Muslim yang Memberi Ucapan Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus, Apakah Musyrik?

AKURAT.CO Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus adalah bagian dari keyakinan inti dalam ajaran Kristen.
Umat Kristen memperingatinya sebagai momen ketika Yesus, yang mereka imani sebagai Tuhan dan Juru Selamat, naik ke surga setelah kebangkitannya dari kematian.
Ucapan seperti "Selamat hari kenaikan Tuhan Yesus" jelas bukan sekadar basa-basi sosial—ucapan itu menyiratkan pengakuan terhadap doktrin ketuhanan Yesus, yang bagi seorang Muslim adalah bentuk penolakan terhadap keesaan Allah.
Lalu, apakah jika seorang Muslim mengucapkan hal tersebut, ia serta-merta menjadi musyrik?
Pertama, kita harus pahami makna syirik dari perspektif Islam. Dalam bahasa Arab, syirik berasal dari kata شرك yang berarti "menyekutukan".
Dalam konteks teologis, syirik adalah mempersekutukan Allah dengan sesuatu selain-Nya dalam hal-hal yang merupakan hak eksklusif Allah: seperti ibadah, pengakuan sebagai Tuhan, dan penetapan hukum.
Al-Qur’an menegaskan dengan sangat keras:
إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
Artinya: "Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh Allah haramkan surga baginya dan tempatnya adalah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun." (QS. Al-Ma'idah: 72).
Baca Juga: Adakah Ucapan Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus yang Tidak Melanggar Aturan Islam?
Jika kita menyatakan ucapan yang mengakui ketuhanan Yesus, walaupun sekadar dalam bentuk sapaan atau ucapan selamat, kita sedang masuk ke wilayah yang sangat sensitif—karena telah menyebut Yesus sebagai Tuhan, sebuah penyebutan yang dari lisan seorang Muslim adalah bentuk penyelewengan makna tauhid.
Tapi perlu diperjelas: apakah langsung dikategorikan musyrik?
Dalam banyak pandangan ulama, tidak semua perbuatan yang mengarah ke syirik langsung membuat pelakunya keluar dari Islam. Ada yang menyebutnya sebagai syirik kecil (syirkun asghar) jika dilakukan karena ketidaktahuan atau tanpa keyakinan dalam hati.
Namun jika seseorang mengucapkan "Selamat hari kenaikan Tuhan Yesus" dengan sadar bahwa itu berarti mengakui Yesus sebagai Tuhan, maka pernyataan itu bisa menjadi bentuk syirik akbar (syirik besar), karena ia telah mengucapkan sesuatu yang bertentangan langsung dengan inti tauhid.
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Ahkam Ahl al-Dzimmah menyatakan bahwa mengucapkan selamat atas hari raya keagamaan yang mengandung unsur kekufuran adalah dosa besar, bahkan lebih berbahaya dari memberi ucapan selamat atas perbuatan zina atau pembunuhan. Karena ucapan itu menunjukkan keridhaan terhadap kekufuran.
Baca Juga: Bolehkah Muslim Memberi Ucapan Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus?
Namun, jika seorang Muslim melakukannya karena ketidaktahuan, tekanan sosial, atau sekadar ikut-ikutan tanpa niat mengakui ketuhanan selain Allah, maka ia berdosa, tapi belum tentu dikategorikan sebagai musyrik secara langsung. Ini wilayah yang harus dibedakan: antara pelaku dosa besar dan pelaku kesyirikan eksplisit. Tapi tetap saja, ini bukan wilayah yang bisa diremehkan.
Islam bukan hanya agama ibadah formal. Islam adalah agama tauhid yang mendidik umatnya untuk menjaga lisan dan hati dari segala bentuk pengakuan terhadap ketuhanan selain Allah. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
Artinya: "Sesungguhnya seseorang berkata dengan satu kata yang membuat Allah murka, yang ia tidak anggap berat, namun karenanya ia terjerumus ke dalam neraka Jahannam." (HR. Bukhari)
Kesimpulannya: seorang Muslim yang memberi ucapan selamat atas Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus telah berkata sesuatu yang sangat berbahaya bagi akidahnya.
Bila ia melakukannya dengan penuh kesadaran dan keyakinan, maka ia bisa tergelincir ke dalam syirik.
Namun jika karena ketidaktahuan atau sekadar mengikuti budaya, maka ia tetap berdosa besar dan wajib bertaubat.
Dalam urusan tauhid, lebih baik diam daripada berkata yang bisa menjerumuskan. Sebab sekali lisan tergelincir, yang jadi taruhan bukan sekadar reputasi sosial—tapi keimanan itu sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 3Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 4Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 5Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 6Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 7Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 8Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK








