Terbaru, China Tuntut Ukraina Hapus Perusahaannya dari Daftar Sponsor Perang demi Hubungan Bilateral

AKURAT.CO China pada hari Kamis (1/2/2024) menuntut Ukraina untuk segera menghapus lebih dari selusin perusahaan mereka dari daftar perusahaan yang ditetapkan sebagai sponsor perang internasional.
Dalam pernyataannya, China mengatakan bahwa mereka ingin Ukraina untuk menghilangkan dampak-dampak negatif.
Dikutip dari Reuters, pernyataan China muncul setelah adanya laporan bahwa duta besar mereka di Ukraina mengatakan bahwa masuknya perusahaan-perusahaan tersebut ke dalam daftar dapat merusak hubungan bilateral.
Baca Juga: Update Terkini, Israel Alihkan Fokus Serangan Gaza ke Rafah di Tengah Perundingan Perdamaian
"China dengan tegas menentang dimasukkannya perusahaan-perusahaan mereka ke dalam daftar yang relevan dan menuntut Ukraina untuk segera memperbaiki kesalahannya dan menghilangkan dampak-dampak negatifnya," kata seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China, dikutip Jumat (2/2/2024). Namun tidak menjelaskan apa saja dampak-dampak tersebut.
China diketahui memiliki hubungan dekat dengan Rusia dan telah menahan diri untuk tidak mengkritik invasi negara itu ke Ukraina, namun juga mengatakan bahwa kedaulatan dan integritas teritorial semua negara harus dihormati.
Negeri Tirai Bambu itu telah menawarkan bantuan untuk menjadi penengah dalam perang tersebut.
Sumber tersebut menambahkan bahwa RRT tidak menetapkan syarat apapun untuk Ukraina, namun hanya menyatakan pandangannya mengenai daftar tersebut.
Baca Juga: Lengkap! Daftar Transfer Besar Musim Dingin di Liga Eropa Januari 2024
Sumber kedua menyarankan China dapat mengaitkan masalah ini dengan pembelian biji-bijian Ukraina oleh negara itu.
Sebelum invasi skala penuh Rusia pada 24 Februari 2022, China adalah mitra dagang terbesar Ukraina dan tetap menjadi konsumen penting biji-bijian, minyak bunga matahari dan bijih besi Ukraina.
Daftar hitam tersebut, yang tidak memiliki implikasi hukum bagi perusahaan-perusahaan yang masuk di dalamnya, mempermasalahkan apa yang digambarkan sebagai kerja sama yang luas antara perusahaan-perusahaan China dan Rusia di berbagai sektor termasuk minyak dan gas, sumber pendapatan utama Moskow.
Baca Juga: Mengenal Kataib Hizbullah, Kelompok yang Dituduh Membunuh Tiga Tentara Amerika di Yordania
Perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam laporan ini adalah raksasa energi Cina, China National Petroleum Corporation (CNPC), China Petrochemical Corporation (Sinopec Group), dan China National Offshore Oil Corporation (CNOOC).
Baca Juga: Viral! Apa itu Tower 22? Lokasi Serangan Terhadap Pasukan Amerika Serikat di Yordania
Sinopec dan CNOOC tidak segera menanggapi permintaan komentar. CNPC menyatakan bahwa daftar tersebut bukanlah perkembangan baru.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 4UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 5Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 6Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 7Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 8Saran Meningkatkan Kualitas dan Pemanfaatan Buku Teks dalam Pembelajaran
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon
- 10Hakim Tolak Batalkan Dakwaan Febrie Adriansyah, Perkara Emas 74 Kilogram dan Valas Dilanjutkan ke Pembuktian







