Jerman Resmi Borong Rudal Tomahawk dari AS, Kanselir Merz: Tutup Celah Strategis Pertahanan

AKURAT.CO Jerman resmi mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk membeli rudal jelajah jarak jauh Tomahawk buatan AS. Kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut langkah tersebut sebagai upaya menutup celah penting dalam sistem pertahanan nasional di tengah meningkatnya ancaman keamanan di Eropa.
Pengumuman itu disampaikan Merz pada Kamis (9/7/2026), setelah menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki. Menurutnya, kesepakatan dengan pemerintahan Presiden Donald Trump dicapai di sela-sela pertemuan para pemimpin NATO pekan ini.
"Langkah ini akan menutup kesenjangan strategis penting dalam pertahanan kami. Pada saat yang sama, kami juga akan mengembangkan sistem pertahanan buatan Eropa dan menempatkannya di kawasan Eropa," kata Merz dalam pidatonya di parlemen Jerman.
Rudal Tomahawk dikenal sebagai salah satu senjata serang jarak jauh andalan militer Amerika Serikat. Rudal ini dirancang untuk menghantam sasaran jauh di wilayah musuh dengan tingkat akurasi tinggi.
Meski memiliki kecepatan lebih rendah dibandingkan rudal modern lainnya, Tomahawk mampu terbang sangat rendah, sekitar 30 meter di atas permukaan tanah. Karakteristik tersebut membuatnya lebih sulit dideteksi oleh sistem pertahanan udara lawan.
Dengan jangkauan sekitar 1.600 kilometer, Tomahawk mampu menyerang target strategis jauh di pedalaman wilayah musuh dan telah menjadi bagian dari persenjataan militer AS sejak dekade 1980-an.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, Amerika Serikat dijadwalkan memberikan persetujuan resmi pada Agustus mendatang agar Jerman dapat mengakuisisi sejumlah rudal Tomahawk beserta peluncur darat Typhoon. Namun, jumlah rudal yang akan dibeli belum diumumkan kepada publik.
Pemerintah Jerman juga menegaskan bahwa kerja sama ini tidak mencakup penempatan personel militer Amerika Serikat untuk mengoperasikan sistem tersebut. Seluruh pengoperasian nantinya akan berada di bawah kendali Jerman.
Kesepakatan ini menjadi bagian dari penguatan kerja sama pertahanan antara Washington dan sekutu-sekutunya di Eropa. Situasi keamanan kawasan berubah drastis sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 2022, mendorong negara-negara NATO meningkatkan kemampuan militernya.
Dalam perkembangan terpisah, Presiden Donald Trump juga mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan memberikan lisensi kepada Ukraina untuk memproduksi sistem pertahanan udara Patriot di dalam negeri. Kebijakan tersebut dinilai sebagai dukungan besar bagi Kyiv dalam menghadapi serangan rudal Rusia.
Sementara itu, upaya Jerman memperoleh rudal Tomahawk sebenarnya telah berlangsung sejak 2023. Kesepakatan yang dicapai pada KTT NATO kali ini menjadi langkah konkret pertama menuju modernisasi kemampuan serangan jarak jauh negara tersebut.
Sumber: PBS
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK







