Akurat Logo

Profil Lengkap KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Gontor yang Pidatonya Viral di Depan Prabowo

Lufaefi | 22 September 2026, 05:53 WIB
Profil Lengkap KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Gontor yang Pidatonya Viral di Depan Prabowo
KH Hasan Abdullah - IKPM

AKURAT.CO Nama KH Hasan Abdullah Sahal kembali menjadi perhatian publik setelah potongan pidatonya dalam perayaan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor beredar luas di media sosial.

Pidato tersebut disampaikan KH Hasan Abdullah Sahal dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026). Acara tersebut turut dihadiri Presiden Prabowo Subianto.

Dalam kesempatan itu, KH Hasan menyampaikan sejumlah pesan mengenai kehidupan pemimpin, kesederhanaan, integritas, serta pentingnya keteladanan.

Salah satu bagian yang banyak diperbincangkan adalah ketika ia menyampaikan kepada Presiden Prabowo mengenai gaya hidup seorang pemimpin.

Baca Juga: Di Balik Rencana Sekolah Gratis Prabowo: Setiap Anak Berhak Dapat Pendidikan Layak

"Saya ingin menyampaikan kepada Bapak Presiden, boleh disaksikan. Kalau makan saya, pakaian saya, kendaraan saya, rumah saya, apa lagi, melebihi makanan santri, pakaian santri, kendaraan santri, rumah santri, protes boleh," kata KH Hasan dalam pidatonya.

Ia juga menyinggung fenomena orang yang mengejar jabatan, gelar, materi, dan popularitas. Ungkapan "cari muka" digunakan dalam bagian pidatonya ketika membahas perilaku yang terlalu berorientasi pada pengakuan dan kepentingan pribadi.

Di luar potongan pidato yang viral, KH Hasan merupakan salah satu pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Dalam profil resmi Gontor, ia tercatat lahir di Desa Gontor, Ponorogo, pada 24 Mei 1947 dan merupakan putra keenam KH Ahmad Sahal, salah satu pendiri Gontor bersama KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi.

KH Hasan menempuh pendidikan dasar hingga Kulliyatul Mu'allimin Al-Islamiyyah (KMI) di Gontor. Ia menyelesaikan pendidikan KMI pada 1965, kemudian melanjutkan studi di Fakultas Ushuluddin Institut Pendidikan Darussalam (IPD) sambil mengajar di KMI.

Pada 1967, ia melanjutkan pendidikan ke Fakultas Da'wah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah. Pada 1992, ia memperdalam kajian hadis di Universitas Al-Azhar, Mesir.

Dalam perjalanan pengabdiannya di Gontor, KH Hasan tercatat menjadi pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor sejak 1985. Ia memimpin pondok tersebut bersama pimpinan lainnya.

Selain aktif dalam kepemimpinan pesantren, KH Hasan juga dikenal melalui berbagai kegiatan pendidikan dan dakwah. Gontor mencatat sejumlah karya tulisnya, antara lain Membina Keluarga Muslim, Pegangan Para Qori', Obsesi Hasan Abdullah Sahal, Ceramah-Ceramah Kontemporer, dan Allamatnil Hayah.

Dalam peringatan satu abad Gontor, KH Hasan juga menyerahkan buku Gontor untuk Indonesia dan Mushaf Gontor kepada Presiden Prabowo. Sekretariat Negara menyebut buku tersebut mendokumentasikan sejarah, peran, dan kiprah alumni Gontor dalam berbagai bidang pengabdian kepada Indonesia.

Baca Juga: Surpres RUU Migas Ditandatangani Prabowo, ESDM Siapkan Tim Susun DIM

Peringatan 100 tahun Gontor berlangsung pada 18–20 September 2026. Momentum tersebut menjadi bagian dari refleksi perjalanan Gontor selama satu abad sekaligus memasuki fase pengabdian pada abad berikutnya.

Potongan pidato KH Hasan yang beredar di media sosial kemudian membuat sosok pimpinan Gontor tersebut kembali menjadi perhatian publik. Di balik gaya penyampaiannya yang spontan, isi pidatonya menyoroti sejumlah tema yang selama ini lekat dengan pendidikan pesantren, seperti integritas, kesederhanaan, keteladanan, dan kemandirian.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi