Akurat

Grab Catat 3,7 Juta Mitra Pengemudi Terdaftar hingga Akhir 2025

Winna Wandayani | 28 Februari 2026, 09:45 WIB
Grab Catat 3,7 Juta Mitra Pengemudi Terdaftar hingga Akhir 2025
Gig Economy Kian Fleksibel, Grab Catat 3,7 Juta Mitra Pengemudi Terdaftar hingga Akhir 2025. (AKURAT.CO/Winna Wandayani)

AKURAT.CO Ekonomi digital Indonesia kian menegaskan peran layanan berbasis aplikasi dalam aktivitas harian masyarakat. Transportasi online, pesan-antar makanan, logistik, hingga layanan keuangan digital kini menjadi bagian penting penggerak ekonomi nasional.

Tren ini berjalan seiring pertumbuhan gig economy yang mengandalkan pola kerja fleksibel berbasis platform. Skema tersebut membuka peluang penghasilan tanpa ikatan jam kerja tetap, dengan profesi yang mencakup kreator konten hingga pengemudi ride-hailing.

Salah satu pelaku di sektor ini adalah Grab yang telah beroperasi di lebih dari 300 kota dan kabupaten sejak 2014. Studi ITB (2023) mencatat industri ride-hailing dan pengantaran menyumbang Rp382,62 triliun ke PDB 2022, sementara Oxford Economics (2024) menyebut Grab berkontribusi sekitar 50 persen.

Profil dan Pola Kerja Mitra

Data internal Grab per Desember 2025 mencatat ada 3,7 juta mitra pengemudi terdaftar. Namun yang aktif menyelesaikan minimal satu order per bulan sekitar 700-800 ribu orang atau 19-22 persen, dengan angka yang berubah sesuai kebutuhan mitra.

Sebagian besar mitra memanfaatkan platform sebagai penghasilan tambahan. Lebih dari 80 persen mitra roda dua dan sekitar 67 persen roda empat tidak menjadikannya sebagai sumber nafkah utama.

Pada segmen roda empat, sekitar 10-11 persen mengemudi sebagai pekerjaan utama dengan pendapatan di atas Rp10 juta per bulan dan rata-rata 11 order per hari. Sekitar 21-22 persen lainnya memperoleh Rp4-10 juta per bulan dengan rata-rata tujuh order per hari.

Sekitar sepertiga mitra roda empat mendapatkan tambahan Rp1-4 juta per bulan dengan durasi kerja 2-4 jam per hari. Adapun 34-35 persen lainnya hanya beroperasi sesekali dengan pendapatan hingga Rp1 juta per bulan.

Baca Juga: PP TUNAS Tuai Sorotan Tajam dari Pelaku Industri Digital

Gambaran serupa terlihat pada mitra roda dua. Hanya 1-2 persen berpenghasilan di atas Rp10 juta per bulan, sementara lebih dari 80 persen lainnya mengemudi secara paruh waktu dengan pola kerja fleksibel.

"Inilah wajah nyata gig economy di Indonesia: ruang penghasilan yang hadir sesuai kebutuhan, yaitu menjadi nafkah utama bagi sebagian dan penghasilan sampingan bagi kebanyakan," ujar Neneng Goenadi selaku CEO Grab Indonesia, saat acara konferensi pers di Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Ia menambahkan, kebijakan di platform dirancang mengikuti tingkat produktivitas masing-masing mitra.

Dalam sistem yang fleksibel diperlukan pendekatan proporsional karena mitra yang aktif dan konsisten membutuhkan dukungan berbeda dibanding mereka yang hanya beroperasi sesekali.

Inisiatif Apresiasi Mitra

Sejalan dengan program 'Grab untuk Indonesia' yang diperkenalkan Januari 2026, perusahaan menghadirkan berbagai bentuk apresiasi bagi mitra. Salah satunya pemberian 105 paket umrah gratis untuk mitra berprestasi dan inspiratif saat Ramadan.

Lima mitra pertama yang menerima paket tersebut berasal dari latar belakang beragam, termasuk mitra penyandang disabilitas dan penggerak komunitas lokal. Salah satunya, Syamsudin, mengaku tidak menyangka mendapat apresiasi tersebut.

"Saya jujur kaget dan tidak pernah menyangka perjalanan saya bersama Grab bisa sampai di titik ini. Saya merasa mendapatkan kesempatan yang berharga," katanya.

Fleksibilitas Jadi Kunci

Data tersebut menegaskan bahwa status terdaftar tidak selalu identik dengan tingkat produktivitas. Banyak mitra memanfaatkan platform secara adaptif, baik sebagai penopang utama ekonomi keluarga maupun sekadar tambahan penghasilan saat dibutuhkan.

Di tengah pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, model kerja fleksibel seperti ini diperkirakan akan tetap relevan. Tantangannya ke depan adalah menjaga keseimbangan antara fleksibilitas, perlindungan sosial dan keberlanjutan ekosistem agar manfaat ekonomi digital dapat dirasakan lebih luas dan merata.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.