan memenuhi kebutuhan pokok dan kesediaan menjalankan tanggung jawab sesuai kemampuan.

Karena itu, jangan menjadikan gaya hidup orang lain sebagai ukuran kemampuan diri sendiri. Pernikahan setiap orang memiliki kondisi ekonomi dan kebutuhan yang berbeda.

  1. Hitung kemampuan secara realistis

Keinginan menikah tetap perlu disertai perhitungan. Calon pasangan dapat duduk bersama membicarakan penghasilan, kebutuhan sehari-hari, tempat tinggal, biaya pernikahan, dan rencana kehidupan setelah menikah.

Jangan hanya menghitung biaya pesta. Justru kebutuhan setelah akad perlu menjadi perhatian utama, seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, transportasi, pendidikan, serta kebutuhan rumah tangga lainnya.

Rasulullah SAW juga memberikan perhatian pada kemampuan ketika menganjurkan pernikahan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ

“Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang telah mampu, hendaklah ia menikah.”

Kemampuan dalam hadis tersebut tidak semata-mata dapat dipersempit menjadi kekayaan, tetapi berkaitan dengan kesiapan dan kemampuan menjalankan konsekuensi pernikahan.

  1. Sederhanakan pesta, jangan membebani diri

Salah satu hal yang membuat pernikahan terasa mahal adalah standar pesta yang semakin tinggi. Padahal, akad dan walimah dapat dilaksanakan sesuai kemampuan.

Jika kondisi ekonomi belum memungkinkan mengadakan pesta besar, tidak perlu memaksakan diri berutang dalam jumlah besar hanya demi memenuhi gengsi sosial.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi