Rupiah Anjlok, Djarot Minta Pemerintah Tak Remehkan Beban Rakyat

AKURAT.CO Melemahnya nilai tukar rupiah yang disebut telah menembus level Rp17.800 per dolar AS memicu beragam respons dari kalangan politik.
Ketua DPP PDI Perjuangan, Djarot Saiful Hidayat, menilai, dampak pelemahan rupiah tidak bisa dianggap sepele karena berimbas langsung pada harga kebutuhan masyarakat.
Djarot menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menyebut masyarakat di pedesaan tidak terdampak langsung oleh penguatan dolar AS karena tidak melakukan transaksi menggunakan mata uang tersebut.
Menurut Djarot, pandangan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi yang terjadi di lapangan.
Ia menegaskan bahwa dampak pelemahan rupiah tetap dirasakan masyarakat desa melalui kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.
"Kalau rakyat desa tidak menggunakan dolar memang benar. Tetapi persoalannya, kenaikan nilai dolar berpengaruh terhadap harga barang yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari," kata Djarot kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (30/5/2026).
Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu mencontohkan para pelaku usaha kecil, khususnya pengrajin tahu dan tempe, yang mulai tertekan akibat kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku utama.
Baca Juga: Safari Politik Jokowi Dinilai Tak Akan Melemahkan Kekuatan PDIP
Menurutnya, ketergantungan Indonesia terhadap impor sejumlah komoditas membuat fluktuasi kurs rupiah sulit dihindari dampaknya terhadap sektor usaha dan konsumsi masyarakat.
"Pengusaha tahu dan tempe sudah mulai menjerit karena harga kedelai naik. Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin banyak usaha kecil yang kesulitan bertahan," ujarnya.
Djarot menilai keterhubungan ekonomi global membuat perubahan nilai tukar mata uang asing memiliki konsekuensi langsung terhadap perekonomian domestik.
Kenaikan harga bahan baku impor pada akhirnya akan diteruskan menjadi kenaikan harga barang di tingkat konsumen.
Karena itu, ia menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya menjadi persoalan pelaku usaha besar atau masyarakat perkotaan, tetapi juga berdampak hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
"Harga dolar yang naik akan memengaruhi harga kebutuhan pokok. Artinya, dampaknya dirasakan semua kalangan, termasuk masyarakat desa," tegasnya.
Djarot pun meminta pemerintah memberikan penjelasan yang lebih komprehensif kepada publik mengenai kondisi ekonomi saat ini serta langkah-langkah yang disiapkan untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan nilai tukar.
"Secara langsung maupun tidak langsung, semua masyarakat terdampak. Karena itu pemerintah perlu menjelaskan situasi ini secara utuh agar masyarakat memahami kondisi yang sebenarnya," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 4UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 5Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 6Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 7Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 8Saran Meningkatkan Kualitas dan Pemanfaatan Buku Teks dalam Pembelajaran
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon
- 10Hakim Tolak Batalkan Dakwaan Febrie Adriansyah, Perkara Emas 74 Kilogram dan Valas Dilanjutkan ke Pembuktian







