Akurat Logo

Pesantren Didorong Jadi Benteng Pelestarian Naskah Islam Nusantara

Lufaefi | 27 Oktober 2026, 04:52 WIB
Pesantren Didorong Jadi Benteng Pelestarian Naskah Islam Nusantara
Studium General HSN 2026 Mahad Aly Jakarta - Dok. Pribadi

AKURAT.CO Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah Jakarta bersama Lingkar Filologi Ciputat (LFC) dan Dompet Dhuafa menggelar Studium Generale bertajuk “Pesantren sebagai Skriptorium dan Pelestari Naskah Ulama Nusantara” dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026.

Kegiatan yang berlangsung secara hibrida pada Jumat (23/10/2026) itu digelar di Pendopo Lantai 2 Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat, dan diikuti peserta secara daring melalui Zoom. Forum tersebut membahas posisi pesantren dalam menjaga keberlangsungan tradisi intelektual dan manuskrip Islam Nusantara.

General Manager Pengembangan Program Pendidikan, Riset, dan Budaya Dompet Dhuafa, Haryo Mojopahit, mengatakan pelestarian naskah ulama Nusantara tidak hanya berkaitan dengan kepentingan sejarah, tetapi juga menyangkut keberlanjutan pengetahuan dan kebudayaan Islam.

“Penyelamatan naskah kuno karya para ulama bukan sekadar upaya preservasi arkeologis atau sejarah, melainkan investasi peradaban. Sinergi antara lembaga filologi, pesantren, dan filantropi Islam menjadi kunci utama agar khazanah luar biasa di bilik-bilik santri dapat terus diakses dan dirasakan manfaatnya oleh generasi mendatang,” ujar Haryo.

Baca Juga: Peran Pesantren dalam Edukasi Publik Mengenai Larangan Perusakan Alam Perspektif Hukum Syariat

Ketua Lingkar Filologi Ciputat sekaligus dosen Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah Jakarta, Muhamad Abror, mengatakan tradisi penyalinan dan perawatan manuskrip di lingkungan pesantren menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kesinambungan sanad keilmuan Islam di Nusantara.

Manuskrip Dipandang Memiliki Kehidupan Sosial

Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara sekaligus peneliti manuskrip BRIN, Dr. Agus Iswanto, M.A.Hum., dalam forum tersebut menjelaskan pendekatan social codicology dalam melihat manuskrip pesantren.

Menurut Agus, manuskrip tidak semestinya hanya dipandang sebagai benda mati atau objek kajian bahasa dan fisik naskah. Manuskrip juga memiliki kehidupan sosial karena digunakan, disalin, diwariskan, dan berinteraksi dengan komunitas yang merawatnya.

“Pendekatan Social Codicology memandang bahwa manuskrip memiliki ‘kehidupan sosial’ (social life). Manuskrip di pesantren bukan sekadar pembawa teks yang pasif, melainkan instrumen aktif yang membentuk kebudayaan, merekam ruang sintesis keilmuan, serta menggerakkan praktik sosial masyarakat pesantren dari masa ke masa,” kata Agus.

Ia mencontohkan koleksi manuskrip Pondok Pesantren Qomaruddin, Sampurnan, Bungah, Gresik, Jawa Timur, yang berdiri sejak 1747 M.

Menurut Agus, aktivitas penyalinan dan pemberian makna gandul oleh KH Muhammad Sholeh Tsani pada sejumlah kitab, antara lain Safinatun Najah dan Alfiyyah Ibn Malik, menunjukkan kuatnya tradisi verifikasi dan transmisi ilmu di lingkungan pesantren.

Manuskrip tersebut juga membantu peneliti menelusuri sejarah pesantren. Catatan lokal pada kertas Eropa, misalnya, disebut menjadi salah satu bukti untuk mengoreksi penanggalan sejarah berdirinya Pesantren Qomaruddin dari perkiraan sebelumnya pada 1775 M menjadi 1747 M.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi