Ini Bekal Yang Diperlukan Dirut Baru Garuda Indonesia Untuk Selamatkan Perusahaan

AKURAT.CO Menghadapi tekanan keuangan yang semakin memburuk, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) tengah berjuang untuk membalikkan kerugian yang meningkat sebesar 81,29% pada kuartal III tahun 2024 menjadi USD131,22 juta.
Kehadiran dirut baru, Wamildan Tsani Panjaitan pada pucuk kepemimpinan pun diharapkan bisa menghadirkan perspektif baru dalam mengatasi tantangan ini.
Salah satu kualifikasi yang sangat penting bagi dirut baru adalah pengalaman yang mendalam dalam manajemen strategis. Pengalaman yang luas dalam menyusun dan mengelola strategi pemulihan bisnis sangat diperlukan untuk mengatasi kerugian perusahaan yang besar.
Baca Juga: Irfan Setiaputra, Eks Dirut Garuda Indonesia Pamit
Garuda memerlukan pemimpin yang tidak hanya berfokus pada aspek operasional, tetapi juga memiliki pemahaman di bidang keuangan serta pengembangan bisnis untuk memperbaiki arus kas, menekan beban biaya, dan mencari peluang pendapatan tambahan.
Tak hanya itu saja, dirut baru Garuda juga harus memiliki pemahaman mendalam mengenai model bisnis Full-Service Carrier (FSC). Berbeda dengan maskapai LCC (Low-Cost Carrier) yang mengutamakan efisiensi biaya, FSC mengedepankan layanan premium, seperti kenyamanan kabin, fasilitas makanan dan minuman, serta pelayanan pelanggan yang lengkap.
Oleh sebab itu, pemimpin baru perlu merumuskan strategi yang mampu menjaga nilai layanan premium Garuda tanpa menaikkan biaya yang sudah membebani perusahaan. Ini berarti bahwa ia harus mencari cara untuk mempertahankan kepuasan pelanggan sekaligus menyeimbangkan biaya operasional.
Selain itu, keterampilan dalam mengelola krisis keuangan adalah hal yang sangat penting bagi dirut baru. Dengan kondisi keuangan yang penuh tantangan, Garuda membutuhkan strategi penyelamatan yang komprehensif.
Ini mencakup langkah-langkah seperti optimalisasi beban operasional, restrukturisasi utang, serta mengeksplorasi sumber pendanaan alternatif guna memperkuat modal perusahaan. Bahkan ditengah situasi ini, dirut baru diharapkan mampu membangun hubungan baik dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga keuangan, dan pemegang saham.
Dukungan dari pemerintah juga akan berperan penting dalam keberlangsungan Garuda sebagai maskapai nasional, khususnya dalam hal restrukturisasi utang dan dukungan likuiditas.
Pemimpin Garuda juga harus siap beradaptasi dengan perubahan eksternal yang cepat. Pandemi Covid-19 dan ketidakpastian ekonomi global telah mengubah industri penerbangan secara drastis, sehingga kemampuan adaptasi terhadap fluktuasi harga bahan bakar, regulasi internasional, dan tren perjalanan menjadi sangat penting.
Kemampuan ini sangat diperlukan agar dirut dapat menghadapi lingkungan yang dinamis dan menerapkan kebijakan yang sesuai dengan kondisi pasar yang terus berubah.
Sebagai maskapai internasional, Garuda juga memerlukan dirut yang memiliki pemahaman mengenai pasar global dan kemampuan dalam menjaga hubungan dengan mitra internasional, baik dalam hal operasional maupun pemasaran.
Dengan jaringan internasional yang kuat, Garuda dapat mengoptimalkan rute penerbangan global yang berpotensi meningkatkan pendapatan perusahaan.
Di samping itu, Dirut baru perlu membangun kemitraan strategis dengan maskapai lain sehingga Garuda tetap kompetitif dan dapat memberikan pengalaman terbang yang baik bagi pelanggan internasionalnya.
Di era digital, kepemimpinan yang mampu membawa transformasi digital di Garuda juga sangat dibutuhkan. Teknologi digital, seperti sistem manajemen reservasi, aplikasi mobile, dan layanan pelanggan yang otomatis, dapat meningkatkan efisiensi biaya operasional sekaligus meningkatkan kepuasan pelanggan.
Dirut baru harus siap berinvestasi pada teknologi yang dapat memperkuat efisiensi dan performa layanan. Misalnya, adopsi teknologi penghematan bahan bakar atau pelacakan aset pesawat bisa menjadi bagian dari langkah-langkah untuk mengurangi biaya. Big data dan analitik juga dapat menjadi alat yang penting dalam perencanaan rute yang lebih efisien dan responsif terhadap permintaan pasar.
Tidak kalah penting, pemimpin Garuda harus mampu membangun budaya kerja yang kuat dan kolaboratif di seluruh lapisan organisasi. Tantangan keuangan dan operasional yang dihadapi Garuda menuntut adanya budaya kerja yang kondusif, dengan komunikasi dan kolaborasi yang baik antar-divisi untuk memastikan proses adaptasi berjalan lebih cepat.
Pemimpin baru perlu menciptakan suasana di mana setiap karyawan merasa didengar dan dilibatkan dalam perbaikan perusahaan, sehingga bisa mendorong lahirnya ide-ide inovatif dari dalam perusahaan yang bisa berkontribusi pada perbaikan layanan dan operasional Garuda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










