Eks PM Jepang Tomiichi Murayama Wafat, Dikenang karena Permintaan Maaf atas Perang Dunia II

AKURAT.CO Mantan Perdana Menteri Jepang Tomiichi Murayama, sosok yang dikenal luas karena pernyataannya berisi permintaan maaf resmi Jepang atas kekejaman Perang Dunia II, meninggal dunia pada Jumat (17/10/2025) di usia 101 tahun.
Kabar duka tersebut disampaikan oleh Mizuho Fukushima, Ketua Partai Demokrat Sosial, yang menyebut Murayama meninggal pukul 11.28 waktu setempat di sebuah rumah sakit di Kota Oita, Prefektur Oita. Fukushima menulis kabar itu melalui unggahan di platform X.
Murayama menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang dari 30 Juni 1994 hingga 11 Januari 1996, di masa yang disebut penuh tantangan. Selama pemerintahannya, Jepang dilanda gempa besar di wilayah barat pada 1995 dan serangan gas sarin di kereta bawah tanah Tokyo yang menewaskan belasan orang serta melukai lebih dari 5.800 lainnya.
Pernyataan Bersejarah Tahun 1995
Nama Murayama melekat kuat dalam sejarah modern Jepang melalui “Pernyataan Murayama” yang disampaikannya pada Agustus 1995, bertepatan dengan 50 tahun kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.
Dalam pidatonya yang dikutip CNA, ia menyampaikan penyesalan mendalam atas penderitaan yang disebabkan oleh penjajahan dan agresi Jepang terhadap negara-negara Asia.
“Jepang, melalui penjajahan dan agresinya, telah menyebabkan kerusakan dan penderitaan luar biasa bagi masyarakat di banyak negara, khususnya bangsa-bangsa di Asia. Dengan kerendahan hati, saya menyampaikan perasaan penyesalan mendalam dan permintaan maaf yang tulus,” kata Murayama saat itu.
Pernyataan tersebut menjadi landasan diplomasi moral Jepang dan terus diadopsi oleh perdana menteri berikutnya dalam peringatan 60 dan 70 tahun berakhirnya perang.
Latar Belakang dan Pandangan Hidup
Tomiichi Murayama lahir di Prefektur Oita dan bergabung dengan Angkatan Darat Kekaisaran Jepang pada 1944 saat masih menjadi mahasiswa. Dalam wawancara dengan NHK pada 2015, ia menggambarkan pengalaman militernya sebagai sesuatu yang “mengerikan”, karena pembangkangan terhadap perintah sama sekali tidak diperbolehkan.
Murayama juga mengenang masa-masa sulit menjelang akhir perang ketika kelaparan meluas dan senjata sangat terbatas.
“Kami bahkan menggunakan senjata dari bambu. Saya bertanya-tanya, apakah kami bisa berperang dalam kondisi seperti itu,” ujarnya saat itu.
Dikenal karena alis tebal dan gaya sederhana, Murayama tetap dihormati di Jepang sebagai tokoh moral yang berani menghadapi sejarah bangsanya secara terbuka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 2Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 3Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 4Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 5Pindar UKU Salurkan Rp687,18 Miliar dengan Pinjaman Macet Hanya 2,48 Persen, Jaga Keseimbangan Pertumbuhan dan Risiko
- 6Prediksi Skor Porto vs Napoli 5 November 2026: Tuan Rumah Berpeluang Menang
- 7Blue Bird Cetak Laba Rp474 Miliar, Salah Satunya Ditopang oleh Keuntungan Penjualan Armada yang Melonjak
- 8Jadwal Siaran Langsung Liga Champions Malam Ini: Barcelona vs Aston Villa, MU vs AS Roma
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar







