Tenggelam Setelah Euforia Belanja Pemain Dunia Dekade Lalu, Apa Yang Terjadi Dengan Liga Super China?

AKURAT.CO, Hebei dan Guangzhou City adalah dua klub yang pernah menjadi tempat yang menggiurkan para pesepakbola kelas dunia untuk bermain di Liga Super China. Dua klub ini adalah simbol dalam booming sepakbola China pada satu dekade terakhir.
Namun begitu, setelah gelombang uang yang bergairah pada 2016 sebagaimana yang terjadi di Arab Saudi saat ini, kemerosotan melanda Liga Super China dalam tiga tahun terakhir.
Kemunduran ini ditandai pula dengan dibubarkannya Hebei dan Guangzhou City sebagai dua klub yang menjadi simbol kekuatan Liga Super China di pertengahan 2010-an.
Di masa jayanya, Liga Super China bisa mendatangkan pemain seperti Hulk, Ezequiel Lavezzi, Carlos Tevez, dan Oscar. Seperti yang terjadi di Saudi saat ini, sejumlah nama itu datang ketika mereka masih berada di usia puncak sebagai pesepakbola.
Baca Juga: Pemiliknya Dipenjara, Klub Liga Super China Bangkrut Bubarkan Diri
Hulk adalah pemain besar pertama yang mendarat di China pada Juni 2016. Penyerang asal Brasil itu direkrut dari Zenit Saint Petersburg oleh Shanghai SIPG dengan transfer 46 juta Poundsterling dan gaji sebesar 320 ribu Poundsterling per pekan.
Di jajaran pelatih, mereka pernah mempekerjakan Manuel Pellegrini, Seven Goran Erikson, dan pelatih yang membawa Italia menjadi juara Piala Dunia 2006, Marcelo Lippi.
BBC menyebut persoalan finansial membuat Liga Super China merosot setelah euforia di pertengahan dekade kedua abad ke-21.
Diawali dengan pajak tinggi, larangan sponsor mengganti nama klub yang mereka sponsori, dan penetapan batas gaji pemain pada Desember 2020.
Baca Juga: Barcelona Lepas Mascherano ke Liga Super China
Di tahun-tahun sebelum itu, di China sendiri ada kekhawatiran bahwa mereka terlalu banyak mengeluarkan uang untuk membeli pemain.
Namun puncaknya adalah pandemi Covid-19 di mana China bisa dikatakan sebagai negara yang paling disalahkan dalam wabah global tersebut. Sejumlah perusahaan properti yang membiayai sepakbola mulai kesulitan keuangan.
“Setelah beberapa bulan, masalah keuangan bermula. Ketika itu mereka (klub) punya masalah dengan para pemain China,” kata eks pemain Hebei asal Bosnia, Samir Memisevic, yang bermain untuk Hebei sejak 2020.
“Mereka tidak membayar mereka selama beberapa bulan dan saya yakin di akhir tahun Hebei bakal tidak ada lagi.”
Hal lain adalah korupsi di pejabat elite sepakbola dan pengelola kompetisi domestik. Eks Ketua Asosiasi Sepakbola China, Chen Xuyuan, adalah salah satu yang menghadapi tuduhan tersebut.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 24 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 4Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 5Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 6Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 7Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai



