Akurat Logo

Panas Bumi Gunung Ungaran Tekan Emisi, Jauh Lebih Rendah daripada Bahan Bakar Fosil

Yosi Winosa | 15 September 2026, 21:11 WIB
Panas Bumi Gunung Ungaran Tekan Emisi, Jauh Lebih Rendah daripada Bahan Bakar Fosil
Ilustrasi pembangkit listrik panas bumi

AKURAT.CO Guru Besar Fisika Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Dr. Eng. Agus Setyawan menilai pengembangan panas bumi Gunung Ungaran berpotensi mendukung pengurangan emisi sektor ketenagalistrikan sekaligus memperkuat pemanfaatan energi rendah karbon.

“Secara umum rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi menghasilkan emisi gas rumah kaca seperti CO2, SOx, NOx, dan partikulat yang sangat rendah dibandingkan pembangkit berbasis bahan bakar fosil,” kata Agus saat dihubungi di Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Agus yang juga memiliki keilmuan di bidang fisika, khususnya geofisika dan geotermal, menjelaskan panas bumi memanfaatkan panas dari dalam bumi untuk menghasilkan listrik. “Karakteristik sumber panas dan teknologi yang digunakan menjadi faktor penting dalam menentukan kinerja pembangkit dan tingkat emisinya,” katanya.

Baca Juga: Pakar UNDIP: PLTP Gunung Ungaran Berpotensi Dorong Ekonomi dan Kualitas Lingkungan

Panas bumi, lanjut Agus, memiliki peluang untuk mendukung penggunaan energi yang lebih rendah karbon. “Sumber energi ini juga dapat membantu memperkuat keragaman sumber listrik sehingga kebutuhan energi tidak hanya bergantung pada satu jenis pembangkit,” kata Agus yang saat ini punya home base di Program Studi Doktor Energi (DE), Sekolah Pascasarjana Undip.

Agus menjelaskan fluida panas bumi yang berasal dari reservoir dapat membawa gas alami seperti karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S). “Namun, jumlah emisi yang dihasilkan dapat berbeda-beda, tergantung pada karakteristik fluida dan teknologi pembangkit yang digunakan,” katanya.

Untuk itu, lanjutnya, pengelolaan sumber daya menjadi bagian penting dalam pengembangan panas bumi. “Salah satunya adalah pengelolaan fluida yang telah digunakan dalam proses pembangkitan. Fluida yang sudah tidak digunakan akan direinjeksikan kembali ke reservoir sehingga akan mengurangi pembuangan limbah berbahaya yang merusak ekosistem,” jelasnya.

Menurut Agus, pengelolaan reservoir secara berkelanjutan akan menentukan seberapa lama sumber panas bumi dapat dimanfaatkan. “Dengan pengelolaan yang baik, panas bumi dapat menjadi sumber listrik yang andal sekaligus membantu menekan emisi,” tuturnya.

Hal tersebut, menurut dia, dapat dilihat dari pengalaman pengembangan panas bumi di Kamojang, Jawa Barat. “Jika PLTP bisa dijaga keberlanjutannya (sustainability) dalam jangka panjang seperti di PLTP Kamojang yang sudah berumur 100 tahun, maka keberadaannya tidak akan mengurangi kualitas udara, minim dampak masalah kesehatan akibat polutan dan dapat mengurangi kontribusi terhadap pemanasan global,” ujarnya.

Untuk Gunung Ungaran, Agus menilai hasil eksplorasi dan kajian yang memadai akan menjadi dasar penting untuk menentukan langkah pengembangan berikutnya. Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai karakteristik sumber panas bumi di bawah permukaan serta potensi pemanfaatannya.

Dengan pendekatan berbasis data, potensi Gunung Ungaran dapat dinilai secara lebih menyeluruh, bukan hanya dari jumlah listrik yang mungkin dihasilkan, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pengurangan emisi dan penguatan energi rendah karbon. “Pada saat yang sama, keberlanjutan reservoir dan pengelolaan lingkungan menjadi bagian penting agar manfaat energi panas bumi dapat dipertahankan dalam jangka panjang,” tuturnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.