AKURAT.CO Di banyak desa di Asia dan Afrika, daun kelor (Moringa oleifera) tumbuh liar dan dianggap sayur biasa. Namun, riset ilmiah membuktikan bahwa tanaman ini adalah superfood alami, dengan kandungan nutrisi dan khasiat medis yang mengungguli banyak tanaman herbal lainnya.
Dr. Monica Marcu, ahli farmakologi yang pernah bekerja di National Institutes of Health (NIH), menyebut kelor dalam bukunya “Miracle Tree” sebagai tanaman yang kaya antioksidan, anti-peradangan, dan anti-kanker alami, dengan profil nutrisi yang luar biasa luas.
Profil Nutrisi yang Mengesankan
Menurut data dari Food and Agriculture Organization (FAO), 100 gram daun kelor segar mengandung:
Vitamin C: 220 mg (lebih tinggi dari jeruk)
Vitamin A: 378 µg (baik untuk mata dan imunitas)
Kalsium: 440 mg (4 kali lebih tinggi dari susu)
Zat Besi: 7 mg (pencegah anemia)
Protein: 6,7 gram (setara dengan telur)
FAO dalam publikasinya “Moringa: A multi-purpose tree that can improve nutrition and livelihoods” menyebut kelor sebagai solusi gizi masa depan di wilayah rawan pangan.
Bukti Ilmiah Daun Kelor, Bukan Mitologi
Sebuah studi oleh Dr. B.S. Asiedu dari Kwame Nkrumah University of Science and Technology, Ghana, dalam jurnal BMC Complementary and Alternative Medicine (2015), menemukan bahwa ekstrak kelor menurunkan kadar gula darah pada pasien prediabetes dan meningkatkan sensitivitas insulin.
Sementara itu, riset yang dipublikasikan di Asian Pacific Journal of Cancer Prevention (2011), mengungkap bahwa senyawa isothiocyanate dalam daun kelor mampu menghambat pertumbuhan sel kanker kolorektal dan pankreas pada hewan uji.
Pelancar ASI
World Health Organization (WHO) dalam Guideline: Essential Newborn Care mencatat bahwa konsumsi daun kelor terbukti meningkatkan produksi ASI, didukung oleh riset klinis di Filipina yang membandingkan efektivitas kelor dengan domperidone.
Dr. Jed Fahey, ahli biokimia dari Johns Hopkins University yang telah mempelajari kelor selama dua dekade, menyatakan bahwa Moringa memiliki potensi luar biasa sebagai tanaman penyelamat nutrisi ibu dan anak di negara berkembang.
Peringatan dan Batas Aman Konsumsi
Meski aman secara umum, kelor mengandung senyawa alkaloid yang tidak disarankan dikonsumsi berlebihan oleh wanita hamil, terutama dalam bentuk ekstrak pekat. WHO menyarankan konsumsi daun segar atau bubuk kelor tidak lebih dari 30 gram per hari.
Dengan kandungan gizi tinggi, harga murah, dan manfaat luas, daun kelor menjelma dari “sayur kampung” menjadi herbal global yang diperhitungkan. Penelitian terus dilakukan, dan para ilmuwan seperti Dr. Fahey dan Dr. Marcu menjadi pionir dalam membawanya dari ladang desa ke meja laboratorium dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 34 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 4Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 5Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 6Asuransi Astra Serahkan Toyota Veloz Hybrid kepada Dommy Eriko, Pemenang Undian GASPOL 2026
- 7Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 8Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai




