Akurat Logo

Dari Limbah Kulit Jeruk hingga Deterjen Refill, Anak Muda Lombok Ciptakan Bisnis Hijau dengan Dukungan Allianz

Idham Nur Indrajaya | 18 September 2026, 18:54 WIB
Dari Limbah Kulit Jeruk hingga Deterjen Refill, Anak Muda Lombok Ciptakan Bisnis Hijau dengan Dukungan Allianz
Bisnis hijau di Lombok lahir dari limbah kulit jeruk, jamu lokal, hingga deterjen refill lewat program Ecopower Allianz. - dok. Allianz Indonesia

AKURAT.CO Apa jadinya jika kulit jeruk yang biasanya berakhir sebagai sampah justru diolah menjadi produk pembersih? Atau deterjen tidak lagi hanya dipikirkan sebagai produk rumah tangga, tetapi dikembangkan dengan bahan nabati, kemasan isi ulang, sekaligus memberdayakan perempuan?

Gagasan semacam itu muncul dari anak muda yang mengikuti program Ecopower di Lombok. Melalui program tersebut, bisnis hijau tidak berhenti sebagai konsep tentang lingkungan, tetapi diterjemahkan menjadi ide usaha yang berangkat dari persoalan dan potensi di sekitar masyarakat.

Secara sederhana, bisnis hijau adalah usaha yang berupaya menciptakan nilai ekonomi dengan mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial. Dalam Ecopower, pendekatan tersebut terlihat dari ide pengolahan limbah kulit jeruk, pemanfaatan bahan baku lokal, hingga penggunaan deterjen berbahan nabati dengan sistem isi ulang.

Apa saja contoh bisnis hijau yang lahir dari Ecopower di Lombok?

Tiga ide usaha terpilih dalam Ecopower Ideation Showcase Lombok menggambarkan bentuk bisnis hijau yang berbeda. Eco Orange mengolah limbah kulit jeruk menjadi cairan pembersih dan perangkat DIY, Wayen Sehat Nusantara mengembangkan minuman jamu dengan formulasi apoteker dan bahan baku lokal, sedangkan Renjana Lombok menawarkan deterjen berbahan nabati dalam kemasan isi ulang sekaligus memberdayakan perempuan di Lombok Timur.

Ketiganya menunjukkan satu pola yang sama: ide usaha dapat berawal dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, kemudian diberi nilai tambah melalui inovasi produk dan model bisnis.

Mengapa bisnis hijau di Lombok bisa berawal dari masalah sehari-hari?

Salah satu kesalahpahaman tentang bisnis berkelanjutan adalah anggapan bahwa inovasinya harus selalu menggunakan teknologi canggih. Padahal, tiga ide yang muncul dari Ecopower justru memperlihatkan pendekatan yang lebih sederhana.

Kulit jeruk, misalnya, merupakan benda yang mudah ditemukan dalam aktivitas konsumsi sehari-hari. Ketika dianggap sebagai sampah, nilainya berhenti setelah buah dikonsumsi. Namun, ketika diposisikan sebagai bahan baku, muncul kemungkinan untuk menciptakan produk baru.

Logika serupa terlihat pada deterjen. Produk tersebut bukan barang baru di pasar. Inovasinya justru terletak pada pilihan bahan dan sistem distribusi, yakni penggunaan bahan nabati dan kemasan isi ulang. Artinya, inovasi tidak selalu harus menciptakan kategori produk baru; perubahan dapat dilakukan pada cara sebuah produk dibuat, digunakan, atau dikemas.

Di titik ini, ekonomi sirkular menjadi relevan. Pendekatan tersebut berupaya mempertahankan nilai material selama mungkin sehingga sesuatu yang sebelumnya dianggap akhir dari sebuah siklus dapat kembali masuk ke proses produksi.

Bagaimana Eco Orange mengubah limbah kulit jeruk menjadi peluang bisnis?

Eco Orange yang dikembangkan Nadia Utami menjadi salah satu contoh paling jelas mengenai bagaimana limbah dapat memperoleh nilai ekonomi baru.

Gagasannya adalah mengolah limbah kulit jeruk menjadi cairan pembersih dan perangkat DIY. Dengan demikian, bahan yang sebelumnya berpotensi dibuang diarahkan menjadi bagian dari produk yang memiliki fungsi.

Secara sederhana, modelnya dapat dibaca sebagai:

kulit jeruk → pengolahan → produk pembersih → nilai ekonomi baru.

Hal menarik dari model tersebut bukan semata-mata penggunaan limbah. Nilai bisnis muncul ketika pengolahan itu menghasilkan produk yang memiliki kegunaan bagi konsumen.

Inilah bagian yang sering luput dalam pembicaraan mengenai bisnis ramah lingkungan. Menggunakan bahan yang disebut “hijau” belum otomatis membuat sebuah usaha memiliki model bisnis yang kuat. Produk tetap harus menjawab kebutuhan, memiliki pengguna yang jelas, dan dapat diproduksi secara berkelanjutan.

Dalam konteks Eco Orange, tantangan berikutnya bagi pengembangan usaha adalah bagaimana memastikan ketersediaan bahan baku, konsistensi kualitas produk, biaya pengolahan, serta penerimaan konsumen. Data mengenai aspek-aspek tersebut tidak tersedia dalam narasi program, sehingga belum dapat disimpulkan seberapa besar skala komersial bisnisnya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.