Transnistria Pisahkan Diri dari Moldova dan Ingin Gabung ke Rusia, Inilah Sebabnya

AKURAT.CO Wilayah Transnistria di Moldova telah menjadi sorotan setelah meminta perlindungan kepada Rusia.
Rusia menyatakan bahwa mereka mungkin akan meluncurkan operasi militer di Moldova. Rencana ini muncul setelah otoritas Transnistria meminta bantuan dari Kremlin.
Dikutip dari Reuters, Otoritas Transnistria telah beberapa kali menyatakan keinginan untuk bergabung dengan Rusia.
Pada Mei 2023, Transnistria meminta bantuan dari Rusia untuk melawan dugaan peningkatan ancaman NATO dan juga klaim mengenai risiko terorisme.
Perwakilan Transnistria di Moskow, Leonid Manakov, juga meminta Rusia untuk meningkatkan jumlah pasukan penjaga perdamaian di wilayah tersebut.
Pada Januari 2024, Presiden Transnistria, Vadim Krasnoselskaya, juga mengklaim bahwa ancaman terhadap wilayahnya meningkat.
Alasan Transnistria ingin gabung ke Rusia
Pihak berwenang di Transnistria telah mengklaim bahwa mereka merasa terancam oleh tindakan pemerintah Moldova selama bertahun-tahun.
Dia menyatakan bahwa peningkatan ancaman itu dibuktikan oleh jumlah anggaran militer yang meningkat, latihan militer bersama NATO, dan pasokan senjata dari negara-negara Eropa lainnya.
Baca Juga: Ukraina Klaim Telah Menembak Jatuh Lagi Tiga Pesawat Tempur Rusia
Pada 21 Februari, pemerintah Transnistria secara tiba-tiba mengumumkan bahwa kondisi di wilayah itu telah memburuk sejak 1 Januari 2024.
Pihak berwenang di Transnistria mengatakan pemerintah Moldova telah menghancurkan perekonomian wilayah itu dan juga melakukan tekanan politik dan ekonomi di wilayah tersebut.
Kondisi tersebut memperburuk situasi bagi populasi Transnistria yang rentan secara sosial.
Otoritas Transnistria kemudian memutuskan untuk menggelar Kongres Deputri pada akhir Februari.
Rencana tersebut disusun tepat sehari sebelum Presiden Vladimir Putin mengadakan pidato kenegaraan tahunan yang dijadwalkan berlangsung pada 29 Februari.
Aktivis tersebut juga berpendapat bahwa Putin mungkin akan menggunakan pidato tersebut untuk menanggapi hasil Kongres Deputi Transnistrian.
Namun, hasil dari kongres tersebut tidak mencakup referendum atau aneksasi wilayah.
Kongres hanya menghasilkan resolusi yang meminta Rusia untuk memberikan perlindungan yang lebih besar kepada 220.000 warga negara Rusia di Transnistria.
Resolusi tersebut juga menyatakan bahwa Transnistria akan terus memperjuangkan identitas, hak, dan kepentingan masyarakatnya di wilayah tersebut.
Sementara itu, Rusia menyatakan bahwa melindungi kepentingan penduduk Transnistria adalah salah satu prioritas mereka.
Transnistria adalah wilayah yang dikuasai oleh kelompok separatis pro-Rusia, dan mereka masih mendapat bantuan dari Rusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Unggah Video Veda Ega Pratama Salip David Munoz, Akun Resmi MotoGP 'Diserbu' Netizen
- 2Kalender Jawa 19 September 2026: Watak Weton Sabtu Wage, Setia dan Berpendirian Kuat
- 3Soal Dualitas Alumni Universitas Trisakti, Menteri Maman: Hanya Ada Satu Ikatan yakni IKA Trisakti
- 4Komposisi Pemain Asing Persija Belum Penuh, Manajer Minta Soal Skuad Percayakan ke Shin Tae-yong
- 5Kalender Jawa 21 September 2026: Watak Weton Senin Legi, Sopan dan Mudah Bergaul
- 6Cuaca Hari Ini 19 September 2026: BMKG Peringatkan Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah
- 7Asian Games: Pebulutangkis Juara Dunia Junior Thailand Dinyatakan Positif Doping
- 8Jose Mourinho Tunjukkan Gambar Pelanggaran, Babak Baru Perang Real Madrid dan Wasit?
- 9OTT Lagi, KPK Amankan Bupati Bolaang Mongondow Utara Bersama 13 Orang Lainnya
- 10Sidang Sudewo Ricuh, KPK Tegaskan Tuntutan Disusun Berdasarkan Fakta









