Akurat

Kisah Hidup Bang RAN, Tempaan Panti Asuhan Kini Jadi Pengusaha Sukses

Annisa Fadhilah | 15 Oktober 2025, 17:38 WIB
Kisah Hidup Bang RAN, Tempaan Panti Asuhan Kini Jadi Pengusaha Sukses

AKURAT.CO Setiap orang memiliki titik awal yang berbeda, namun semangat untuk mengubah takdir adalah milik semua.

Kisah hidup Bang RAN, pengusaha muda asal Samarinda, adalah potret nyata dari adagium tersebut. Perjalanannya yang dimulai dari keterbatasan ekonomi keluarga, dididik oleh kerasnya disiplin panti asuhan, hingga kini menjadi inspirasi bagi puluhan ribu orang, membuktikan bahwa masa lalu bukanlah penentu masa depan.

Lahir pada 25 Agustus 1998 dari keluarga sederhana, Bang RAN, atau nama lengkapnya Ranto Siagian, harus menghadapi kenyataan pahit di usia muda.

Kondisi ekonomi keluarga yang terpuruk membuat orang tuanya mengambil keputusan berat untuk menitipkannya di sebuah panti asuhan. Tujuannya satu, yakni agar Bang RAN tetap bisa mengenyam pendidikan.

Baca Juga: Lakukan Ini, Kebiasaan Baik Untuk Menjadi Pengusaha Sukses

Panti Asuhan: Universitas Kehidupan yang Sebenarnya

Jauh dari anggapan sebagai tempat yang menyedihkan, bagi Bang RAN, panti asuhan adalah kawah candradimuka yang membentuknya. Selama tiga tahun, dari kelas 1 hingga lulus SMK, dia ditempa menjadi pribadi yang tangguh dan kaya akan keterampilan.

"Sebelum masuk panti, saya bisa dibilang minim skill. Di sanalah saya pertama kali belajar main musik, belajar bicara di depan umum saat bertemu donatur, dan terbiasa dengan disiplin serta etos kerja," kenang Bang RAN.

Kehidupan di panti sangat terstruktur. Ada jadwal kerja bakti, kegiatan ibadah, bahkan aktivitas seperti bermain musik di hotel untuk mengasah mental dan kemampuan. Lingkungan inilah yang menanamkan nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan bersosialisasi yang menjadi bekal utamanya kelak.

Babak Baru: Perjuangan di Dunia Nyata

Setelah lulus SMK, harapan Bang RAN untuk melanjutkan kuliah harus terkubur. Kendala finansial membuatnya harus langsung terjun ke dunia kerja. Tanpa ijazah sarjana dan koneksi, dia memulai segalanya dari nol.

Bang RAN tidak memilih-milih pekerjaan. Dia melakoni apapun yang bisa menghasilkan uang. Mulai dari menjadi pelayan hotel yang bertugas mencuci piring, staf administrasi di perusahaan ternama, hingga menjadi pengemudi ojek online (Gojek) di bawah terik matahari.

"Setiap pekerjaan itu saya jalani dan syukuri. Namun, saat menjadi Gojek, ada sebuah momen yang mengubah cara pandang saya," tuturnya. "Saya sering berpikir saat mengantar makanan mahal, bagaimana caranya agar saya bisa berada di posisi mereka, yang bisa membeli tanpa terlalu khawatir soal harga."

Dari Kehancuran Finansial Hingga Menemukan Jalan

Dorongan untuk hidup lebih baik membawanya mencoba peruntungan di dunia online. Setelah gagal di beberapa model bisnis, dia menemukan trading. Namun, jalan ini justru membawanya ke jurang yang lebih dalam. Kurangnya pengetahuan membuatnya kehilangan segalanya seperti tabungan, barang berharga, dan bahkan membuatnya terjerat utang.

Di titik terendahnya, Bang RAN tidak menyerah. Didukung oleh kekasihnya yang kini menjadi istrinya, dia memutuskan untuk tidak lari dari kegagalan, melainkan mempelajarinya. Dia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mendalami kesalahannya, membangun strategi, dan mengubah pendekatannya dari spekulasi menjadi analisis yang matang.

Kerja keras itu akhirnya terbayar. Perlahan tapi pasti, dia berhasil membalikkan keadaan. Dari keuntungan trading, dia tak hanya melunasi semua utangnya, tetapi juga berhasil membangun stabilitas finansial yang dia impikan. Bang RAN mampu membiayai pernikahannya, membeli rumah, mobil, dan bahkan merintis beberapa bisnis lainnya.

Baca Juga: Bersyukur, Agatha Chelsea Rayakan Ultah ke-23 Bersama Anak-anak Panti Asuhan

Membayar Kembali Kebaikan

Kini, setelah mencapai kesuksesan, Bang RAN tidak melupakan dari mana dirinya berasal. Pengalaman pahitnya di dunia trading mendorongnya untuk mendirikan komunitas "RAN TRADE." Tujuannya mulia, yakni memberikan edukasi gratis agar orang lain tidak jatuh ke lubang yang sama.

"Ilmu ini saya dapatkan dengan cara yang sangat mahal. Saya tidak ingin orang lain mengalami kehancuran seperti saya dulu. Karena itu, saya bagikan semuanya secara gratis," ujarnya.

Bagi Bang RAN, hidupnya adalah sebuah siklus. Dulu dia dibantu oleh kebaikan orang lain di panti asuhan, kini dia dedikasikan untuk membantu orang lain melalui komunitasnya.

Dengan memegang teguh slogan "Tetap Rendah hati, biar Tuhan yang meninggikan," dia terus melangkah sebagai bukti bahwa tempaan hidup yang keras dapat menghasilkan pribadi yang tidak hanya kuat, tetapi juga bermanfaat bagi sesama.

 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.