Geo Dipa Usul PBB Tubuh Bumi Proyek Panas Bumi Dikaji Ulang

AKURAT.CO Pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) membutuhkan pengeboran hingga ke bawah permukaan bumi untuk mengambil energi.
Namun, aktivitas tersebut juga membawa konsekuensi fiskal berupa kewajiban Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) atas tubuh bumi.
PT Geo Dipa Energi (Persero) menilai ketentuan tersebut perlu dikaji kembali untuk mendukung keekonomian proyek energi baru dan terbarukan (EBT).
Baca Juga: Operasional PLTP Gunung Ungaran Tak Butuh Air Besar
Direktur Utama Geo Dipa Energi, Yudistian Yunis mengatakan kebutuhan lahan di permukaan untuk proyek panas bumi relatif terbatas. Ia mencontohkan proyek dengan kapasitas 55 megawatt yang membutuhkan pembukaan lahan sekitar 2 hektare hingga 5 hektare di kawasan hutan.
Namun, ketika pengeboran dilakukan untuk mengambil energi panas bumi di bawah permukaan, muncul kewajiban PBB atas tubuh bumi.
"Begitu kami bor ke dalam dan kami bangkitkan 55, maka (Kementerian) Kehutanan bilang, Anda buka bagian atas tapi Anda ambil energi di bawah, Anda harus kena pajak tubuh bumi. Jadi dianggap PBB-nya," kata Yudistian dalam Media Gathering bersama Kementerian Keuangan di Bogor, Jumat (2/10/2026).
Menurut dia, persoalan tersebut menjadi salah satu komponen yang membuat beban fiskal proyek panas bumi cukup besar.
Secara keseluruhan, Yudistian menyebut beban fiskal proyek panas bumi mencapai hampir 40%. Komponen yang dihitung antara lain PNBP, PBB tubuh bumi, pajak air permukaan, bonus produksi, dan retribusi daerah.
Baca Juga: PGEO Memulai Pengeboran Sumur Kedua untuk Pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3
Struktur tersebut menjadi perhatian Geo Dipa karena proyek panas bumi memiliki karakteristik berbeda dengan kegiatan pemanfaatan lahan pada umumnya. Pengembang membutuhkan area permukaan untuk membangun fasilitas, sementara sumber energi yang dimanfaatkan berada di bawah tanah.
Atas kondisi itu, Geo Dipa bersama Kementerian Keuangan tengah melihat kemungkinan membangun kerangka netralisasi fiskal. Salah satu opsi yang disampaikan adalah pengurangan PBB tubuh bumi.
"Kemungkinan yang bisa kita sampaikan adalah membangun framework menetralkan fiskal sehingga mungkin pengurangan PBB," ujar Yudistian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 4Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 5Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 6Tanpa Sponsor 'Palsu' Rp19,69 Triliun, Manchester City Mungkin Tanpa Aguero dan Silva
- 7Hasil Indonesia vs Bangladesh 9-2, Cek Jadwal Garuda di Final FIFA ASEAN Cup 2026!
- 8Prediksi Spanyol vs Kroasia di UEFA Nations League: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah




