Tiga Tokoh yang Kini Memimpin Sementara Iran Pasca Tewasnya Khamenei

AKURAT.CO Otoritas Iran mengumumkan pembentukan dewan kepemimpinan sementara beranggotakan tiga orang untuk menjalankan tugas pemimpin tertinggi setelah tewasnya Ali Khamenei dalam serangan Amerika Serikat dan Israel.
Dilansir oleh Press TV, Minggu (1/3/2026), langkah ini diambil berdasarkan Pasal 111 Konstitusi Iran yang mengatur bahwa tugas pemimpin tertinggi dapat dijalankan sementara oleh sebuah dewan hingga pengganti resmi dipilih.
Sementara itu, pemerintah Iran telah berjanji akan membalas serangan yang menewaskan Khamenei, dan dalam beberapa hari terakhir melancarkan serangan terhadap aset Israel serta Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Apa Itu Dewan Kepemimpinan Sementara?
Dewan tersebut terdiri dari Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, serta anggota Dewan Garda Alireza Arafi.
Ketiganya akan menjalankan tugas-tugas pemimpin tertinggi hingga Majelis Ahli memilih pengganti tetap Khamenei.
Baca Juga: Presiden Iran: Pembunuhan Ali Khamenei Adalah Deklarasi Perang Terbuka Melawan Umat Muslim Dunia
Siapa Saja Mereka?
1. Ayatollah Alireza Arafi
Arafi merupakan anggota Dewan Garda sejak 2019. Lembaga ini memiliki kewenangan meninjau undang-undang agar sesuai dengan prinsip Islam, menyetujui kandidat pemilu, memiliki hak veto atas legislasi parlemen, serta mengawasi pelaksanaan pemilu.
Ia juga menjabat sebagai wakil ketua Majelis Ahli, lembaga yang bertugas memilih dan mengawasi pemimpin tertinggi. Selain itu, Arafi memimpin salat Jumat di Kota Qom—pusat keagamaan utama Iran—dan mengepalai sistem pendidikan seminari yang membina ulama di seluruh negeri.
2. Masoud Pezeshkian
Pezeshkian (71) dikenal sebagai politisi reformis sekaligus ahli bedah jantung. Ia pernah bertugas dalam militer saat Perang Iran-Irak dan terpilih sebagai presiden pada pemilu 2024.
Sebelumnya, ia menjabat sebagai Menteri Kesehatan di era Presiden Mohammad Khatami serta menjadi anggota parlemen dari Tabriz setelah 2005. Dalam kampanyenya, Pezeshkian menekankan stabilisasi ekonomi, pelonggaran pembatasan sosial, serta keterlibatan konstruktif dengan dunia internasional, sembari tetap setia pada kerangka konstitusional Republik Islam.
Menanggapi pembunuhan Khamenei, Pezeshkian menyatakan Iran menganggap “sebagai kewajiban dan hak sahnya untuk membalas para pelaku dan dalang kejahatan bersejarah ini”.
3. Gholam-Hossein Mohseni-Ejei
Mohseni-Ejei adalah tokoh ulama senior yang memimpin lembaga peradilan sejak ditunjuk Khamenei pada Juli 2021. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Menteri Intelijen (2005–2009), jaksa agung, serta wakil ketua Mahkamah Agung.
Ia dikenal sebagai figur garis keras yang dekat dengan kubu konservatif pemerintahan. Pada Januari lalu, ketika nilai tukar rial anjlok dan memicu protes, Mohseni-Ejei berjanji tidak akan menunjukkan “kelonggaran” terhadap apa yang disebutnya sebagai “perusuh”.
Baca Juga: Donald Trump Ancam Lakukan Pembalasan atas Kematian Tiga Tentara AS oleh Iran
Proses Suksesi dan Situasi Terkini
Di tengah meningkatnya ketegangan, para pemimpin agama Iran mulai memproses pemilihan pemimpin tertinggi yang baru. Di sisi lain, Presiden AS saat ini kembali menyerukan perubahan pemerintahan di Iran, sementara Teheran menegaskan akan mempertahankan sistemnya.
Dengan dewan sementara kini memegang kendali, perhatian dunia tertuju pada bagaimana proses suksesi berlangsung serta bagaimana konflik regional yang memanas akan memengaruhi stabilitas politik Iran dalam beberapa hari mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









