Lonjakan Harga Timah Dorong Laba TINS Tembus Rp1,3 Triliun dan Lampau Target

AKURAT.CO Kenaikan harga timah global yang dipicu oleh permintaan dari industri semikonduktor dan teknologi transisi energi telah memberi dorongan signifikan bagi kinerja keuangan PT Timah (Persero) Tbk. (TINS), sekaligus menutupi tekanan pada sisi produksi yang masih terhambat faktor domestik.
Perusahaan pelat merah tersebut membukukan laba bersih Rp1,31 triliun pada 2025, sekitar 119% di atas target internal, di tengah harga rata-rata timah di London Metal Exchange yang naik 13% menjadi sekitar USD34.120 per ton.
Kinerja ini mencerminkan sensitivitas tinggi industri terhadap siklus harga komoditas global, terutama ketika pasokan mulai mengetat. Ke depan, perseroan akan fokus ke penguatan tata kelola pertimahan, optimalisasi kinerja operasi, pemasaran, dan keuangan.
Baca Juga: TINS Groundbreaking Proyek Logam Tanah Jarang Bulan Depan, Prabowo Direncanakan Hadir
"Pada tahun 2025 Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp1,31 triliun atau mencapai 119 persen dari target yang telah ditetapkan dalam RKAP 2025," ujar Restu Widiyantoro, Direktur Utama TINS.
Pendapatan meningkat moderat 6,4% menjadi Rp11,55 triliun, namun kenaikan biaya produksi yang lebih cepat, naik 8,4%, menunjukkan tekanan struktural yang belum sepenuhnya teratasi.
Meski demikian, perusahaan masih mencatat laba usaha Rp1,91 triliun dan EBITDA Rp2,76 triliun, mengindikasikan disiplin biaya yang relatif terjaga.
Di sisi neraca, total aset naik menjadi Rp13,64 triliun, sementara rasio utang tetap konservatif. Upaya pengurangan utang berbunga, termasuk melalui pembelian kembali surat utang jangka menengah, membantu menekan beban bunga dan memperkuat posisi likuiditas.
Namun, di balik perbaikan finansial, kinerja operasional menunjukkan cerita berbeda. Produksi bijih timah turun 4% menjadi 18.635 ton, sementara produksi logam dan volume penjualan masing-masing melemah 6% dan 5%.
Perusahaan mengaitkan penurunan ini dengan maraknya penambangan ilegal serta resistensi masyarakat terhadap pembukaan area tambang baru, dua isu kronis yang terus membayangi sektor pertambangan Indonesia.
Ketergantungan tinggi pada pasar ekspor, sekitar 95% dari total penjualan, menempatkan perusahaan pada dinamika permintaan global. Singapura, Korea Selatan, dan Jepang menjadi tujuan utama, menegaskan peran Asia dalam rantai pasok elektronik global.
Secara keseluruhan, kontribusi perusahaan mencapai sekitar seperempat ekspor timah Indonesia.
Prospek ke depan tetap konstruktif, meski tidak tanpa risiko. Proyeksi harga timah pada 2026 berada dalam rentang lebar, antara USD33.500 hingga USD48.750 per ton, menurut data Bloomberg.
Sementara itu, World Bank memperkirakan rata-rata harga di kisaran USD34.000 per ton, menunjukkan ekspektasi stabilitas dengan potensi volatilitas. Permintaan diperkirakan tetap kuat, didorong oleh ekspansi industri elektronik, chip, dan kecerdasan buatan.
Di sisi pasokan, gangguan dari negara produsen utama, termasuk Indonesia, Myanmar, dan Republik Demokratik Kongo, berpotensi mempertahankan kondisi pasar yang ketat.
Menghadapi dinamika tersebut, PT Timah menargetkan pemulihan kapasitas produksi secara agresif pada 2026, sembari mempercepat strategi hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah.
Digitalisasi operasional dan agenda keberlanjutan juga menjadi fokus, mencerminkan tekanan investor global terhadap praktik ESG di sektor ekstraktif.
Meski momentum harga memberikan bantalan jangka pendek, tantangan struktural, dari tata kelola tambang hingga penerimaan sosial, akan menentukan apakah kinerja impresif tahun ini dapat berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK









