Pembubaran Diskusi di UGM Dinilai Bertentangan dengan Tradisi Akademik

AKURAT.CO Pembubaran diskusi yang berlangsung di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, mendapat sorotan dari bebagai pihak.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, menilai, tindakan tersebut tidak mencerminkan karakter dan tradisi akademik yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan kampus.
Ia pun menyayangkan adanya aksi pembubaran terhadap forum diskusi yang seharusnya menjadi ruang pertukaran gagasan.
Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi.
Namun, perbedaan itu seharusnya disikapi melalui dialog, argumentasi, dan diskusi yang sehat, bukan dengan tindakan yang mengarah pada intimidasi atau pembungkaman.
"Memaksakan pendapat, merasa paling benar, dan bertindak anarkis bukanlah sifat seorang mahasiswa. Kampus adalah ruang intelektual yang dibangun di atas kebebasan berpikir dan kebebasan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab," kata Iwan dalam keterangannya, Selasa (16/6/2026).
Ia menegaskan mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kelompok intelektual yang dituntut mengedepankan rasionalitas dalam menyikapi setiap perbedaan pendapat.
Karena itu, gagasan yang dianggap keliru seharusnya dilawan dengan argumentasi dan pemikiran yang lebih kuat, bukan dengan upaya membungkam pihak lain.
"Mahasiswa itu mengedepankan intelektualitas, rasionalitas, dan nilai-nilai demokrasi. Jika ada pandangan yang tidak disetujui, maka jawabannya adalah diskusi, debat, dan argumentasi yang sehat, bukan tindakan yang menghalangi kebebasan akademik," ujarnya.
Iwan juga mengingatkan pentingnya menjaga tradisi intelektual di kampus sebagai bagian dari proses pembelajaran demokrasi.
Menurutnya, ruang akademik yang terbuka akan mendorong lahirnya budaya berpikir kritis sekaligus memperkuat kualitas demokrasi di Indonesia.
"Perbedaan pendapat tidak boleh menjadi alasan untuk menutup ruang dialog. Justru dalam perbedaan itulah mahasiswa belajar menghargai demokrasi, menguji gagasan, dan mencari kebenaran secara ilmiah," tegasnya.
Baca Juga: Ogah Hadap Kamera di Sesi Foto Piala Dunia 2026, Marcelo Bielsa: Saya Bukan Model!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat










