Akurat Logo

Bobotoh Muda Tewas, Erick Thohir Desak Ketegasan Hukum untuk Hentikan 'Lingkaran Setan' Kekerasan Suporter

Dian Eko Prasetio | 26 Oktober 2026, 20:13 WIB
Bobotoh Muda Tewas, Erick Thohir Desak Ketegasan Hukum untuk Hentikan 'Lingkaran Setan' Kekerasan Suporter
Menpora Erick Thohir (kedua kiri) saat meninjau tribun VIP Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (24/9/2026), untukmeninjau kesiapan suntuk FIFA Asean Cup 2026 Grup B pada 25 September-5 Oktober. ANTARA/Raisan Al Farisi

AKURAT.CO, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) sekaligus Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan bahwa keselamatan suporter harus menjadi tanggung jawab bersama.

Erick Thohir menuntut penanganan yang sangat tegas terhadap aksi kekerasan dalam sepakbola, baik yang terjadi di dalam maupun di luar stadion.

Pernyataan keras tersebut disampaikan Erick Thohir menyusul penyelidikan mendalam yang dilakukan Polres Bogor terkait tewasnya seorang remaja berinisial ARK (16). Korban sebelumnya ditemukan tak bernyawa di Jalan Raya Jakarta-Bogor Kilometer 50, Desa Cimandala, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Minggu (25/10/2026) malam.

Korban diduga meregang nyawa akibat serangan senjata tajam saat dalam perjalanan pulang usai menyaksikan pertandingan pekan ketujuh Super League 2026-2027 antara Garudayaksa FC kontra Persib Bandung di Stadion Pakansari, Bogor, yang berakhir dengan skor 1-2 untuk kemenangan tim tamu.

Baca Juga: Persib Bandung Berduka, Bobotoh Tewas Usai Saksikan Laga Lawan Garudayaksa di Bogor

"Yang namanya suporter itu harus pulang ke rumah dengan selamat. Tentu kami dari Menpora dan juga mendukung, saya sebagai Ketua PSSI, harus ada tanggung jawab bersama," kata Erick Thohir saat ditemui di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Erick menggarisbawahi bahwa penanganan insiden kekerasan harus dipetakan berdasarkan lokasi kejadian. Kerusuhan di dalam area lapangan menjadi ranah penegakan regulasi sepakbola, sementara tindak pidana di luar stadion sepenuhnya merupakan ranah proses hukum positif.

Terkait sanksi di dalam lapangan, Erick secara terbuka mendorong operator dan komisi disiplin untuk menjatuhkan hukuman berat berupa pengurangan poin bagi klub yang suporternya berulah. Ia bahkan meminta sanksi maksimal tanpa toleransi jika tragedi kelam seperti Kanjuruhan sampai terulang kembali.

"Kalau masih terjadi, ya, hal seperti Kanjuruhan, ya, itu mohon maaf, sudahlah pengurangan poin sebanyak-banyaknya saja, biar ada jera," tegasnya.

Sementara itu, untuk kasus dugaan penyerangan berdarah di luar stadion, Erick memastikan pihaknya telah bergerak cepat dengan berkoordinasi langsung bersama pihak kepolisian setempat guna mengusut tuntas motif di balik peristiwa tersebut.

"Nanti kita lihat hasil keputusan pihak Polri. Jadi kalau di luar, ya, tempat pertandingan itu sudah hukum, apalagi kalau sampai ada korban jiwa," ungkap Erick.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.