Akurat Logo

Bulog Salurkan 4,5 Juta Ton Beras di 2026 untuk Jaga Harga Pangan

Esha Tri Wahyuni | 18 September 2026, 14:16 WIB
Bulog Salurkan 4,5 Juta Ton Beras di 2026 untuk Jaga Harga Pangan
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani

AKURAT.CO Pemerintah mengerahkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dalam skala besar pada 2026 untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan pasokan beras tetap tersedia di tengah potensi tekanan akhir tahun. 

Perum Bulog mencatat total penugasan pemerintah melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta bantuan pangan beras diperkirakan mendekati 4,5 juta ton sepanjang tahun ini.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, dua instrumen tersebut menjadi andalan pemerintah dalam mengendalikan harga sekaligus menjaga keterjangkauan beras bagi masyarakat.

Baca Juga: Bulog Siapkan Tambahan 75 Ribu Ton Beras untuk NTT

"Kami terus mengoptimalkan dua instrumen utama pemerintah dalam pengendalian harga beras, yakni penyaluran beras SPHP serta bantuan pangan beras untuk memperkuat pasokan sekaligus menjaga keterjangkauan beras bagi masyarakat," kata Rizal dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9/2026).

Menurutnya, dukungan stok beras yang kuat dan jaringan pergudangan yang tersebar di seluruh Indonesia memungkinkan penyaluran dilakukan secara masif dari Sabang sampai Merauke.

"Beras SPHP dan bantuan pangan bergerak melalui dua jalur yang saling melengkapi. SPHP memperkuat pasokan di tingkat konsumen, sementara bantuan pangan langsung menjangkau keluarga penerima manfaat," ujarnya.

Bulog mencatat target awal penyaluran SPHP tahun ini mencapai 828 ribu ton. Pemerintah kemudian menambah alokasi SPHP sebesar 1 juta ton. 

Di sisi lain, bantuan pangan beras disalurkan dalam beberapa tahap, yakni Februari-Maret sebesar 664.888 ton, Juli-September sebanyak 997.332 ton, serta Oktober-Desember yang diperkirakan kembali mencapai sekitar 997 ribu ton.

Jika seluruh penugasan tersebut direalisasikan, total penggunaan CBP pada 2026 mendekati 4,5 juta ton. Angka tersebut menjadi salah satu volume intervensi pangan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.