Yang Perlu Diketahui dari Vonis Seumur Hidup WN Ukraina oleh PN Bali: Roman Nazarenko

AKURAT.CO Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Bali, Kamis (18/9) menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Roman Nazarenko, warga negara Ukraina berusia 40 tahun, setelah terbukti memproduksi narkoba di sebuah vila di Bali. Berikut rangkaian fakta penting yang menjelaskan duduk perkara kasus ini.
Ditangkap Setelah Tujuh Bulan Buron
Kasus ini berawal dari penggerebekan polisi pada Mei 2024 di sebuah vila di Bali yang ternyata menjadi laboratorium rahasia untuk menanam ganja hidroponik dan memproduksi prekursor ekstasi. Nazarenko sempat melarikan diri dan menjadi buronan Interpol selama tujuh bulan, hingga akhirnya ditangkap di Bandara Internasional Bangkok, Thailand, pada Desember 2024 saat mencoba kabur ke Dubai.
Peran Penting dalam Produksi Narkoba
Dalam persidangan, jaksa menyebut Nazarenko memiliki peran besar sebagai pengendali jaringan. Ia diduga merekrut orang untuk bekerja, menyediakan peralatan laboratorium, membawa benih ganja dari luar negeri, sekaligus mengawasi proses produksi. Meski Nazarenko mengaku menyesal dan berkilah bahwa dirinya hanya ditipu oleh Oleg Tkachuck—warga Rusia yang disebut sebagai dalang utama—majelis hakim menilai bukti yang diajukan jaksa cukup kuat untuk menegaskan perannya sebagai salah satu penggerak utama.
Vonis Tegas dari Majelis Hakim
Ketua Majelis Hakim Eni Martiningrum menegaskan tidak ada alasan pemaaf atas perbuatan terdakwa. Dalam sidang pembacaan putusan pada Kamis (18/9/2025), ia menyatakan bahwa kejahatan yang dilakukan Nazarenko dapat merusak mental generasi muda, sehingga vonis seumur hidup dijatuhkan sebagai hukuman setimpal.
Jaringan Narkoba Internasional
Perkara ini juga mengungkap jaringan narkoba lintas negara. Oleg Tkachuck, yang diduga sebagai otak utama, masih menjadi buronan internasional. Sebelumnya, pengadilan yang sama telah menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara kepada dua warga Ukraina, Mykyta dan Ivan Volovod, serta seorang warga Rusia, Konstantin Krutz, yang terbukti membantu memproduksi ganja dan mefedron—bahan baku ekstasi.
Mereka mengaku menerima bayaran puluhan ribu dolar AS dari Tkachuck untuk menyiapkan laboratorium, dengan seluruh transaksi dilakukan melalui aplikasi Telegram dan dibayar menggunakan mata uang kripto.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Trump Akui AS Kembali Serang Iran, Sistem Pertahanan Udara Dihancurkan dalam Hitungan Menit
- 2Moto3 Qatar, Hiroshi Aoyama Terima Penalti Veda Ega Pratama, Tegaskan 'Feeling' Pembalap Bagus
- 3Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 4Kalender Jawa 6 November 2026: Weton Jumat Pahing, Wataknya Dikenal Gigih dan Ambisius
- 5Arab Saudi Ikuti Jejak Timnas Indonesia, Batalkan Laga Melawan Yordania
- 6KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 7Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar








