Akurat Logo

Kenapa Masyarakat Indonesia Tidak Bisa Berbahasa Belanda Meski Dijajah Ratusan Tahun?

Redaksi Akurat | 22 Oktober 2026, 22:05 WIB
Kenapa Masyarakat Indonesia Tidak Bisa Berbahasa Belanda Meski Dijajah Ratusan Tahun?
Kenapa Masyarakat Indonesia Tidak Bisa Berbahasa Belanda Meski Dijajah Ratusan Tahun?

AKURAT.CO Indonesia pernah berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda selama berabad-abad. Namun, berbeda dengan sejumlah negara bekas jajahan yang masih menggunakan bahasa penjajahnya secara luas, bahasa Belanda tidak menjadi bahasa sehari-hari mayoritas masyarakat Indonesia.

Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan: kenapa masyarakat Indonesia tidak bisa berbahasa Belanda meskipun pernah dijajah Belanda dalam waktu yang sangat lama?

Jawabannya berkaitan dengan kebijakan pendidikan kolonial, posisi bahasa Melayu di Nusantara, serta perubahan politik menjelang dan setelah kemerdekaan Indonesia.

Bahasa Belanda memang pernah digunakan dalam pemerintahan, pendidikan, dan lingkungan masyarakat tertentu. Namun, kesempatan untuk mempelajarinya tidak tersebar secara merata. Setelah Indonesia merdeka, bahasa Indonesia semakin kuat sebagai bahasa negara dan bahasa pengantar pendidikan.

Baca Juga: Jadi Nicolas di Film 'Merindu Cahaya de Amstel', Bryan Domani Kesulitan Berbahasa Belanda

Akses Pendidikan Bahasa Belanda Terbatas

Salah satu alasan bahasa Belanda tidak menjadi bahasa mayoritas masyarakat Indonesia adalah terbatasnya akses terhadap pendidikan kolonial.

Pada masa Hindia Belanda, terdapat sekolah yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Namun, kesempatan untuk mengenyam pendidikan tersebut tidak sama bagi semua kelompok masyarakat.

Sekolah-sekolah bergaya Eropa pada awalnya terutama dapat diakses oleh orang Eropa dan kelompok elite tertentu. Perluasan pendidikan bagi penduduk pribumi berlangsung secara bertahap, tetapi tetap menghadapi berbagai ketimpangan.

Penelitian sejarawan ekonomi Ewout Frankema berjudul Why Was the Dutch Legacy So Poor? Educational Development in the Netherlands Indies, 1871–1942 menjelaskan bahwa perkembangan pendidikan pada masa kolonial terkendala oleh terbatasnya komitmen pembiayaan dan ketimpangan alokasi dana pendidikan.

Akibatnya, tidak semua penduduk memiliki kesempatan untuk belajar bahasa Belanda melalui sekolah formal.

Penguasaan bahasa tersebut pun lebih banyak ditemukan pada kalangan terdidik, pegawai pemerintahan kolonial, dan kelompok masyarakat yang memiliki akses terhadap pendidikan Eropa.

Bahasa Melayu Sudah Menjadi Bahasa Penghubung

Jauh sebelum bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa negara, bahasa Melayu telah digunakan sebagai sarana komunikasi di berbagai wilayah Nusantara.

Wilayah Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah. Masyarakat dari daerah yang berbeda membutuhkan bahasa penghubung untuk berdagang, berinteraksi di pelabuhan, dan melakukan kegiatan sosial.

Dalam konteks tersebut, bahasa Melayu berfungsi sebagai lingua franca, yakni bahasa perantara yang memungkinkan orang-orang dengan bahasa ibu berbeda berkomunikasi.

Kajian akademik mengenai masyarakat multibahasa di Hindia Belanda yang diterbitkan Cambridge University Press menjelaskan bahwa bahasa Melayu digunakan oleh masyarakat Nusantara sekaligus oleh orang Eropa untuk berkomunikasi dengan penduduk setempat.

Keberadaan bahasa penghubung ini membuat pemerintah kolonial tidak harus menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa sehari-hari seluruh penduduk agar dapat menjalankan berbagai urusan pemerintahan dan perdagangan.

Dengan demikian, bahasa Belanda dan bahasa Melayu memiliki fungsi yang berbeda. Bahasa Belanda digunakan dalam sejumlah lingkungan pendidikan dan administrasi, sedangkan bahasa Melayu memiliki jangkauan komunikasi yang lebih luas di tengah masyarakat.

Bahasa Belanda Lebih Banyak Digunakan oleh Kalangan Terdidik

Meskipun tidak menjadi bahasa mayoritas, bahasa Belanda memiliki kedudukan penting pada masa kolonial.

Bahasa tersebut digunakan dalam sejumlah sekolah, lembaga pemerintahan, serta lingkungan profesional tertentu. Kemampuan berbahasa Belanda juga dapat membuka peluang melanjutkan pendidikan ke Belanda atau memperoleh pekerjaan dalam pemerintahan kolonial.

Penelitian Martin Everaert, Anne-France Pinget, dan Dorien Theuns berjudul Speaking Dutch in Indonesia: Language and Identity mendokumentasikan pengalaman orang-orang Indonesia yang mempelajari bahasa Belanda sejak usia dini sebelum 1945.

Sebagian dari mereka bahkan menggunakan bahasa Belanda di lingkungan keluarga. Namun, kelompok tersebut tidak mewakili seluruh penduduk Indonesia.

Temuan itu memperlihatkan bahwa penggunaan bahasa Belanda di Indonesia sebenarnya cukup beragam. Ada masyarakat yang menguasainya secara aktif, ada yang mempelajarinya di sekolah, dan ada pula yang tidak memiliki kesempatan untuk mempelajarinya sama sekali.

Karena akses pendidikan dan penggunaannya terkonsentrasi pada lingkungan tertentu, bahasa Belanda tidak berkembang menjadi bahasa ibu atau bahasa sehari-hari mayoritas penduduk.

Pendudukan Jepang Mempersempit Penggunaan Bahasa Belanda

Perubahan besar terhadap kedudukan bahasa Belanda terjadi ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942.

Pemerintah pendudukan Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda di ruang publik maupun privat. Kebijakan tersebut membuat bahasa Belanda kehilangan ruang penggunaannya dalam kehidupan masyarakat.

Pada saat yang sama, bahasa Indonesia memperoleh ruang yang lebih besar dalam komunikasi publik. Jepang membutuhkan bahasa yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan penduduk di wilayah pendudukannya, sementara bahasa Belanda dipandang berkaitan dengan kekuasaan kolonial yang baru saja mereka kalahkan.

Kajian tentang bahasa nasional dan bahasa resmi di kawasan Asia-Pasifik yang diterbitkan University of Technology Sydney mencatat bahwa pemerintah Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda setelah menduduki Hindia Belanda pada 1942.

Perubahan tersebut mempercepat berkurangnya penggunaan bahasa Belanda dalam berbagai bidang kehidupan. Bahasa Indonesia kemudian semakin menonjol sebagai alat komunikasi lintas kelompok masyarakat.

Bahasa Indonesia Telah Menjadi Simbol Persatuan Sebelum Merdeka

Bahasa Indonesia tidak baru muncul setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Sebelum kemerdekaan, para tokoh pergerakan nasional telah menjadikan bahasa Indonesia sebagai simbol persatuan di tengah keberagaman suku dan bahasa daerah.

Salah satu tonggak pentingnya adalah Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Dalam ikrar tersebut, para pemuda menyatakan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Pilihan terhadap bahasa Indonesia memiliki arti penting karena bahasa persatuan dapat digunakan untuk membangun identitas bersama tanpa mengharuskan seluruh masyarakat meninggalkan bahasa daerah masing-masing.

Bahasa Indonesia juga berkembang dalam pers, organisasi pergerakan, dan berbagai bentuk komunikasi antardaerah. Kedudukannya tidak semata-mata ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh gerakan sosial dan politik masyarakat Indonesia.

Dengan demikian, ketika Indonesia merdeka, bahasa Indonesia telah memiliki landasan sosial dan politik yang kuat untuk menjadi bahasa nasional.

Baca Juga: Belajar Bahasa Indonesia, Kippersluis Temukan Kemiripan dengan Bahasa Belanda

Setelah Merdeka, Bahasa Belanda Digantikan dalam Pendidikan dan Administrasi

Setelah Indonesia merdeka, penggunaan bahasa Belanda semakin menurun, terutama dalam pendidikan dan administrasi pemerintahan.

Penelitian Natasia Nadia dan R. Achmad Sunjayadi berjudul Dutch Language in Education in Post Sovereignty Indonesia: 1949–1950s menjelaskan bahwa setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949, bahasa Belanda tidak lagi memiliki tempat yang sama sebagai bahasa administrasi dan bahasa pengantar pendidikan. Bahasa Indonesia menggantikannya dalam berbagai fungsi tersebut.

Perubahan itu penting karena sekolah, lembaga pemerintahan, dan media merupakan lingkungan yang berperan besar dalam mempertahankan penggunaan suatu bahasa.

Ketika bahasa Indonesia digunakan secara luas dalam pendidikan dan administrasi, generasi baru semakin terbiasa menggunakan bahasa Indonesia untuk kegiatan formal maupun sehari-hari.

Sebaliknya, kesempatan untuk menggunakan bahasa Belanda semakin berkurang. Bahasa tersebut tetap dikuasai oleh sebagian orang Indonesia, terutama mereka yang telah mempelajarinya sejak masa kolonial, tetapi tidak lagi menjadi kebutuhan komunikasi bagi sebagian besar penduduk.

Apakah Bahasa Belanda Benar-Benar Hilang dari Indonesia?

Tidak. Bahasa Belanda tidak sepenuhnya hilang dari Indonesia, meskipun penggunaannya jauh lebih terbatas dibandingkan pada masa kolonial.

Sebagian orang Indonesia masih menguasai bahasa Belanda, baik karena latar belakang keluarga, pendidikan, pekerjaan, maupun kepentingan penelitian dan bisnis.

Selain itu, pengaruh bahasa Belanda dapat ditemukan dalam sejumlah kosakata bahasa Indonesia yang digunakan sampai sekarang.

Contohnya adalah kata-kata berikut:

  • Kantor, yang berkaitan dengan bahasa Belanda kantoor.

  • Polisi, yang berkaitan dengan bahasa Belanda politie.

  • Apotek, yang berkaitan dengan bahasa Belanda apotheek.

  • Bioskop, yang berkaitan dengan bahasa Belanda bioscoop.

  • Setrika, yang berkaitan dengan kata Belanda strijkijzer.

  • Sekrup, yang berkaitan dengan bahasa Belanda schroef.

Bentuk kata tersebut telah mengalami penyesuaian ejaan dan pelafalan dalam bahasa Indonesia. Karena sudah digunakan selama beberapa generasi, banyak orang tidak lagi menyadari bahwa sejumlah kata yang akrab dalam kehidupan sehari-hari memiliki hubungan dengan bahasa Belanda.

Warisan kolonial dalam bahasa juga dapat terlihat pada istilah tertentu di bidang hukum, administrasi, dan pendidikan.

Dengan kata lain, pengaruh bahasa Belanda masih bertahan, tetapi tidak berarti masyarakat Indonesia harus mampu berbicara bahasa Belanda untuk menggunakan kosakata yang berasal darinya.

Masyarakat Indonesia tidak secara luas menggunakan bahasa Belanda meskipun pernah berada di bawah kekuasaan kolonial selama berabad-abad karena penjajahan tidak otomatis membuat bahasa penjajah menjadi bahasa sehari-hari penduduk.

Akses pendidikan bahasa Belanda yang tidak merata, keberadaan bahasa Melayu sebagai bahasa penghubung, serta perubahan kebijakan pada masa pendudukan Jepang menjadi beberapa faktor penting.

Setelah kemerdekaan, bahasa Indonesia semakin kuat melalui pendidikan, administrasi pemerintahan, dan kehidupan sosial. Kedudukannya sebagai bahasa persatuan juga telah dibangun sejak masa pergerakan nasional.

Karena itu, fenomena ini bukan berarti masyarakat Indonesia sama sekali tidak pernah menguasai bahasa Belanda. Bahasa tersebut pernah dipelajari dan digunakan oleh kelompok tertentu, tetapi tidak berkembang menjadi bahasa utama mayoritas penduduk.

Hingga kini, jejak bahasa Belanda masih dapat ditemukan dalam kosakata bahasa Indonesia dan sejumlah istilah yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Taqiyuddin Abdurrahman Leboe (Magang)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R